Air Mata Istri Sholehah

Air Mata Istri Sholehah
Episode 37.


__ADS_3

Dari gedung Ritz Corporation, Jihan tak langsung pulang, dia mendatangi rumah Ammar dan bermaksud menanyakan kebenaran tentang apa yang disampaikan oleh Miranda tadi. Hatinya sungguh tak tenang.


“Assalamualaikum, Mang.” Sapa Jihan.


“Wa’ alaikumsalam. Eh, Neng Jihan.” Balas Mang Jaja sembari membukakan pintu gerbang untuk Jihan.


“Papa sama Mama ada di dalam, ya, Mang?” Tanya Jihan karena melihat mobil Yusuf terparkir di pekarangan rumah Ammar.


“Anu, Neng. Tadi Bapak pingsan dan dilarikan ke rumah sakit, pakai mobil Den Ammar.”


“Astaghfirullahalladzim.” Seru Jihan. “Rumah sakit mana, Mang?”


“Rumah sakit Kasih Ibu, Neng.” Mang Jaja menyebutkan nama rumah sakit terdekat dari rumah Ammar.


“Ya, sudah. Aku susul ke sana, Mang. Assalamualaikum.” Jihan bergegas pergi.


“Wa’ alaikumsalam.” Sahut Mang Jaja meskipun Jihan sudah menjauh.


Selang beberapa menit, Jihan pun tiba di rumah sakit yang dimaksud Mang Jaja tadi, dan dia melihat mobil Ammar terparkir sembarangan di depan UGD. Jihan buru-buru berlari menuju pintu UGD tapi langkah kakinya terhenti saat Ammar tiba-tiba keluar dari ruangan itu dengan wajah sendu.


“Mas.”


Ammar langsung menatap tajam Jihan. “Sedang apa kau di sini?”


“Aku ingin melihat Papa. Bagaimana keadaannya?”


“Papa itu sakit karena kau! Sekarang juga pergi dari sini!” Usir Ammar.


“Mas, tapi ....”


“Kau enggak dengar? Pergi dari sini dan jangan pernah perlihatkan wajahmu di hadapanku lagi!” Pinta Ammar dengan mata yang merah sembari mengepalkan tangannya.


Jihan tercengang, air matanya kembali jatuh.


“Dan asal kau tahu, aku sudah mengurus perceraian kita. Aku harap kau enggak hadir di persidangan, biar prosesnya cepat. Karena aku sudah muak dengan semua ini!” Ammar segera berlalu dari hadapan Jihan dan masuk ke dalam mobilnya.


“Mas ....” Tubuh Jihan rasanya lemas seketika, dia tak sanggup lagi untuk berucap, lidahnya terasa kaku. Hanya mampu menatap mobil Ammar yang bergerak menjauh dan akhirnya terparkir di tempat semestinya.


Dengan langkah yang lemah, Jihan pun beranjak pergi meninggalkan rumah sakit itu. Sejujurnya dia ingin melihat Yusuf dan mengetahui kondisinya, tapi hatinya sedang tidak baik-baik saja. Saat ini yang dia inginkan adalah pulang ke rumah dan menumpahkan kesedihan di pangkuan sang ibunda.


☘️☘️☘️


“Assalamualaikum.” Jihan melangkah masuk ke dalam rumahnya, wajahnya terlihat keruh dan sendu.

__ADS_1


“Wa’ alaikumsalam.” Sahut Salma.


“Jihan, kamu ke mana saja? Ummi telepon kok enggak dijawab, sih?” Cecar Salma dengan wajah panik.


“Maaf, Ummi. Tapi aku enggak tahu Ummi menelepon.” Balas Jihan. “Memangnya ada apa?”


“Eyang Ratih meninggal.” Jawab Salma.


“Innalilahiwainnailaihirojiun. Kapan Ummi?”


“Baru saja. Sekarang cepat siap-siap, kita akan ke Surabaya. Itu Abi sedang membeli tiket kereta api.”


“Iya, Ummi.” Jihan bergegas ke kamarnya. Dia mengurungkan niatnya untuk mengadu kepada Salma tentang perceraiannya dengan Ammar, sebab ini bukan saat yang tepat, keluarga mereka sedang berduka atas kepergian sang nenek.


Bakda Isya, Jihan beserta Abi dan Umminya berangkat ke stasiun kereta dengan taksi Online. Setibanya di stasiun, Jihan dan keluarganya bergegas masuk ke dalam kereta yang akan segera berangkat. Tak butuh waktu lama, kereta pun mulai bergerak dan melaju meninggalkan stasiun.


