Air Mata Istri Sholehah

Air Mata Istri Sholehah
Episode 62.


__ADS_3

Karena hanya luka-luka ringan, Arif juga Salma pun diperbolehkan pulang dan rawat jalan.


“Jihan, kamu sudah memesan taksinya?” Tanya Aisyah.


“Sudah, Bule. Nanti Abi dan Ummi pulang sama Bule saja. Biar aku pulang sama Asep, soalnya mau tebus obat dulu di apotek.”


“Iya.”


“Kalian hati-hati di jalan, apalagi kalau mau menyeberang.” Ujar Arif.


“Iya, Abi.” Sahut Jihan patuh.


“Ya sudah, yuk!” Aisyah memegangi lengan Salma dan membantu kakak iparnya itu berjalan.


“Mari, Pakde!” Asep memapah Arif bersama Jihan.


Mereka berjalan pelan keluar dari ruang UGD dan menuju taksi online yang sudah menunggu. Setelah memastikan Abi dan Ummi nya duduk dengan nyaman, Jihan pun menutup pintu mobil tersebut.


Mobil minibus hitam itu pun melaju meninggalkan rumah sakit.


Jihan beralih menatap Asep yang berdiri di sampingnya. “Sep, kamu tunggu di sini dulu, ya? Aku ambil obat dulu.”


“Oke, Jihan! Tapi aku tunggu di motor saja, ya?”


“Ya sudah, terserah kamu.”


“Cepat, ya!”


Jihan mengangguk dan bergegas melangkah menuju apotek yang berada di seberang ruangan UGD.


Tak berapa lama, mobil Ammar berhenti di depan ruang UGD, dia dan Anita akhirnya memutuskan membawa Yusuf ke rumah sakit karena pria paruh baya itu sudah semakin lemas.


Ammar turun terlebih dahulu dan meminta salah satu perawat untuk membawa kursi roda. Dengan hati-hati mereka memindah Yusuf dari mobil ke kursi tersebut.


“Papa bertahan, ya!” Anita menggenggam tangan Yusuf yang dingin sambil mengikutinya masuk ke dalam ruang UGD.


Ammar pun segera menyusul papa dan mamanya itu.


Seorang dokter datang dan memeriksa Yusuf yang sudah berbaring di ranjang rumah sakit.

__ADS_1


“Maaf, Mas. Mobilnya tolong dipindahkan ke parkiran! Biar enggak menutup ruang UGD, takutnya ada pasien gawat darurat lain yang datang.” Ujar seorang perawat sopan.


“Oh, iya-iya. Maaf, tadi saya panik sekali.”


Perawat itu tersenyum. “Tidak apa-apa, Mas.”


Ammar bergegas keluar dari ruang UGD dan masuk ke dalam mobilnya, namun di kejauhan dia tak sengaja melihat satu sosok yang selama ini dia cari dan rindukan.


“Jihan?”


Dada Ammar berdebar, dia bergegas kembali turun dari mobil dan hendak menghampiri Jihan, tapi wanita berhijab itu terlanjur naik ke atas motor lalu pergi meninggalkan parkiran rumah sakit.


“Jihan! Tunggu, Jihan!” Teriak Ammar, tapi sepertinya Jihan tidak mendengarnya.


“Aku harus kejar dia!” Ammar kembali masuk ke dalam mobilnya dan mengejar sepeda motor yang Jihan tumpangi.


Ammar memacu mobilnya dengan cepat agar bisa segera menyusul Jihan.


“Ya Allah, aku mohon pertemukan kami!” Ucap Ammar penuh harap.


Namun sepertinya takdir masih belum sudi mempertemukan mereka, jalanan yang macet membuat mobil Ammar terjebak dan tak dapat bergerak, sementara sepeda motor Asep bisa menyelip di antara kendaraan lain lalu berbelok ke jalan tikus. Ammar pun kehilangan jejak Jihan.


