
Selepas shalat isya, Radit, Yuni dan seorang wanita tua yang tidak lain adalah kakak Yuni berkunjung ke salah satu pesantren di daerah Kediri.
Seperti yang dikatakan Yuni tadi pagi, dia ingin mengajak Radit bersilaturahmi dan berkenalan dengan seorang gadis cantik nan Sholehah, putri dari si pemilik pesantren.
“Jadi kedatangan kami ke sini untuk bersilaturahmi dengan keluarga Pak Kyai.” Ujar Yuli, kakak Yuni.
Seorang pria paruh baya bernama Umar tersenyum. “Terima kasih sudah mau berkunjung ke rumah kami ini.”
“Oh iya, Zahrah mana?” Tanya Yuli.
“Ada di kamarnya, Mbak.” Sahut seorang wanita yang merupakan istri kyai Umar.
“Bisa tolong dipanggilkan? Soalnya adik dan keponakan saya ini ingin berkenalan.” Terang Yuli.
“Iya, Mbak. Sebentar, ya!” Wanita berhijab syar'i itu beranjak dan masuk ke dalam salah satu kamar.
Tak lama kemudian, dia keluar lagi dengan seorang gadis cantik nan anggun. Keduanya duduk di hadapan Radit dan Yuni.
“Ini Zahra, cantik kan?” Yuli menyenggol lengan sang keponakan.
Radit tertegun memandangi sosok wanita berhijab yang kini duduk tertunduk di hadapannya. Seketika dia teringat Jihan yang sama kalemnya dengan gadis bernama Zahrah itu. Radit pun tersenyum penuh arti.
Setelah berbasa-basi dan berkenalan dengan keluarga Kyai Umar, Radit beserta Yuni dan Yuli pamit pulang. Ketiganya berjalan menuju mobil, namun seorang pemuda yang sedang duduk sambil membaca Al Qur'an di teras mesjid mencuri perhatian Radit.
“Ada apa, Nak?” Yuni bertanya karena melihat Radit tertegun memandang pemuda tersebut.
“Bunda dan Bude masuk ke mobil duluan, aku ada urusan sebentar.” Ucap Radit kemudian melangkah mendekati mesjid.
“Assalammualaikum.” Radit memberi salam.
“Wa’alaikumsalam.” Sahut pemuda yang tak lain adalah Ammar, dia menoleh dan terkejut melihat kemunculan Radit. “Pak Radit?”
“Apa kabar Ammar?” Tanya Radit sembari duduk di hadapan mantan suami Jihan itu.
“Alhamdulillah baik, Pak.” Jawab Ammar. “Pak Radit kenapa bisa ada di sini?”
“Saya ada urusan dengan pemilik pesantren ini.”. Sahut Radit.
__ADS_1
Ammar celingukan mencoba seseorang, tapi hanya ada mereka berdua di tempat itu. “Pak Radit sendiri?”
“Bareng Bunda dan Bude saya, tapi mereka sudah duluan masuk ke mobil.” Terang Radit. “Kamu sendiri sedang apa di sini?”
“Saya mondok di sini, Pak.”
Radit terkesiap. “Oh iya? Sudah berapa lama?”
“Sekitar sebulan lebih, Pak.”
“Alhamdulillah, semoga bisa mendapatkan ilmu yang bermanfaat dari sini.”
“Aamiin. Insha Allah, Pak.”
Radit tersenyum.
“Hem, bagaimana pernikahan anda? Kapan dilaksanakan?” Ammar bertanya dengan hati yang terluka, dia sebenarnya merasa tak enak pada Radit jika bertanya hal itu, tapi dia merasa penasaran.
Radit termangu, dia kaget bahwa ternyata Ammar belum tahu hal itu.
“Jadi kamu belum tahu?” Radit balik bertanya.
“Kami enggak jadi menikah.” Beber Radit lirih.
Ammar tercengang mendengarnya. “Anda serius?”
