
Satu jam kemudian, Ammar mulai sadar, dia membuka matanya dan bergegas bangkit dari pembaringan sambil memegangi kepalanya. Jihan yang melihat suaminya itu sudah bangun, segera menghampirinya.
“Mas, kepalanya masih sakit?” Tanya Jihan.
“Sudah enggak, hanya sedikit terasa berat saja.” Jawab Ammar sembari memegangi kepalanya dan turun dari atas ranjang.
“Mas, mau ke mana?”
“Aku mau menemui Miranda dan menanyakan masalah ini.”
“Sebaiknya Mas pura-pura enggak tahu dan tetap bersikap seperti biasanya, agar Mas bisa menyelidiki semua ini tanpa sepengetahuan dia.” Cetus Jihan.
Ammar tertegun, apa yang dikatakan Jihan ada benarnya juga.
Tiba-tiba ponsel Ammar berdering, lelaki itu segera meraih alat komunikasi itu dan mengembuskan napas saat melihat ID si penelepon.
“Miranda.” Ujar Ammar seraya menunjukkan layar ponselnya ke hadapan Jihan.
“Angkat, Mas! Dan bersikaplah biasa saja.” Pinta Jihan. Dan Ammar menurut meski dengan berat hati.
“Halo, Mir.” Sapa Ammar saat panggilan itu tersambung.
“Kamu lagi apa, sayang?”
Ammar memutar bola matanya dengan malas lalu menjawab dengan nada datar. “Aku sedang meeting di kantor. Nanti lagi, ya?”
Ammar bergegas mengakhiri panggilan dari Miranda itu dan menonaktifkan ponselnya.
“Loh, kenapa dimatikan, Mas?” Jihan kaget melihat kelakuan Ammar.
“Aku enggak bisa berpura-pura manis dengannya. Rasanya aku ingin sekali bertanya terus terang tentang kebohongannya itu.”
“Mas harus bisa kalau ingin tahu yang sebenarnya. Karena kalau Mas terang-terangan bertanya, dia pasti enggak akan mau jujur. Jadi sebaiknya Mas menyelidiki semua ini secara diam-diam.”
“Tapi aku enggak pandai bersandiwara!”
“Mas enggak boleh gegabah! Kalau dia bisa mengarang cerita untuk membohongi Mas, itu berarti dia orang yang pintar juga licik. Dia pasti punya banyak cara dan alasan untuk mengelak saat Mas bertanya. Jadi Mas harus menyusun strategi untuk membongkar kedoknya.” Papar Jihan.
“Ck, iya-iya! Cerewet banget, sih!” Sahut Ammar sembari beranjak dan masuk ke kamar mandi.
Jihan hanya geleng-geleng kepala melihat sikap Ammar itu.
Dan kali ini giliran ponsel Jihan yang berdering, ternyata ada telepon dari Radit. Jihan buru-buru menjawab panggilan masuk dari atasannya itu.
“Halo, Assalamualaikum, Pak.” Sapa Jihan lembut.
“Wa’alaikumsalam, Jihan. Katanya kamu sakit, ya? Sakit apa? Bagaimana keadaanmu?”
__ADS_1
Jihan tercengang saat Radit memberondongnya dengan pertanyaan bernada cemas.
“Iya, Pak. Tapi cuma flu saja, kok. Ini juga Alhamdulillah sudah baikkan.” Jawab Jihan.
“Syukurlah. Kalau begitu, nanti saya akan jenguk kamu.”
“Eh, enggak usah, Pak. Entar merepotkan Bapak. Lagi pula saya sudah mendingan, kok. Besok juga sudah bisa masuk kerja.”
“Ya sudahlah, kalau begitu. Tapi kamu istirahat saja dulu, enggak usah buru-buru masuk. Semoga cepat sehat, ya.”
“Iya, Pak. Terima kasih.”
“Assalamualaikum, Jihan.”
“Wa’alaikumsalam, Pak.”
“Pasti atasanmu itu, kan?” Tiba-tiba suara bariton Ammar menyerbu indra pendengaran Jihan, wanita itu sontak menoleh ke arah Ammar yang sudah berdiri di belakangnya.
“Iya, Mas. Tadi itu Pak Radit tanya kondisi aku.” Sahut Jihan polos.
Ammar tersenyum sinis. “Dia mau cari perhatianmu itu. Jadinya sok peduli.”
Jihan mengernyitkan keningnya. “Mas kok bicaranya begitu? Pak Radit kan atasan aku, wajarlah kalau bertanya keadaan karyawannya.”
“Dia itu menyukaimu! Bukan murni peduli sebagai atasan.” Pungkas Ammar kemudian melangkah keluar dari kamar.
