Air Mata Istri Sholehah

Air Mata Istri Sholehah
Episode 27.


__ADS_3

Selesai Shalat Magrib, Ammar dan Jihan pun pergi ke supermarket, sebab Jihan baru ingat bahan-bahan makanan di lemari pendingin sudah banyak yang habis. Jihan memilih beberapa sayuran, daging, ikan dan juga bumbu dapur. Tak lupa juga dia membeli buah-buahan dan juga camilan. Sedangkan Ammar mengikuti istrinya itu sembari mendorong troli.


“Beli itu juga!” Ammar menunjuk deretan bungkus mie telur. “Besok pagi buatkan mie goreng seperti kemarin, ya? Aku mau sarapan itu.”


Jihan tersenyum dan mengambil tiga bungkus mie telur merek ternama dan memasukkannya ke dalam troli.


“Ada lagi yang mau Mas beli?” Tanya Jihan.


Ammar menggeleng. “Enggak. Kamu sudah selesai?”


“Sudah, Mas.”


Mereka pun berjalan menuju kasir dan membayar semua barang belanjaan itu.


“Sini aku bawa belanjaannya!” Ammar mengangkat dua plastik yang penuh dengan barang belanjaan tadi. Sementara Jihan hanya membawa satu plastik kecil yang berisi camilan.


“Aku lapar. Kita makan, yuk?” Ammar memandang Jihan dengan wajah melas.


“Iya, Mas.”


“Enaknya makan apa, ya?” Ammar celingukan mencari gerai yang menjual makanan, lalu menatap Jihan. “Kamu mau makan apa?”


“Aku ikut Mas saja!” Jawab Jihan. Sedari tadi dia tak henti-hentinya tersenyum sebab merasa bahagia bisa menghabiskan waktu bersama Ammar layaknya suami istri pada umumnya. Apalagi sekarang sikap Ammar sudah benar-benar berubah menjadi lebih lembut dan peduli kepadanya.


“Nah, di sana saja.” Ammar menunjuk gerai yang menjual makanan siap saji dengan dagunya.


Kaki mereka pun melangkah masuk ke dalam gerai itu. Namun tanpa Ammar sadari, Evan sedang memandangnya dari kejauhan.


“Bukankah itu Ammar? Kenapa bisa bareng wanita itu?”


“Kamu lihat apa, Van?” Tanya Miko yang heran melihat wajah bingung Evan.


“Itu pacarnya Miranda bareng wanita lain.” Sahut Evan.


“Maksudmu dia selingkuh?”


Evan menaikkan kedua bahunya. “Aku juga enggak tahu. Sebaiknya sekarang aku foto mereka dan kirim ke Miranda.”


Evan pun memotret Ammar dan Jihan yang duduk agak jauh dari mereka lalu mengirimkan fotonya ke Miranda.

__ADS_1


Sementara itu, Miranda masih setia menunggu Ammar di depan rumahnya walaupun perasaannya mulai kesal sebab kekasihnya itu tak kunjung pulang, dan semua pesannya tak satu pun ada yang di balas. Tapi Miranda berusaha sabar demi tujuannya.


Dan sebuah pesan dari Evan masuk ke ponsel Miranda.


“MIR, AKU LIHAT AMMAR DAN WANITA ITU SEDANG MAKAN. MEREKA JUGA BAWA BANYAK BELANJAAN.”


Rahang Miranda mengeras saat membaca pesan dari Evan itu, apalagi saat matanya melihat foto Ammar dan Jihan yang sedang duduk berdua serta terlihat mesar.


“Kurang ajar! Aku enggak bisa tinggal diam! Aku harus pisahkan mereka sebelum Ammar meninggalkan aku. Aku enggak boleh kehilangan Ammar sebelum tujuanku tercapai.” Batin Miranda.


Dia segera menghubungi Ammar, tapi lagi-lagi tak ada jawaban.


“Berengsek! Kau lihat apa yang akan terjadi.” Ucap Miranda dalam hati.


Miranda pun masuk ke dalam mobilnya dan bergegas pergi meninggalkan kediaman Ammar dengan perasaan geram. Bahkan dia sama sekali tak menegur Mang Jaja yang sedari tadi terus mengawasinya dari dalam pos jaga.