Radit mengangguk. “Iya, tepat di malam kamu menemui Jihan itu saya membatalkan semuanya.”
Ammar seketika merasa curiga. “Kenapa, Pak? Apa ada masalah?”
Radit menggeleng. “Enggak, enggak ada masalah, kok. Saya memutuskan untuk membatalkan rencana pernikahan kami karena saya enggak ingin egois dengan memaksakan kehendak kepada seseorang yang bukan ditakdirkan untuk saya.”
Ammar mengernyit bingung. “Maksud Pak Radit?”
“Saya tahu kamu dan Jihan masih saling mencintai, makanya saya enggak ingin menjadi orang ketiga.” Ujar Radit.
Mantan suami Jihan itu terdiam, dia bingung harus merespon seperti apa.
__ADS_1
“Kembalilah pada Jihan! Bahagiakan dia, jangan pernah mengulang kesalahan yang sama dan menyakiti dia lagi! Jihan wanita yang baik dan Sholehah, dia terlalu berharga untuk kamu sia-siakan.” Lanjut Radit.
“Tapi bagaimana dengan anda?”
“Saya enggak apa-apa, Insha Allah saya ikhlas asalkan Jihan bisa bahagia bersama orang yang dia cintai.” Ucap Radit penuh keikhlasan.
Ammar tertegun, dia bingung harus merasa sedih atau bahagia saat ini. Kenapa dia baru mengetahui kenyataan ini di saat perceraian dirinya dan Jihan sudah diputuskan oleh pengadilan agama, dan dia kembali teringat sikap Salma terhadapnya tempo hari. Ammar pesimis Jihan dan keluarganya akan menerima dia lagi.
“Ammar, kenapa kamu diam?”
“Saya enggak yakin masih bisa kembali bersama Jihan lagi, Pak?”
Radit mengerutkan keningnya. “Kenapa?”
“Saya dan Jihan sudah resmi bercerai, baru beberapa waktu lalu Papa mengirimkan akta cerainya ke Jihan. Dan Ummi Salma juga sepertinya enggak mengizinkan kami bersama lagi, dia marah pada saya karena semua yang saya lakukan dulu.” Ammar tertunduk lesu.
Radit memegang pundak Ammar. “Saya enggak tahu apa masalah kalian dulu sampai kalian harus berpisah seperti ini, tapi saran dari saya, selalu libatkan Allah dalam setiap urusan, minta petunjuk dan bantuan dari-Nya agar membimbing langkahmu serta memudahkan segalanya!”
Ammar bergeming, berusaha mencerna kata-kata Radit tersebut.
“Kalau begitu saya permisi dulu, Bunda dan Bude saya pasti sudah menunggu.” Radit beranjak dari duduknya, begitu pun dengan Ammar.
Ammar tersentak. “Iya, hati-hati, Pak.”
Kedua lelaki itu pun bersalaman sembari tersenyum.
“Assalammualaikum.”
“Wa’alaikumsalam.” Balas Ammar.
Radit buru-buru berjalan menuju mobilnya, dia sedang berusaha baik-baik saja, padahal hatinya tengah menahan perih. Bukan karena dia ingin berpura-pura, tapi itulah bentuk dari kedewasaan. Sesungguhnya ikhlas bukan berarti tiada tangis dan kepedihan, tapi penerimaan tanpa persoalan terhadap apa yang telah Allah tentukan.
Ammar menghela napas memandangi kepergian Radit, hatinya masih digelayuti kebimbangan dan kegalauan. Mungkinkah Jihan masih berjodoh dengannya?
Seketika dia teringat pertemuannya dengan Jihan kemarin di mesjid, saat itu Jihan menatapnya dengan sendu, mungkin berharap dia tegur atau sekedar menyapa, tapi dia justru mengabaikannya.
Sejumput rasa sesal kembali menyelusup ke dalam benaknya.
__ADS_1
☘️☘️☘️