
Empat puluh lima hari kemudian ....
Sore ini Jihan sedang membantu Salma dan Aisyah menyiapkan bahan-bahan untuk membuat bubur besok, setiap hari ini sudah menjadi aktivitas Jihan dan dia melakukannya dengan senang hati.
“Oh iya, Mbak. Minggu ini ada pengajian di mesjid depan, Mbak ikut enggak?” Aisyah bertanya sambil memeras santan.
“Boleh juga, soalnya sudah lama Mbak enggak ikut pengajian karena repot jualan.” Sahut Salma.
Aisyah mengalihkan pandangannya ke sang keponakan. “Kamu juga ikut, kan?”
“Insha Allah, Bule.” Sahut Jihan.
“Permisi!” Tiba-tiba terdengar suara seorang pria dari pintu depan.
“Siapa itu?” Tanya Aisyah.
“Sebentar aku lihat dulu.” Jihan hendak beranjak, tapi Salma menahannya.
“Sudah biar Ummi saja, kamu teruskan pekerjaanmu.” Salma segera bangkit dan melangkah ke ruang tamu.
Tak berapa lama Salma kembali sambil membawa sebuah amplop besar berwarna coklat dan langsung menyodorkannya ke Jihan.
“Ini buat kamu.”
Jihan mengerutkan keningnya. “Buat aku? Apa ini, Ummi?”
“Ummi juga enggak tahu, coba kamu buka.”
Dengan hati-hati Jihan membuka amplop itu dan mengeluarkan secarik kertas, dia membaca isinya dengan saksama. Seketika jantung Jihan berdebar kencang dan mendadak lemas saat tahu itu akta cerainya. Berarti Ammar sudah mengurus perceraian mereka.
“Apa isinya, Nak?” Tanya Salma penasaran sebab melihat perubahan ekspresi wajah Jihan yang menjadi sendu.
__ADS_1
“Akta cerai aku dan Mas Ammar, Ummi. Sekarang kami sudah resmi bercerai secara agama dan hukum.” Jawab Jihan.
“Alhamdulillah kalau begitu, berarti kamu sudah enggak ada urusan lagi dengan dia.” Sahut Salma lega.
“Berarti Jihan sudah bisa bebas menikah.” Sela Aisyah.
Salma tersenyum penuh arti. Sedangkan Jihan hanya terdiam membisu.
“Aku simpan ini dulu.” Jihan beranjak meninggalkan Salma dan Aisyah, lalu masuk ke dalam kamarnya.
Di dalam kamar, Jihan kembali membuka akta cerai itu dan memandanginya dengan berlinang air mata. Kini selesai sudah hubungannya dengan Ammar, tak ada lagi yang tersisa selain kenangan baik dan buruk yang pernah mereka lalui. Entah apa yang akan Allah rencanakan untuknya setelah ini, dia hanya berharap agar terus bisa bersabar dan pasrah, dia percaya sang maha pencipta yang agung memiliki takdir yang baik untuknya kelak.
Jihan mengembuskan napas, dia sudah memutuskan untuk tidak kembali pada Ammar meskipun Radit telah membatalkan khitbah mereka, sebab dia tak ingin membuat Salma sedih, karena dia tahu sang Ummi masih tidak merestui.
Dengan perlahan dia menarik laci meja nakas dan menyimpan lembaran kertas tersebut, kemudian beranjak dari duduknya dan berdiri di depan cermin. Jihan menatap dirinya, kini statusnya adalah seorang janda meskipun dia masih perawan, karena Ammar tak pernah menyentuhnya sama sekali. Hal itu yang membuat mereka resmi bercerai secara agama tanpa masa Iddah ketika Ammar menjatuhkan talak.
Jihan pun mengusap air matanya lalu segera kembali ke dapur untuk membantu Salma dan Aisyah.
☘️☘️☘️
“Assalammualaikum.”
“Wa’alaikumsalam.” Pemuda itu menyahut kemudian mengangkat kepalanya menatap Yusuf dan Anita yang berdiri tak jauh darinya. “Papa? Mama?”
“Ammar, anakku sayang.”Anita langsung menghampiri putranya itu.
Pemuda yang tak lain adalah Ammar itu menutup Al Qur'an yang dia pegang, lalu beranjak dan menyalami kedua orang tuanya.
Sudah sebulan lebih ini Ammar tinggal di pesantren yang berada di belakang mesjid tersebut, dia memutuskan untuk hijrah dan lebih mendekatkan diri kepada Allah. Ammar mencoba mencari ketenangan dan berusaha agar bisa menjadi pribadi yang lebih baik lagi, meninggalkan hiruk pikuk dan gemerlap duniawi demi bisa mengejar surga yang Allah janjikan.
“Mama kangen banget dengan kamu, sayang.” Anita langsung memeluk tubuh Ammar, dia begitu rindu karena sudah sebulan ini tidak bertemu dengan sang putra.
__ADS_1
“Aku juga kangen banget dengan Mama dan Papa.” Balas Ammar.
“Kamu apa kabar, Nak?” Tanya Yusuf.
“Alhamdulillah, baik, Pa.” Jawab Ammar, lalu balik bertanya. “Papa dan Mama sendiri apa kabar?”
“Alhamdulillah, kami juga baik.” Sahut Yusuf sembari mengusap kepala putra semata wayangnya itu.
“Bagaimana di sini? Betah?” Tanya Yusuf lagi.
“Alhamdulillah betah, Pa. Kalau enggak betah pasti aku sudah kabur pulang ke rumah.” Seloroh Ammar.
Yusuf dan Anita tertawa menanggapi kelakar putra mereka itu.
“Memangnya kamu enggak bosan?” Anita penasaran dengan keadaan putranya itu selama berada di pondok pesantren ini.
Ammar menggeleng. “Enggak, Ma. Di sini aku menemukan ketenangan dan ilmu yang banyak. Siapa tahu keluar dari sini aku bisa jadi guru agama.”
Yusuf dan Anita lagi-lagi tertawa mendengar candaan putra mereka itu. Keduanya bersyukur karena pilihan Ammar tepat untuk menghabiskan waktu di pesantren dan belajar agama. Ammar terlihat jauh lebih baik dan ceria dari beberapa Minggu yang lalu.
“Kalau begitu sekarang kita temui Kyai Umar dulu, yuk!” Ajak Yusuf.
Ammar mengangguk patuh. “Iya, Pa.”
Ketiganya melangkah ke belakang mesjid dan segera menuju rumah Kyai Umar yang tak lain adalah pemilik pesantren sekaligus kerabat jauh Yusuf.
Meskipun perpisahannya dengan Jihan sempat membuat Ammar terpuruk dan hancur, dia tak ingin tenggelam dalam rasa sesal serta berlarut-larut meratapi takdirnya. Dia sadar semua yang ada di dunia ini hanya titipan dari Allah, termasuk Jihan dan dirinya sendiri. Jadi dia berusaha untuk pasrah dan ikhlas saat Allah ingin mengambil titipan-Nya.
Dia tahu tak selamanya kenyataan akan sesuai dengan harapan, adakalanya kita diberikan cobaan agar bisa merasakan nikmat dari keikhlasan.
Ammar sudah ikhlas melepaskan Jihan serta berharap wanita yang masih dia cintai itu bahagia bersama orang lain, dan menjadikan apa yang terjadi sebagai pelajaran hidup yang berharga agar kelak dia lebih bersyukur atas nikmat dan anugerah yang telah Allah berikan. Ternyata ini cara Allah untuk mendekatinya.
__ADS_1
☘️☘️☘️