
Radit sudah menyampaikan keputusannya kepada Arif dan juga Salma, kedua orang itu terkejut bukan main mendengarnya.
“Kamu yakin dengan keputusan itu? Kenapa mendadak berubah pikiran begini?” Tanya Arif.
“Iya, Nak Radit. Kalau ada masalah, kita bisa bicarakan baik-baik, kenapa harus membatalkan semua ini?” Sela Salma.
“Insha Allah saya sudah yakin, Pak, Bu. Saya benar-benar minta maaf, saat ini, itulah yang terbaik untuk semuanya.” Sahut Radit lalu melirik Jihan yang tertunduk.
“Iya, tapi kenapa, Nak Radit?” Salma masih belum bisa terima.
“Karena saya sedang berusaha menerima bahwa enggak semua harapan akan menjadi kenyataan, Bu. Dan saya beranikan diri untuk merelakan Jihan, bukan karena saya menyerah, tapi saya sadar ada sesuatu yang enggak bisa dipaksakan.” Sahut Radit lirih.
“Apa Jihan melakukan kesalahan?” Salma yang masih bingung coba memastikan.
“Enggak, Bu. Jihan sama sekali enggak melakukan kesalahan, dia hanya terlalu takut melukai perasaan orang lain hingga dia lebih rela memendam perasaannya sendiri.”
“Saya paham sekarang. Kalau memang ini sudah menjadi keputusan kamu, kami enggak bisa bilang apa-apa lagi. Insha Allah ini adalah yang terbaik untuk kita semua.” Arif akhirnya buka suara setelah dia mencerna semua yang terjadi.
Radit tersenyum. “Aamiin, Pak.”
“Saya berharap silaturahmi kita tetap terjaga setelah ini.” Lanjut Arif.
“Insha Allah kita akan terus menjalin silaturahmi meskipun pernikahan saya dan Jihan batal.”
Arif mengangguk dan tersenyum. Dia sangat menghargai apa yang telah diputuskan oleh Radit dan dia juga mengerti alasan dibalik itu. Sementara Salma yang masih belum paham sepenuhnya, merasa kesal karena Arif tak melarang Radit.
“Hem, Mas.” Jihan yang dari tadi bergeming, akhirnya bersuara membuat semua orang menatapnya.
“Iya, ada apa, Jihan?” Tanya Radit.
“Aku ingin mengembalikan ini.” Jihan menyodorkan cincin pemberian Radit yang sudah dia copot dari jarinya.
Radit memandangi benda bulat itu dengan wajah sendu, tapi lalu tersenyum dan meraihnya.
“Terima kasih untuk semuanya.” Ucap Jihan tanpa berani memandang Radit.
“Iya, sama-sama.” Balas Radit.
__ADS_1
“Kalau begitu kami akan kembalikan barang-barang yang sudah Nak Radit berikan?” Arif teringat hantaran lamaran dari Radit.
“Enggak usah, Pak! Saya sudah ikhlaskan untuk Jihan saja.” Jawab Radit.
“Jangan begitu, Mas.” Tolak Jihan sungkan.
“Tidak apa-apa, Jihan. Buat kenang-kenangan.”
“Terima kasih banyak, Mas.”
Radit tersenyum. “Sama-sama. Kalau begitu saya permisi dulu, sekalian saya mau pamit pulang ke Jakarta.”
“Iya, Nak Radit. Hati-hati di jalan.”
“Assalamualaikum.”
“Wa’alaikumsalam.”
Radit pun beranjak meninggalkan kediaman Arif dengan hati sedih sekaligus lega.
“Abi kenapa diam saja dan enggak berusaha untuk mencegah Nak Radit membatalkan semua ini?” Protes Salma.
Wajah Salma terlihat kesal, dia lantas beralih menatap Jihan yang masih tertunduk. “Jihan, sebenarnya ada apa? Kenapa tiba-tiba Nak Radit mengambil keputusan ini?”
Dengan perlahan Jihan pun menceritakan pertemuannya dengan Ammar tadi hingga akhirnya Radit mengambil keputusan mengejutkan ini.
“Astaghfirullah, Jihan! Kenapa kamu ceroboh seperti ini, sebaiknya tadi kami hindari si Ammar itu. Buat apa bicara padanya? Lihat, sekarang Nak Radit jadi membatalkan semuanya!” Salma yang kesal mengomeli Jihan.
“Aku minta maaf, Ummi, Abi. Ini salahku!” Sesal Jihan dengan berlinang air mata.
