
“Ammar! Jaga sikapmu!” Bentak Yusuf yang tiba-tiba datang bersama Anita.
Ammar sontak berbalik menghadap Yusuf dan Anita. “Papa? Mama? Kenapa bisa ada di sini?”
Yusuf mengabaikan pertanyaan Ammar dan berjalan mendekati mereka. “Ada apa sebenarnya?”
“Ammar menjatuhkan talak kepada Jihan dan memulangkannya kepada kami.” Sahut Arif.
“Astaghfirullahalladzim!” Seru Yusuf dan Anita bersamaan.
“Apa-apaan kau ini? Kau sudah enggak waras, ya?” Yusuf menatap tajam putranya itu. “Kalian baru menikah dua minggu dan kau sudah menjatuhkan talak!”
“Pa, dia sudah mengkhianati aku! Dia selingkuh di belakangku!” Jawab Ammar. “Kalau Papa enggak percaya, aku ada buktinya.”
Ammar menunjukkan dua foto Jihan tadi, sama seperti Arif dan Salma, Yusuf serta Anita pun terkejut bukan main. Mereka langsung menatap Jihan yang berada di pelukan Salma.
“Jihan ... apa ini benar, Nak?” Tanya Anita.
Jihan menggeleng dengan mata yang menganak sungai. “Aku enggak pernah selingkuh, Ma. Aku enggak tahu bagaimana bisa berada di sana, sebelumnya aku hanya ingat kepalaku pusing saat di kafe. Setelah itu aku enggak tahu apa-apa lagi.”
Anita menautkan kedua alisnya. “Kafe? Bersama siapa?”
“Teman sekolahku, Ma.”
Anita pun memandang Yusuf dengan tatapan yang sulit diartikan.
“Tapi Mama dan Papa lihat sendiri kan dia masuk ke dalam hotel? Dia pasti berbohong!” Ujar Ammar.
“Papa rasa ini ada yang enggak beres.” Yusuf angkat bicara.
__ADS_1
“Mama juga berpikir begitu.” Sambung Anita.
Merasa tak dipercaya dan didukung, emosi Ammar kini tak bisa dia tahan lagi. “Kenapa kalian masih saja membelanya? Apa foto-foto ini belum cukup membuktikan jika dia itu berselingkuh? Papa dan Mama jangan tertipu, dia itu munafik dan murahan!”
Plaaaakk ....
Satu tamparan dari Yusuf mendarat keras di pipi Ammar, semua orang tercengang.
“Jaga bicaramu!” Bentak Yusuf.
Ammar mengeraskan rahangnya. “Kalian akan menyesal karena percaya kepadanya.”
Ammar melangkah pergi meninggalkan kediaman Arif dengan perasaan marah, dia tak menyangka semua orang akan membela Jihan dan tak mempercayai dirinya. Padahal apa yang dia lihat dan foto-foto itu sudah jelas membuktikan jika istrinya itu berkhianat.
“Ammar!” Teriak Yusuf, namun Ammar tak menggubrisnya dan segera melesat pergi.
“Sudah, Suf. Biarkan dia menenangkan diri dulu.” Arif menepuk pundak Yusuf.
“Sudahlah, dia hanya terlalu marah karena merasa dikhianati dan enggak di dukung. Aku paham perasaannya.” Balas Arif, lelaki berwajah teduh itu selalu bersikap tenang dan bijaksana dalam situasi apa pun.
Sementara Jihan masih terisak-isak di dalam pelukan Salma, Anita pun mendekati menantu dan besannya itu.
“Maafkan Ammar, ya, sayang. Kamu yang sabar. Insya Allah masalah ini segera berakhir dan kalian bisa bersama lagi.” Anita mengusap kepala Jihan yang tertutup hijab.
“Mama percaya padaku, kan? Aku enggak pernah mengkhianati Mas Ammar.” Ucap Jihan sambil terisak-isak.
“Iya, Mama percaya. Sudah, kamu jangan menangis lagi.” Anita mengusap air mata Jihan.
“Sekarang kamu ceritakan dari awal apa yang sebenarnya terjadi! Papa ingin tahu kronologisnya, agar Papa tahu apa yang harus Papa lakukan untuk membantu menyelesaikan masalah ini.” Pinta Yusuf pada menantunya.
__ADS_1
Jihan pun menceritakan tentang pertemuannya dengan Abbas di kafe, sampai prahara ini terjadi. Yusuf dan semua orang mendengarnya dengan saksama.
“Ini jelas ada yang enggak beres. Papa akan cari tahu.” Ujar Yusuf dengan geram. Jihan mengangguk.
“Iya, Suf. Tolong bantu Jihan membuktikan ke Ammar, jika semua ini cuma salah paham.” Sahut Arif penuh harap.
“Tentu. Kalau begitu kami permisi dulu. Kami akan bicara pada Ammar.” Kata Yusuf.
Arif mengangguk. “Iya, bicaralah dengannya tapi kamu harus tetap tenang. Jangan terpancing emosi.”
“Baiklah. Assalamualaikum.”
“Wa’ alaikumsalam ....”
Yusuf dan Anita juga meninggalkan kediaman Arif.
“Sebaiknya sekarang kamu Shalat, minta pertolongan dan petunjuk dari Allah. Agar dimudahkan segalanya serta diberikan ketenangan.” Pinta Arif.
“Iya, Abi. Tapi aku mau mandi dulu.” Jawab Jihan, dan Arif mengangguk.
Salma pun melepaskan pelukannya.
Jihan berjalan masuk ke dalam kamar sambil menarik kopernya, air matanya tak berhenti menetes.
Setelah meletakkan barang-barangnya, Jihan bergegas masuk ke dalam kamar mandi.
Jihan membasuh tubuhnya dan menggosoknya dengan kuat seakan ada kotoran yang menempel sambil terus menangis, dia ingin menghilangkan bekas lelaki asing itu dari tubuhnya. Dia merasa kotor dan jijik pada dirinya.
Jihan sendiri tak tahu apa yang sudah lelaki itu lakukan pada dirinya, dia takut sekali telah melakukan perbuatan zina meski tanpa dia sengaja dan sadari.
__ADS_1
☘️☘️☘️