“Akhirnya nenek sihir itu pergi juga dari sini.” Gumam Mang Jaja lega.


☘️☘️☘️


Ammar dan Jihan sudah tiba di rumah, Jihan memasukkan barang-barang belanjaannya ke dalam lemari pendingin di bantu oleh Ammar. Setelah itu keduanya segera masuk ke dalam kamar masing-masing.


Di dalam kamar, Jihan kembali tersenyum senang, dia benar-benar merasa bahagia karena sekarang Ammar sudah bisa bersikap baik kepadanya. Lelaki itu tak lagi kasar dan dingin seperti sebelumnya, Jihan tak tahu apa yang membuatnya tiba-tiba berubah. Tapi sungguh dia mensyukuri segalanya.


Sedang Ammar masih duduk di tepi ranjang, dia mengotak-atik ponselnya dan mengembuskan napas melihat beberapa panggilan dan pesan dari Miranda.


Tak ingin membuat Miranda curiga, Ammar pun membalas pesan dari Miranda itu.


“MAAF, MIR. TADI PONSELKU KETINGGALAN DI MOBIL. AKU BARU BACA PESANMU.”


Tak disangka, Miranda kembali menelepon setelah membaca pesan Ammar. Dengan malas, lelaki berwajah rupawan itu terpaksa menjawabnya.


“Halo, Mir.”


“Kamu ke mana saja, sih? Aku menunggumu tadi, tapi kamu enggak pulang-pulang.”


“Tadi aku ke rumah Papa, ada urusan sebentar. Dan ponselku tertinggal di dalam mobil.” Kilah Ammar. Tentu dia harus berbohong.


“Sama wanita itu?”

__ADS_1


“Iya. Papa minta aku mengajaknya.” Jawab Ammar.


“Kamu sekarang berubah. Aku merasa kamu menjauhi aku.”


“Itu hanya perasaanmu saja. Aku masih sama seperti yang dulu.” Ujar Ammar dengan wajah malas.


“Sungguh? Aku pikir kamu berubah karena wanita itu. Bisa saja kan kamu mulai menyukainya.”


“Itu enggak mungkin!”


“Kalau begitu kenapa kamu enggak menyingkirkan dia, padahal ATM dan kartu kredit itu sudah kembali ke tanganmu?”


Ammar terdiam, dia bingung memilih alasan yang tepat.


“Aku masih memikirkan caranya.” Ucap Ammar, hanya itu yang bisa dia katakan.


“Bagaimana kalau aku bantu memikirkan caranya?”


“Hemm, nanti kita bahas lagi. Sekarang aku ingin mandi dulu, soalnya gerah banget.” Elak Ammar.


“Kamu selalu menghindar jika kita bahas masalah ini.”


“Bukan menghindar, aku pasti bahas ini nanti. Ok? Aku mandi dulu, ya?”


“Ya sudahlah, nanti aku hubungi kamu lagi.”


“Baiklah.”


Ammar segera mengakhiri pembicaraannya dengan Miranda, lalu melemparkan ponselnya ke atas kasur. Dia merasa kesal setiap kali Miranda membahas tentang niatnya untuk menyingkirkan Jihan, sebab dia sendiri merasa tak ingin melakukannya.


Ammar kembali mengembuskan napas berat. “Aku harus secepatnya mendapatkan informasi tentang siapa Miranda sebenarnya agar aku bisa terbebas dari wanita itu. Aku benar-benar muak dengan sandiwara ini.”


Ammar pun beranjak dari duduknya dan melangkah ke kamar mandi, sama seperti Jihan, dia juga merasa gerah sekali.


Di tempat yang berbeda, Miranda benar-benar merasa marah karena Ammar telah membohonginya. Dia sengaja berpura-pura tidak tahu untuk mengelabuhi lelaki itu.


“Rupanya kau ingin bermain-main denganku. Aku pastikan hubungan kalian akan hancur.” Geram Miranda dengan sorot mata penuh kebencian.


Dia pun segera menghubungi seseorang.

__ADS_1


“Ke apartemen ku sekarang juga! Aku ada pekerjaan untuk kalian!” Pinta Miranda sembari menyeringai licik.


☘️☘️☘️


__ADS_2