Air Mata Istri Sholehah

Air Mata Istri Sholehah
Episode 63.


__ADS_3

Begitu mendapatkan kabar jika Arif dan Salma kecelakaan, Yuni beserta Radit pun menjenguk mereka.


“Begitu mendengar kabar dari Aisyah jika Mas Arif dan Mbak Salma kecelakaan, saya langsung ajak Radit ke sini. Saya panik dan cemas sekali.” Ujar Yuni heboh.


“Terima kasih sudah mencemaskan kami dan repot-repot datang ke sini.” Ucap Arif sedikit sungkan.


“Ah, tidak repot sama sekali, kok. Kita kan tetangga, sudah seharusnya saling peduli satu sama lain, apalagi sebentar lagi kita akan jadi keluarga.” Balas Yuni.


Arif dan Salma tersenyum menanggapi ucapan wanita berhijab itu. Sementara Radit sejak tadi hanya fokus menatap Jihan yang tertunduk di hadapannya.


“Oh iya, jadi Nak Radit kapan balik ke Jakarta?” Arif yang menyadari sejak tadi Radit terus memandangi Jihan sengaja bertanya agar lelaki itu mengalihkan pandangannya.


Radit terkejut dan langsung mengalihkan pandangannya ke Arif. “Rencananya sore ini, Pak. Tapi sepertinya saya tunda jadi besok saja.”


Arif mengerutkan keningnya. “Kenapa?”


“Hem, tiba-tiba saya malas, Pak.” Sahut Radit lalu tertawa.


“Biasalah, Mas. Kalau sudah dekat bundanya, dia jadi malas balik ke Jakarta. Apalagi pujaan hatinya juga ada di sini.” Ledek Yuni, membuat Arif dan Salma ikut tertawa.


Sementara Radit hanya tersenyum malu-malu. Sebenarnya dia menunda kepulangannya sebab tak enak karena calon mertuanya baru saja kecelakaan dan dia ingin menghibur Jihan agar tidak bersedih, walaupun dia tidak tahu caranya.


Sore harinya, Radit dibantu Asep dan Joko memperbaiki sepeda motor Arif. Untung saja rusaknya tidak terlalu parah, jadi tidak perlu dibawa ke bengkel.


Jihan menghampiri ketiga pria itu sambil membawa nampan berisikan teh manis dingin.


“Ini, diminum dulu, Mas!” Ujar Jihan pelan.


Radit menoleh dan mengambil segelas teh manis dingin yang Jihan sodorkan. “Terima kasih, jihan.”


“Cie, calon suami saja yang ditawarin? Kita berdua enggak, nih?” Ledek Asep.


Wajah Jihan mendadak merona, dia tersenyum malu-malu.


“Ini ada dua gelas lagi untuk kalian.” Sela Radit.


Asep dan Joko tertawa lalu bergegas mengambil jatah es teh manis mereka.

__ADS_1


“Kamu enggak minum juga?” Tanya Radit basa-basi, dia bingung harus berkata apa.


“Tidak, Mas.”Sahut Jihan.


“Jihan!” Tiba-tiba Aisyah memanggil.


Jihan sontak menoleh. “Iya, Bule.”


“Yuk, bantu Bule menyiapkan bahan-bahan membuat bubur untuk besok!” Pinta Aisyah.


“Loh, besok jualan? Bukannya Abi dan Ummi sedang sakit, Bule?”


“Besok Abi dan Ummi kamu enggak usah ikut jualan, biar kita saja dibantu sama Asep dan Joko. Sayang kalau enggak jualan, pelanggan nanti kecewa.” Ujar Aisyah.


“Iya, Bule.” Sahut Jihan.


“Kalau kamu mau, saya juga bisa bantu di warung.” Ujar Radit.


Jihan menggeleng. “Tidak usah, Mas. Tidak enak dilihat orang, nanti jadi fitnah.”


“Iya, Mas.” Joko menimpali.


Radit hanya tersenyum menanggapi ocehan dua kakak beradik itu.


“Kalau begitu saya ke dalam dulu, Mas.” Ucap Jihan.


Radit mengangguk. “Iya.”


Jihan buru-buru berlalu dari hadapan Radit yang terus memandangi kepergiannya.


“Jangan dipandangi terus, Mas. Jihan enggak lari, kok!” Sindir Asep.


Radit langsung memalingkan wajahnya dan tersenyum malu.


☘️☘️☘️


Malam ini lagi-lagi Ammar berkeliling, menyusuri jalanan sekitar rumah sakit tadi. Dia tak ingin menyerah, saat ini dia sudah mendapatkan titik terang keberadaan Jihan, walaupun belum mengetahui di mana pastinya wanita yang dia cintai itu tinggal.

__ADS_1


Sejujurnya Ammar masih merasa galau dan bertanya-tanya siapa pria yang membonceng Jihan tadi? Tapi dia tak ingin berprasangka buruk, dan beranggapan mungkin saja itu hanya driver ojek online.


Ammar memacu mobilnya dengan cukup pelan, dia celingukan kesana-kemari, berharap bisa menemukan sosok yang sangat dia rindukan itu.


“Kamu di mana, Jihan?”


Ammar tak pernah menduga akan sesulit ini menemukan Jihan dan keluarganya, setahun bukan waktu yang sebentar untuk mencari mereka. Namun tak juga membuahkan hasil.


Dan karena melihat Jihan tadi, rasa rindu Ammar semakin menggebu-gebu, dia ingin sekali memeluk wanita yang masih terikat pernikahan dengannya itu.


“Ya Allah, aku mohon pertemukan kami.” Harap Ammar.


Dia kemudian membelokkan mobilnya ke sebuah jalan kecil, entah mengapa instingnya menuntun dirinya ke sini. Dengan perlahan Ammar melajukan mobilnya, dia memperhatikan rumah-rumah warga yang sudah terlihat sepi karena waktu telah menunjukkan pukul sepuluh malam.


Karena jalan tersebut buntu dan tidak lebar, Ammar memutuskan untuk putar balik. Dia masuk ke sebuah pekarangan rumah yang cukup luas lalu memutar arah mobilnya di sana, dan kemudian melesat meninggalkan rumah tersebut.


Karena mendengar ada suara mobil yang mendekat ke rumah mereka, Jihan pun mengintip dari jendela. Dia sempat melihat sebuah mobil sedan hitam melaju pergi.


“Ada apa, Nak?” Tanya Arif.


“Tadi ada mobil yang masuk ke pekarangan rumah kita, Abi. Tapi sekarang sudah pergi.” Jawab Jihan.


“Oh, paling orang mau putar balik, kan jalannya sempit.”


“Iya, kayaknya begitu, Abi.”


“Ya sudah, kamu tidur! Besok kan harus bangun pagi-pagi sekali.” Pinta Arif.


“Baik, Abi. Kalau begitu aku tidur dulu.” Jihan bergegas masuk ke dalam kamarnya.


Begitu pun dengan Arif, dia berjalan dengan terpincang-pincang kembali ke kamarnya.


☘️☘️☘️


BESTie, jangan lupa like, komen dan masukkan rak novel ini ya.☺️


Semoga kalian tidak bosan dan masih setia menunggu kelanjutan kisahnya.

__ADS_1


__ADS_2