
“Hem, Mir. Sebutkan, dong, satu persatu nama teman-teman kita, jadi nanti kalau reuni, aku sudah tahu.” Pancing Ammar.
Miranda termangu, sejenak dia terdiam mendengar permintaan Ammar tersebut, hatinya kembali dongkol.
Dia pun mengembuskan napas kesal, kemudian menyebutkan satu persatu nama-nama yang juga disebutkan oleh Jihan malam itu, tapi tentu dia tak menyebutkan nama Jihan. Ammar tertegun karena Miranda mengetahuinya. Untung saja Ammar sudah menghafal nama teman-temannya.
“Dia tahu, dan persis seperti yang Jihan sebutkan.” Ucap Ammar dalam hati.
“Itu nama teman-teman kita.” Ujar Miranda setelah selesai menjawab pertanyaan Ammar.
“Kalau foto mereka, kamu ada enggak?”
“Aku enggak ada simpan foto mereka. Soalnya ponselku hilang, jadi foto-foto bersama mereka semuanya juga ikut hilang.”
“Di sosial media mu juga enggak ada?”
Miranda menggeleng. “Aku enggak pernah posting foto bersama mereka.”
Ammar kembali tersenyum samar, alasan Miranda sudah cukup membuktikan jika dia memang tak berhubungan baik dengan teman-teman sekolah Ammar atau bahkan mungkin dia tak mengenal mereka sama sekali. Tapi bagaimana dia bisa tahu nama-nama mereka? Misteri ini bagai kepingan puzzle yang masih berserakan. Benar-benar membingungkan.
“Terus dulu sewaktu sekolah, aku orangnya bagaimana? Aku nakal enggak?” Pancing Ammar lagi.
“Kamu itu populer tapi sangat nakal, kamu suka jahil dan mem-bully teman-teman yang lain. Bahkan kamu sering banget menghina dan mem-bully seorang siswa bernama Abbas sampai dia trauma dan akhirnya menghilang dari sekolah. Padahal dia enggak pernah punya salah sama kalian, dia hanya anak yang terlahir berbeda. Tapi dengan kejamnya kalian melukai perasaannya. Kasihan sekali dia.” Miranda menceritakan kelakuan Ammar saat di sekolah dulu dengan wajah yang sedih dan mata yang berkaca-kaca, suaranya bahkan bergetar menahan tangis.
__ADS_1
Dan sekali lagi Ammar terkejut karena cerita yang disampaikan Miranda sama persis seperti yang dikatakan Jihan malam itu.
“Dia juga tahu. Sebenarnya siapa dia?” Batin Ammar bingung.
“Apa benar aku sejahat itu pada Abbas?" Ammar pura-pura tak percaya.
“Iya, kau dan semua orang sudah keterlaluan padanya, kalian telah menyakiti dia tanpa belas kasih!”Sungut Miranda.
“Apa kamu tahu di mana Abbas? Aku ingin minta maaf padanya.” Cecar Ammar. Berharap Miranda mengetahuinya.
Miranda menggeleng dengan sorot mata yang dipenuhi kilatan amarah serta kebencian. “Dia sudah mati! Abbas sudah enggak ada lagi di dunia ini. Jadi permintaan maaf darimu sudah enggak ada arti lagi!”
Ammar terkesiap, tak percaya dengan apa yang Miranda katakan. “Kamu serius? Berarti kamu tahu tentang dia?”
Ammar mengembuskan napas panjang, dia semakin bingung, harus percaya atau tidak pada penuturan Miranda. Benarkah Abbas itu sudah tiada? Atau Miranda lagi-lagi hanya berbohong?
Tak ingin memperpanjang obrolan tentang Abbas, Miranda mengalihkan pembicaraan.
“Jadi bagaimana? ATM dan kartu kredit mu sudah dikembalikan?” Tanya Miranda.
“Sudah. Papa sudah mengembalikannya semalam.”
Miranda tersenyum senang. “Kalau begitu kau harus segera menyingkirkan istrimu. Kan ATM dan kartu kreditnya sudah kau dapatkan kembali.”
__ADS_1
Ammar menelan ludah. Iya, dia memang pernah berniat seperti itu, menyingkirkan Jihan dari hidupnya setelah dua kartu sakti itu kembali di genggamannya. Tapi sekarang dia berubah pikiran.
Setelah mengetahui bahwa Jihan adalah teman baiknya dan Miranda berbohong, Ammar merasa hatinya enggan melepaskan wanita berhijab itu. Dia ingin Jihan tetap ada disisinya.
“Sayang, jangan bilang kamu berubah pikiran.” Tebak Miranda karena melihat Ammar terdiam membisu.
“Kita bahas lain kali, ya. Aku baru ingat kalau harus buru-buru ke rumah Papa, soalnya ada berkas yang terbawa aku.” Ammar beranjak dari duduknya.
“Memangnya enggak bisa besok saja? Kan kalian satu kantor, pasti bertemu.” Protes Miranda, dia berusaha menahan Ammar.
“Papa mau pelajari dulu berkas-berkasnya, jadi besok tinggal di presentasikan saja di rapat.” Dalih Ammar, dan jelas dia berbohong seratus persen.
Wajah Miranda mendadak masam.
“Aku pulang dulu.” Ammar bergegas pergi dari rumah kekasihnya itu.
“Hem.”
Miranda benar-benar kesal, dia tahu Ammar sengaja menghindar saat dia menagih janjinya itu. Dia semakin yakin kalau lelaki itu sudah mulai terpengaruh oleh Jihan dan mulai mencari tahu tentangnya dan juga masa lalu mereka.
“Berengsek! Aku tahu pasti ada sesuatu. Aku sudah sejauh ini, dan aku enggak akan mundur. Kita lihat saja apa yang akan terjadi nanti.” Geram Miranda sambil menyeringai licik, dia tentu tak akan tinggal diam, dia harus melakukan sesuatu agar rencananya berjalan dengan lancar dan menyingkirkan apa pun yang menjadi penghalangnya, termasuk Jihan.
☘️☘️☘️
__ADS_1