
Seperti yang sudah Abi nya pesankan, Jihan kembali melaksanakan shalat istikharah untuk meminta petunjuk dan kemantapan hati. Dia bingung dan tak mau menyakiti siapa pun termasuk kedua orang tuanya, dia ingin mengambil keputusan yang tepat dan baik untuk semuanya.
“Allahumma inni as-alukal huda was sadaad.”
“Ya Allah, aku meminta kepada-Mu petunjuk dan kebenaran, aku memohon agar Engkau memilihkan untukku mana yang baik menurut Engkau, ya Allah . Dan aku memohon Engkau memberikan kepastian dengan ketentuan-Mu, dan aku memohon dengan kemurahan-Mu yang agung. Karena sesungguhnya Engkau Yang Maha Berkuasa, sedang aku tidak mempunyai kuasa. Engkau yang mengetahui sedang aku tidak mengetahui, bahkan Engkau Maha Mengetahui segala sesuatu yang masih tersembunyi.”
“Ya Allah, teguhkan hatiku dengan satu pilihan yang baik untukku, hidupku, agamaku serta dunia dan akhirat ku. Mudahkanlah segalanya jika memang itu yang Engkau takdir kan untukku, dan jauhkanlah jika memang itu buruk bagiku. Aamiin ya rabbal Al-Amin.”
Jihan mengusap wajahnya yang dipenuhi air mata setelah selesai memanfaatkan doa, dia berharap Allah membimbingnya agar mengambil keputusan yang tepat.
“Jihan.” Tegur Salma yang sejak tadi berdiri di belakang Jihan dan mendengarkan sang putri berdoa.
Jihan sontak berbalik. “Ummi!”
Salma melangkah mendekati Jihan dan duduk di samping buah hatinya itu.
“Maaf kalau Ummi sudah egois dan memaksamu menuruti Ummi.” Ujar Salma sedikit menyesal, tadi dia sudah merenungi sikapnya, dia sadar karena rasa kecewa yang sangat besar pada Ammar dan emosi, dia sampai berkata yang tidak baik.
"Ummi.” Jihan menggenggam tangan sang ibunda.
“Ummi hanya ingin kamu mendapatkan pendamping hidup yang baik, Ummi ingin kamu bahagia, Nak.” Salma tertunduk dan menangis.
“Ummi, jangan menangis! Ummi enggak salah, aku bisa mengerti keinginan Ummi.” Jihan mengusap air mata Salma.
“Nak, Ummi cuma berpesan, menikahlah dengan seseorang yang akan membuatmu jatuh cinta kepada Allah setiap hari, seseorang yang takut kepada Allah, karena dia akan memperlakukan mu dengan baik dan benar sebab rasa takutnya pada sang pencipta. Dan cintailah seseorang itu karena Allah, karena keimanan dan ketakwaannya, Insha Allah kamu akan bahagia dunia akhirat.” Ucap Salma dengan air mata berlinang.
Jihan tertegun lalu kemudian menganggukkan kepalanya dengan berderai air mata. “Iya, Ummi. Insha Allah.”
“Ummi sangat menyayangi mu, Nak.” Salma langsung memeluk sang buah hati dengan penuh kasih sayang.
“Aku juga sangat menyayangi Ummi dan juga Abi, maaf kalau aku sudah membuat kalian bersusah hati karena semua yang terjadi.” Jihan membalas pelukan Salma.
__ADS_1
“Enggak, Nak. Ini sudah bagian dari kehendak Allah untuk menguji kamu, menguji keluarga kita. Mudah-mudahan keputusan yang kamu ambil nanti membawa kebaikan dan keberkahan.” Balas Salma.
“Aamiin. Insha Allah, Ummi.”
Jihan berharap hatinya mendapatkan keyakinan untuk bisa mengambil keputusan yang terbaik dan membawa kebaikan, keputusan yang diridhoi Allah.
