
Ammar turun dan menghampiri Yusuf serta Anita yang sedang mengobrol bersama Mang Jaja di ruang tamu. Begitu melihat kedatangan Ammar, ketiga orang itu seketika berhenti bicara.
“Eh, kenapa belum tidur?” Tanya Anita.
“Ada yang mau aku bicarakan dengan Papa, Ma.” Jawab Ammar dan langsung menjatuhkan diri di samping Yusuf.
“Kalau begitu, saya permisi dulu. Mau kembali ke pos jaga.” Ujar Mang Jaja.
“Oh, iya, Mang. Silakan.” Balas Yusuf.
Mang Jaja pun buru-buru pergi meninggalkan Yusuf serta anak dan istrinya itu.
“Jihan sudah tidur?” Anita kembali bertanya.
“Tadi sih belum, Ma.”
“Nih, ambillah!” Yusuf tiba-tiba memberikan dua kartu sakti yang dia sita dari Ammar, meskipun putranya itu belum memintanya.
Ammar menatap sang Papa sembari menerima dua kartu yang disodorkan ke hadapannya itu.
“Papa tahu kau pasti ingin meminta itu, kan? Sesuai janji, Papa kembalikan. Tapi Papa berharap kau lebih hemat dan pergunakan kartu-kartu itu dengan sebaik-baiknya.” Ucap Yusuf.
“Baik, Pa.”
“Dan ingat, Nak. Sebagai suami, kau harus memberikan nafkah kepada istrimu. Jihan berhak atas apa yang kau dapatkan.” Tutur Anita.
“Iya, Ma.”
“Mar, Papa dan Mama enggak bisa ikut campur dalam rumah tanggamu, tapi kami berharap kau bisa menjalankan peranmu sebagai imam dan kepala rumah tangga dengan sebaik-baiknya. Hargai dan sayangilah istrimu, seperti kau menghargai dan menyayangi Mama. Perlakukan dia dengan baik, jangan sakiti hatinya.” Anita menasihati putranya itu.
Ammar menelan ludah, dia merasa canggung mendengar nasihat sang Mama, sebab selama menikah dia selalu memperlakukan Jihan dengan buruk.
“Kau beruntung banget punya istri seperti Jihan. Dia calon bidadari surga, Mar.” Sambung Anita.
Lagi-lagi Ammar tak membalas ucapan sang Mama, dia hanya memaksakan senyuman di bibirnya.
“Mar, sebaik-baiknya perhiasan di dunia ini, adalah istri yang Sholeha. Dan kau sudah mendapatkannya. Jadilah imam yang baik, suami yang bertanggungjawab dan kelak jadilah ayah yang hebat.” Yusuf menimpali.
“Iya, Pa.” Jawab Ammar canggung.
“Jangan iya-iya saja! Awas kalau Mama tahu kau menyakiti Jihan, apalagi gara-gara wanita lain. Mama enggak akan memaafkanmu.” Ancam Anita.
“Iya, Mama.” Ammar memeluk Anita untuk mengurangi rasa gugupnya.
“Ingat ya, Mar. Jihan itu putri kesayangan orang tuanya. Mereka sudah menyerahkannya kepadamu, mempercayakan kau untuk melindungi dan menjaga buah hati mereka. Jangan lukai perasaannya, karena enggak ada satu pun orang tua di dunia ini yang mau anaknya disakiti. Kau akan tahu perasaan itu jika kelak kau menjadi orang tua.” Lanjut Yusuf.
Ammar hanya mengangguk dua kali. Merasa tertampar oleh ucapan menohok sang Papa. Bagaimana kalau mereka tahu apa yang selama ini telah dia perbuat kepada wanita sebaik Jihan?
Tiba-tiba dia teringat sesuatu lalu bertanya kepada Anita.
“Hemmm, Ma. Kenapa Mama enggak pernah bilang kalau aku dan Jihan pernah satu sekolah?”
__ADS_1
Anita dan Yusuf saling pandang, tak menyangka sang putra akan bertanya demikian.
“Kau sudah ingat, sayang?” Anita balik bertanya.
Ammar menggeleng. “Belum. Tapi aku menemukan foto yang di dalamnya ada aku, Jihan serta teman-teman dan juga guru-guru ku. Saat aku tanya Jihan, dia mengatakan jika kami berteman cukup baik. Kenapa Mama dan Papa enggak pernah bilang?”
“Mama pernah ingin bilang, tapi kau mengatakan tak mau mendengar apa pun tentang Jihan, jadi Mama enggak jadi mengatakannya. Kau ingat?”
Kali ini Ammar mengangguk, dia ingat betul saat itu melarang sang Mama mengatakan tentang Jihan.
“Sekarang aku sudah tahu, walaupun aku tetap enggak bisa mengingat apa pun.” Ujar Ammar dengan wajah sendu.
“Sabar, ya, sayang. Perlahan-lahan ingatanmu pasti kembali lagi. Tapi kau jangan memaksakan diri untuk mengingat.” Kata Anita. Dan Ammar kembali mengangguk.
“Sebaiknya sekarang kau istirahat! Jangan terlalu banyak pikiran, itu enggak baik untuk kesehatanmu.” Sambung Yusuf.
“Iya, Pa.”
☘️☘️☘️
Setelah berbincang dan mendengar nasihat demi nasihat dari kedua orang tuanya, Ammar pun kembali ke kamarnya. Dia sempat tertegun saat memandangi Jihan yang sudah tertidur meringkuk di atas sofa. Siapa pun tahu pasti sangat tidak nyaman tidur di sofa yang sempit itu, apalagi dalam keadaan sedang tidak enak badan.