“Sudah, Ummi! Di sini enggak ada yang salah! Semuanya sudah takdir, itu tandanya Jihan dan Nak Radit enggak berjodoh. Allah pasti punya rencana lain untuk mereka dan siapa pun jodoh Jihan nanti, itulah yang terbaik.” Sela Arif yang tak ingin Salma menyudutkan sang putri.
“Pokoknya biar pun Jihan enggak jadi menikah dengan Nak Radit, Ummi tetap enggak izin dia rujuk dengan Ammar!” Salma beranjak dan masuk ke dalam kamar.
Arif mengembuskan napas berat melihat sikap Salma yang selalu keras dan egois jika sudah menyangkut Jihan.
“Abi, aku minta maaf, ya?". Ucap Jihan pelan.
__ADS_1
“Sudah, enggak perlu minta maaf! Kamu enggak salah.”
“Padahal aku sudah yakin dan mantap memilih Mas Radit, tapi kenapa malah begini? Kenapa perasaanku pada Mas Ammar justru menghancurkan segalanya?” Jihan terisak.
Arif mengusap kepala Jihan yang tertutup hijab. “Nak, ketika Allah menitipkan cinta di hatimu, kamu enggak akan bisa memilih siapa yang kamu cintai ataupun menolak cinta yang datang. Karena sesungguhnya cinta itu titipan. Dan ada kalanya Allah menguji cinta yang dia titipkan, baik itu cinta kepada-Nya atau kepada hamba-Nya. Dia akan menguji seberapa kuat ikatan cinta itu, bisa saja dengan mengahdirkan cinta-cinta yang lain untuk sekedar memastikan bahwa cinta yang dia titipkan enggak berkurang kekuatannya atau malah mengambil kembali cinta itu.”
“Bisa saja saat ini Allah sedang menguji cinta mu untuk memastikan kekuatannya. Jangan lupa, Allah itu maha membolak-balikkan hati.” Lanjut Arif yang sejak awal tak ingin memaksakan apa pun pada sang putri.
“Tapi aku tetap merasa bersalah, Abi. Aku pasti sudah melukai perasaan Mas Radit dan Bu Yuni.”
“Insha Allah mereka pasti mengerti dengan semua ini. Jadi sebaiknya kamu jangan merisaukan apa pun lagi, berprasangka baiklah pada takdir Allah dan semakin mendekatkan diri kepada-Nya. Karena saat Allah memberimu cobaan dan rasa sakit, itu tandanya dia sedang ingin dekat denganmu.”
Jihan tertegun mendengar ucapan sang ayah, hatinya sedikit merasa tenang meskipun masih diliputi perasaan bersalah.
“Sebaiknya sekarang kamu shalat isya, Abi mau ke kamar dulu.”
Jihan mengangguk. “Iya, Abi.”
Arif pun beranjak meninggalkan Jihan, dia masuk ke dalam kamar dan melihat Salma sedang berbaring membelakanginya. Arif duduk di samping sang istri dan meli
“Ummi.”
“Hem.”
“Ummi sudah tidur?” Tanya Arif.
“Belum.”
“Bisa kita bicara?”
“Abi pasti mau membujuk Ummi agar merestui Jihan dan Ammar, kan?” Tebak Salma.
“Enggak, Abi cuma mau bilang agar Ummi jangan membuat Jihan semakin merasa bersalah. Kasihan dia!”
“Habis Ummi kesal, Abi! Ammar itu sudah menyakiti Jihan, tapi kenapa anak kita enggak bisa melupakan dia? Padahal Ummi sudah senang sekali akan memiliki menantu seperti Nak Radit, tapi semuanya gagal.”
“Ummi, jangan berlebihan menyukai atupun membenci seseorang! Karena kita enggak pernah tahu apa yang sedang Allah rencanakan melalui orang tersebut. Lagipula jodoh itu seperti Alif Lam Mim, hanya Allah yang tahu. Jadi sebaiknya kita pasrahkan segalanya pada ketentuan Allah dan ikhlas menjalani apa yang terjadi. Insha Allah kita akan bahagia dunia akhirat.” Arif mencoba menasihati istrinya itu agar enggak berlarut-larut menyesali apa yang telah terjadi.
__ADS_1
Sedangkan Salma hanya terdiam, tak bisa dipungkiri dia masih merasa kesal dan sedih atas keputusan Radit, namun ucapan sang suami sedikit menyadarkan dirinya bahwa dia sudah berlebihan dan tidak terima dengan takdir sang maha pencipta.
☘️☘️☘️