***
Yuni dan Radit berkunjung ke kediaman Arif untuk membicarakan perihal kedatangan Ammar serta keluarganya tadi, kedua ibu dan anak itu ingin memastikan keputusan Jihan.
“Jadi kedatangan kami ke sini hanya untuk memastikan saja, Mas, Mbak.” Terang Yuni.
“Iya, memang benar mantan suami Jihan datang dan ingin rujuk, tapi Jihan belum menjawab apa-apa.” Sahut Arif, sedangkan Salma dan Jihan hanya bergeming.
“Itu artinya Jihan belum menerima permintaan rujuknya dan membatalkan khitbah Radit?” Yuni memastikan.
Arif menggeleng. “Belum, Mbak.”
Arif memandang Jihan yang tertunduk di sampingnya. “Bagaimana, Nak? Apa keputusan yang kamu ambil?”
Jihan terdiam dengan perasaan gugup dan jantung yang berdebar keras, setelah shalat istikharah dan mendengar pesan sang ummi, akhirnya hatinya pun mantap untuk memilih.
Radit dan semua cemas menunggu jawaban dari wanita berhijab nan ayu.
“Sa-saya ingin tetap melanjutkan rencana pernikahan dengan Mas Radit.” Jawab Jihan dengan suara bergetar.
“Alhamdulillah!” Seru Yuni, Salma dan Arif.
“Alhamdulillah, ya, Allah!” Ucap Radit sembari menatap Jihan dengan hati berbunga-bunga, ternyata apa yang dia takutkan tidak terjadi, Jihan tetap memilih dirinya.
“Saya sempat takut Jihan berubah pikiran dan membatalkan rencana pernikahannya dengan Radit.” Ujar Yuni lega.
__ADS_1
“Alhamdulillah, Jihan masih teguh pada pendiriannya.” Sahut Salma yang juga merasa senang. Sementara Arif hanya tersenyum.
“Tapi bagaimana dengan akta cerai Jihan? Apa suaminya mau mengurus perceraian mereka?” Tanya Yuni sedikit resah.
“Insha Allah, Mbak. Nanti saya coba bicarakan masalah itu pada keluarganya, saya harap mereka bisa mengerti dan menerima keputusan Jihan ini. Tapi sepertinya tanggal pernikahan harus kita undur sampai akta cerai itu keluar.” Sambung Arif.
“Apa enggak bisa mereka menikah siri saja dulu? Nanti setelah akta cerai Jihan keluar, baru mengurusnya ke kantor urusan agama.” Usul Yuni yang merasa keberatan kalau pernikahan sang putra harus diundur.
Arif memandang Jihan dan Salma bergantian untuk meminta persetujuan, dia sendiri ragu dan sedikit keberatan untuk menyetujui permintaan calon besan nya tersebut, namun dia juga tidak enak untuk menolak secara terang-terangan.
“Kalau Ummi setuju-setuju saja, sih? Niat baikkan harus disegerakan.” Kata Salma lalu menatap Jihan. “Kalau kamu gimana, Nak?”
Jihan terdiam seraya melirik Radit yang juga sedang menatapnya, dan duda rupawan itu mengerti jika sang calon istri merasa keberatan.
“Hem, sebaiknya pernikahan kita undur sampai akta cerai Jihan keluar saja!” Tukas Radit.
Yuni mengernyit. “Kenapa, Nak?”
“Aku ingin menikahi Jihan saat dia resmi bercerai secara agama dan hukum, aku enggak ingin menimbulkan masalah dengan melakukan sesuatu yang terburu-buru.” Tutur Radit.
Arif tersenyum menanggapi keputusan yang diambil sang calon menantu.
Yuni mengembuskan napas pasrah.“Baiklah kalau begitu, nanti saya bicarakan lagi dengan keluarga saya.”
“Iya, Mbak. Mudah-mudahan Allah memudahkan segalanya sampai hari H.” Pungkas Arif.
“Aamiin.”
Radit tak henti-hentinya tersenyum dengan perasaan yang bahagia.
☘️☘️☘️
__ADS_1