Air Mata Istri Sholehah

Air Mata Istri Sholehah
Episode 23.


__ADS_3

Ammar pulang ke rumah, dia sengaja berbohong kepada Miranda untuk menghindari pembicaraan tentang Jihan, sebab dia sendiri pun tak tahu harus berkata apa. Ammar melangkah gontai menuju anak tangga, dia sangat lelah hari ini. Tapi kakinya berhenti saat melewati dapur dan mencium aroma makanan yang begitu menggugah selera, dia pun berubah haluan dan berjalan ke dapur. Ternyata Jihan sedang memasak.


Ammar bersandar di pintu dapur sambil melipat kedua tangannya di depan dada, dia terus memperhatikan Jihan yang sedang fokus memasak, sehingga tak menyadari kehadirannya. Perut Ammar pun keroncongan, mendadak dia merasa lapar.


Jihan berbalik hendak mengambil piring, dan terperanjat saat melihat Ammar berdiri di belakangnya.


“Astagfirullah, Mas. Ya Allah, aku kaget banget.” Seru Jihan sembari mengelus dadanya.


Ammar tersenyum. “Habis kau masaknya terlalu fokus, sampai enggak sadar aku datang.”


“Mas juga datangnya enggak ada suara, mana aku tahu.” Kilah Jihan, dia memindahkan masakan dari wajan ke dalam piring.


“Jadi aku harus teriak-teriak, begitu?”


“Ya enggak, sih, Mas. Cukup kasih salam saja.” Balas Jihan.


Ammar meringis. “Aku lupa!”


Jihan hanya geleng-geleng kepala mendengar jawaban Ammar, bisa-bisanya dia lupa memberi salam saat masuk ke dalam rumah.


“Kau masak apa?” Tanya Ammar sambil berjalan mendekati Jihan.


“Mie goreng, Mas.”

__ADS_1


“Hanya segini?” Ammar menunjuk sepiring mie goreng yang terhidang di atas meja.


Jihan mengangguk. “Iya, segini saja bisa habis, sudah syukur, Mas. Aku enggak bisa makan banyak.”


“Maksudnya, kau enggak buat untukku juga?”


Jihan tercengang, dia sungguh tak menyangka Ammar akan mengatakan hal itu. “Aku pikir Mas enggak mau makan masakan ku. Biasanya kan Mas selalu makan di luar.”


Ammar tergagap, dia sadar telah bersikap tak baik selama ini dengan menolak makanan yang dibuatkan oleh istrinya itu. Dan belakangan ini, Jihan memang tak pernah membuatkan makanan untuk Ammar. Baru tadi pagi dia memasakkan sarapan lagi, itu pun sekalian untuk mertuanya.


“Hem, aku sedang malas makan di luar. Bosan!” Dalih Ammar.


Jihan tersenyum. “Kalau begitu aku akan masakan lagi untuk Mas. Tunggu sebentar, ya?”


Senyum Jihan semakin lebar. “Ya sudah, Mas makan yang ini saja. Nanti aku masak lagi untukku. Lagi pula aku belum lapar, kok.”


Jihan sengaja berbohong, padahal sebenarnya dia juga sudah merasa lapar. Tapi bisa melihat Ammar makan masakannya adalah hal yang lebih penting.


“Benar ini?”


Jihan mengangguk lalu menyodorkan piring berisi mie goreng itu ke hadapan Ammar. “Ini Mas makan saja!”


Ammar langsung menyantap makanan di hadapannya dengan lahap, dia benar-benar kelaparan. Apalagi mie goreng buatan Jihan itu sangat lezat. Jihan hanya tersenyum sembari geleng-geleng kepala, Ammar bahkan lupa membaca doa atau sekedar mengucap bismillah sebelum makan.

__ADS_1


Jihan terus memandangi Ammar makan, sungguh hatinya merasa benar-benar bahagia. Berharap ini pertanda baik dalam rumah tangganya. Insya Allah.


Krrruuukk ....


Namun tiba-tiba terdengar suara dari perut Jihan, Ammar sontak menatapnya.


“Kau berbohong? Katanya belum lapar, tapi perutmu keroncongan begitu.”


Jihan cengengesan. “Baru terasa laparnya, Mas.”


Ammar sontak menyendok kan mie goreng itu dan menyodorkannya ke depan mulut Jihan.


“Aaa ... buka mulutnya!” Pinta Ammar.


Jihan tertegun, dia benar-benar tak menyangka Ammar akan menyuapkan makanan untuknya.


“Ayo buka mulutnya! Kenapa diam?”


“Bismillahirrahmanirrahim.” Ucap Jihan pelan kemudian membuka mulutnya, dan memakan mie yang Ammar sodor kan. Jihan sungguh tak kuasa menahan hawa panas di wajahnya yang kini pasti sudah merah.


Akhirnya mereka makan sepiring berdua, membuat hati Jihan berbunga-bunga, sesederhana itu kah bahagia?


Perasaannya yang selama ini porak-poranda akibat sikap dingin dan perlakuan kasar Ammar, kini perlahan mulai merasakan ketenangan dan kebahagiaan. Kalau boleh meminta pada sang maha kuasa, Jihan ingin bisa seperti ini terus bersama cinta pertamanya itu. Dia berharap ini adalah pertanda baik bagi hubungan rumah tangga mereka.

__ADS_1


☘️☘️☘️


__ADS_2