Jihan duduk di samping Salma, sedangkan Arif duduk di seberang mereka. Jihan mengeluarkan ponselnya, bermaksud memberikan kabar kepada personalia nya dan meminta izin cuti. Sebenarnya Jihan merasa tak enak, karena dia baru saja masuk kerja dan sekarang harus bolos lagi, tapi dia tak ada pilihan, mau tak mau dia harus menebalkan wajahnya kali ini.


Namun Jihan terkesiap saat melihat aplikasi berkirim pesan di ponselnya log out dan sama sekali tidak bisa digunakan, dia sudah coba log-in kembali tapi tetap gagal.


“Kok begini? Kenapa enggak bisa, ya?” Jihan kebingungan.


“Ada apa, Nak?” Tanya Salma.


“Tapi tadi Ummi hubungi, bisa kok. Cuma enggak diangkat.”


Jihan mengernyitkan keningnya. “Aneh sekali? Coba Ummi hubungi lagi!”


“Sebentar, ya.” Salma mengeluarkan ponsel sejuta umat milik Arif yang dia simpan di dalam tasnya, lalu menelepon nomor Jihan dan terhubung namun lagi-lagi tak dijawab.


“Tersambung, kok!” Seru Salma.


Jihan semakin bingung, sebab layar ponselnya tetap mati, tak ada tanda-tanda panggilan masuk.


“Tapi di ponselku enggak ada panggilan masuk sama sekali, Ummi.” Ujar Jihan.


“Kenapa bisa seperti itu?” Sela Arif yang sedari tadi memperhatikan anak dan istrinya.


Jihan menggeleng. “Aku juga enggak tahu, Abi. Sepertinya ada kesalahan. Nanti aku coba cek ke tukang servis handphone.”


“Iya, besok setelah pemakaman Eyang Ratih, minta tolong Asep atau Joko untuk mengantarmu.” Ucap Arif.


“Iya, Abi. Kalau begitu aku pinjam ponsel Abi, ya? Aku mau menghubungi personalia ku, minta izin cuti lagi.”

__ADS_1


“Pakailah.”


Akhirnya Jihan menghubungi personalia nya melalui ponsel milik Arif.


☘️☘️☘️


Di rumah sakit Kasih Ibu, Anita dan Ammar masih setia menunggu Yusuf yang belum sadarkan diri sejak tadi. Beberapa alat ventilator terpasang di tubuhnya, begitu juga dengan selang oksigen dan infus. Dokter mendiagnosis Yusuf terkena serangan jantung akibat tensi darahnya sangat tinggi.


“Sebaiknya Mama istirahat, biar aku yang menjaga Papa.” Cetus Ammar.


“Enggak usah! Biar Mama saja yang menjaganya. Kau tolong ambilkan pakaian ganti dan mukena Mama, biar nanti Mama suruh Bi Asih siapkan semuanya.”


“Iya, Ma. Kalau begitu aku pergi dulu.” Ammar bergegas pergi meninggalkan rumah sakit.


Mobil Range Rover Velar hitam milik Ammar melaju cepat membelah jalanan ibukota, hari yang sudah malam membuat lalu lintas sedikit lengang. Tak butuh waktu lama, Ammar sudah tiba di kediaman orang tuanya.


Kaki Ammar melangkah masuk dengan tergesa-gesa lalu berteriak memanggil asisten rumah itu. “Bi Asih!”


“Iya, sebentar, Den!” Wanita paruh baya bernama Asih itu tergopoh-gopoh menyusuri anak tangga sambil menenteng sebuah tas. Rupanya Anita sudah menghubunginya tadi.


“Mana pesanan Mama?” Tanya Ammar.


“Ini, Den Ammar.” Bi Asih mengansur kan tas yang dia pegang kepada Ammar.


Setelah tas itu di tangannya, Ammar pun berbalik dan hendak pergi lagi, tapi suara Bi Asih menahan langkahnya.


“Den, tunggu! Ada yang mau saya sampaikan.”


Ammar pun menoleh. “Apa?”


Bi Asih buru-buru berlari ke dapur dan mengambil sebuah amplop coklat yang dia simpan, kemudian memberikannya kepada Ammar.


“Ini, Den. Tadi ada titipan dari Mas Ahmad untuk Bapak. Katanya ini penting dan harus segera diberikan kepada Bapak.” Ujar Bi Asih.


Ammar mengerutkan keningnya. “Apa isinya?”


Bi Asih menggeleng. “Saya enggak tahu, Den. Enggak berani buka.”


“Ya sudah, simpan saja dulu! Nanti kalau Papa sudah pulang, baru kasih ke Papa.” Ammar mengembalikan amplop itu kepada Bi Asih.


“Iya, Den.”


Ammar pun melanjutkan langkahnya dan meninggalkan rumah mewah milik orang tuanya itu.

__ADS_1


☘️☘️☘️


__ADS_2