Sementara itu, di dalam sebuah ruangan beraroma khas obat-obatan, Miranda sedang merasa kesal karena Ammar sudah mengakhiri pembicaraan sepihak. Bahkan saat dia menghubungi ulang, ponsel Ammar sudah tidak aktif.
“Berengsek! Rupanya kau sudah mulai berani kepadaku. Ini pasti karena Jihan! Aku akan menghancurkan kalian berdua!” Geram Miranda.
“Baiklah, kita bisa mulai terapi hormonnya.” Ucap seorang dokter yang tiba-tiba masuk ke dalam ruangan itu. Karena mengikuti Ammar tadi, Miranda terpaksa menjadwal ulang terapinya.
“Baik, Dok.” Balas Miranda dengan memaksakan senyuman.
☘️☘️☘️
Ammar turun ke lantai bawah, Jihan juga mengikuti sang suami sebab merasa waswas, takut lelaki berparas rupawan itu nekat pergi menemui Miranda.
“Eh, ini Ammar dan Jihan sudah turun.” Ujar Anita saat melihat anak dan menantunya mendekat.
“Kalian sudah baikkan?” Tanya Yusuf.
“Sudah, Pa.” Jawab Jihan. Dan Ammar hanya mengangguk.
“Kalau begitu mari makan dulu, Mama dan Ummi Jihan sudah selesai masak ini.” Ucap Anita. Ammar dan Jihan pun menurut.
“Iya, Papa juga sudah lapar.” Sahut Yusuf. “Ayo, Rif! Kita makan.”
__ADS_1
Yusuf mengajak sahabat sekaligus besannya itu untuk makan.
“Iya, Suf.” Balas Arif dan segera beranjak menyusul Yusuf ke meja makan.
Kedua keluarga itu pun makan siang bersama dan sesekali mengobrol sambil bercanda tawa. Tapi tidak dengan Ammar, wajah tampannya sedari tadi datar tanpa ekspresi, dia makan dalam diam dan tak sekalipun membuka suara. Semua orang menyadari sikap Ammar itu, tapi mereka tak ingin mengusiknya.
“Malam ini Mama sama Papa mau menginap di sini. Mau jagai kalian.” Ujar Anita tanpa basa-basi.
“Uhuk ... uhuk ... uhuk ...” Ammar yang sedang minum tersedak dan terbatuk-batuk saat mendengar pernyataan sang Mama.
“Minumnya pelan-pelan, dong, Mar!” Anita menepuk-nepuk punggung belakang putranya itu.
“Amar tersedak gara-gara dengar kita mau menginap itu, Ma. Takut kita ganggu mungkin.” Sela Yusuf dengan wajah jahil. Dia sengaja menggoda Ammar agar suasana mencair.
“Iya, Mar? Jadi begitu? Mentang-mentang sudah punya istri, Mama dan Papa dianggap pengganggu? Ya sudah, kami pulang saja, deh!” Anita pura-pura merajuk.
“Enggak, Ma. Enggak begitu!” Bantah Ammar. Jelas dia cemas jika kedua orang tuanya itu menginap di sini, dia tak ingin mereka tahu jika kamarnya dan sang istri terpisah.
“Enggak kok, Pa. Papa ini suudzon saja sama anak sendiri.” Kata Anita.
“Papa pikir begitu, Ma.” Balas Yusuf dengan wajah tanpa dosa. Arif dan Salma hanya mengulum senyum melihat tingkah jahil besannya itu.
“Jadi kami bolehkan menginap di sini?” Tanya Anita memastikan.
Ammar berulang kali menelan saliva, sejenak dia memandang Jihan yang sedari tadi terdiam dengan wajah tegang.
“Iya, boleh, Ma.” Ammar akhirnya mengangguk dan pasrah.
“Wah, senangnya bisa menghabiskan waktu bareng anak dan menantu.” Anita mengoceh girang.
Ammar hanya menghela napas berat. Drama apa lagi ini? Kenapa tiba-tiba Mama dan Papanya memutuskan untuk menginap di sini?
Begitu pun dengan Jihan, dia tak habis pikir dengan keputusan mertuanya itu.
“Mas Arif dan Salma enggak menginap juga?” Tanya Anita lagi.
Arif menggeleng. “Maaf, Anita. Saya enggak bisa, malam nanti saya akan mengajarkan anak-anak mengaji. Tapi kalau istri saya mau menginap, enggak apa-apa.”
“Enggak usah, Abi. Ummi pulang saja bersama Abi.” Sela Salma.
“Ya sudahlah, mau bagaimana lagi? Padahal saya berharap Mas Arif dan Salma bisa menginap juga.” Tutur Anita.
“Insya Allah, lain waktu kami pasti menginap di sini.” Tukas Arif.
Jihan terlihat kecewa karena kedua orang tuanya tak bisa menginap, padahal dia masih rindu kepada mereka.
☘️☘️☘️
__ADS_1