Ponsel Ammar pun berdering, ternyata Anita yang meneleponnya.


“Halo, Ma.” Jawab Ammar setelah menggeser tombol hijau pada layar ponselnya.


“Kamu ke mana, Nak? Kenapa lama sekali? Papa kamu nyariin kamu ini.”


“Iya-iya, bentar, Ma.” Ammar langsung mematikan panggilan telepon itu.


Seketika Ammar galau, dia sebenarnya masih ingin mencari Jihan, siapa tahu wanita itu masih ada di sekitar sini. Tapi dia tak tega membiarkan sang ayah yang sedang sakit.


Akhirnya Ammar memilih lajur kiri dan berbelok arah balik ke rumah sakit tadi, dia hanya menelan kecewa karena tidak berhasil bertemu Jihan.


☘️☘️☘️


“Kamu dari mana saja, Nak?” Tanya Anita begitu melihat Ammar berjalan masuk ke ruang UGD.


“Tadi aku melihat Jihan berboncengan dengan seorang pria, Ma. Jadi aku mengejarnya.” Jawab Ammar.

__ADS_1


Anita dan Yusuf terkesiap mendengarnya.


“Kamu lihat Jihan di mana?” Anita kembali bertanya.


“Di parkiran rumah sakit saat aku mau mindahin mobil, aku coba kejar dia. Tapi aku kehilangan dia, Ma.” Keluh Ammar dengan wajah sedih.


“Bagaimana bisa kehilangan dia?” Yusuf pun ikut bertanya.


“Jalanan macet, mobilku terjebak dan bisa jalan, sedangkan motor yang Jihan tumpangi bisa menyelip di antara kendaraan lain.” Terang Ammar sedikit kesal.


Anita memegang pundak Ammar.“Itu tandanya kalian belum diizinkan untuk bertemu, Allah pasti punya rencana lain.”


“Kalau Jihan bisa ada di rumah ini, itu berarti dia tinggal enggak jauh dari sini. Nanti pelan-pelan kita cari dia.” Sela Yusuf yang berusaha menenangkan hati sang putra.


“Iya, Papa kamu benar.” Anita menimpali.


Ammar mengembuskan napas berat dan bergeming, tadinya dia sudah sangat senang saat melihat Jihan, dia pikir hari ini perjuangannya akan membuahkan hasil, tapi nyatanya takdir masih ingin bermain-main dengannya. Ammar sangat kecewa, terlebih hatinya mendadak galau dan bertanya-tanya siapa pria yang membonceng Jihan tadi? Dia tak dapat melihat jelas wajah pria itu karena memakai helm.


“Ya sudah, sekarang kita kembali ke hotel.” Pinta Anita.


Ammar tersentak dan langsung menatap mamanya itu. “Kenapa balik ke hotel, Ma? Jadi Papa bagaimana?”


Anita menghela napas. “Kamu kan tahu Papa enggak mau berlama-lama di rumah sakit.”


Ammar beralih memandang Yusuf. “Apa enggak sebaiknya Papa di rawat inap saja?”


“Papa sudah enggak apa-apa, dokter sudah menyuntikkan obat tadi.” Sahut Yusuf, dia memang paling tidak betah berada di rumah sakit.


“Tapi Papa masih terlihat lemas dan pucat.”Ujar Ammar cemas.


“Kamu tenang saja, sebentar lagi Papa pasti sehat, kok.” Bantah Yusuf keras kepala.


“Ya sudahlah, kalau begitu aku urus administrasi dulu.” Ammar mengalah dan bergegas keluar dari ruang UGD.


“Kasihan Ammar, dia pasti sedih.” Tutur Anita sedih.


“Papa berharap ini pertanda baik. Semoga setelah ini Ammar dan Jihan bisa segera bertemu.” Sambung Yusuf penuh harap.


“Aamiin ya Allah.”

__ADS_1


☘️☘️☘️


__ADS_2