Entah apa yang Ammar pikirkan sehingga dengan perlahan dia mengangkat tubuh Jihan dan memindahkan wanita itu ke atas ranjang lalu menyelimutinya. Ammar juga sempat meletakkan punggung tangannya di dahi Jihan demi mengecek suhu tubuh wanita itu, dan dia lega karena Jihan tidak lagi demam.
“Maafkan aku. Selamat tidur.” Ucap Ammar dan segera beranjak lalu membaringkan tubuhnya di sofa.
Tapi tak muda bagi Ammar untuk terlelap, meski pun waktu sudah menunjukkan pukul sebelas malam. Dia masih memikirkan semua kebohongan Miranda dan berusaha mencerna setiap kejadian ini.
Ammar kembali memandangi wajah Jihan yang terlihat tenang. “Apa benar aku pernah berjanji untuk menjaga dan melindungimu?”
Ammar benar-benar pusing dengan semua yang terjadi, dalam satu waktu dia mendapatkan kenyataan yang begitu mengejutkan.
Mata Ammar pun terasa perih sebab rasa kantuk mulai menyerangnya. Lelaki berwajah tampan itu akhirnya terlelap dalam rasa penasaran.
☘️☘️☘️
Seperti biasa, Jihan terbangun dari tidur lelapnya untuk melaksanakan Shalat malam dan dia sedikit terkejut karena mendapati dirinya sudah berada di atas ranjang.
“Kenapa aku bisa berada di sini?” Tanya Jihan kebingungan, dia ingat betul tadi dia tidur di sofa.
Jihan segera menoleh ke arah sofa dan tampak Ammar sedang tertidur dengan posisi yang sangat tidak nyaman.
“Mas Ammar? Apa dia yang memindahkan aku?” Jihan coba menerka.
Jihan merasa tak tega melihat Ammar tidur di sofa, dia beranjak dan melangkah mendekati suaminya itu.
“Mas! Mas bangun!” Jihan mengguncang pundak Ammar, dan lelaki itu mulai terbangun.
Ammar menyipitkan matanya dan memandang Jihan dengan kebingungan. “Ada apa?”
“Mas pindah saja ke kasur! Nanti badan Mas sakit kalau tidur di sofa.” Pinta Jihan.
__ADS_1
“Enggak apa-apa! Aku di sini saja!” Balas Ammar dan kembali memejamkan mata.
“Mas, jangan keras kepala, dong! Aku merasa bersalah kalau Mas tidur di sofa begini, sementara aku enak-enakkan tidur di kasurnya Mas.”
“Jadi kalau aku tidur di kasur, kau tidur di mana?”
“Aku saja yang tidur di sofa.”
Ammar menggeleng dengan mata yang terpejam. “Enggak enggak! Badan kamu juga bisa sakit kalau tidur di sofa, aku enggak mau di anggap laki-laki enggak punya perasaan karena membiarkan seorang wanita tidur di sofa sementara aku enak-enakkan tidur di kasur.”
Jihan mengernyit heran dengan sikap Ammar. “Tapi, ini kan kamarnya Mas. Masa Mas yang tidur di sofa?”
Ammar membuka mata dan menatap Jihan. “Sudah begini saja! Biar adil, kita berdua tidur di kasur. Bagaimana?”
Jihan tercengang, dia tak menyangka Ammar akan mencetuskan ide itu.
“Aku enggak akan macam-macam! Kau tenang saja!” Lanjut Ammar cepat. Dia tahu apa yang ada di pikiran Jihan.
“Tapi, Mas ....” Jihan Masih ragu.
“Ya sudah kalau enggak mau.” Ammar kembali menutup matanya. “Aku tidur di sini saja!”
Jihan mengembuskan napas pasrah, tak ada pilihan lain. Kalau dia tak mengalah, masalah ini tidak akan selesai.
“Baiklah. Tapi Mas jangan ingkar janji, ya?”
Ammar sontak membuka matanya dan beranjak. “Iya. Takut banget, sih?”
Jihan terpaku di tempatnya, memperhatikan Ammar yang pindah ke atas ranjang sambil mengomel sendiri.
“Kalau aku macam-macam memangnya kenapa? Kan dia istriku. Memang ada larangan apa aku menyentuh dia?”
“Mas!” Tegur Jihan karena mendengar ocehan Ammar.
“Apa?” Sahut Ammar malas. “Mau protes lagi? Sudah larut ini, tidur-tidur!”
Jihan terdiam sambil geleng-geleng kepala. Sementara Ammar sudah merebahkan tubuhnya di atas kasur yang empuk.
“Kenapa enggak tidur?” Cecar Ammar saat menyadari Jihan masih terpaku di tempatnya.
“Aku mau Shalat dulu, Mas.”
Ammar pun segera menutup matanya tanpa membalas ucapan Jihan.
Setelah mengambil wudu, Jihan segera melaksanakan Shalat tahajud. Diam-diam Ammar membuka matanya dan memandangi Jihan yang sedang beribadah.
Hatinya mendadak jengah karena melihat sang istri Shalat sementara dia enak-enakkan tidur, tapi bisikan setan ternyata lebih besar. Ammar mengesampingkan rasa malunya dan kembali tidur.
Ragu-ragu Jihan pun naik ke atas ranjang sehabis Shalat, dia meletakkan guling di antara dirinya dan Ammar, lalu bersiap kembali mengarungi alam mimpi.
☘️☘️☘️
__ADS_1