
Ammar pulang ke rumahnya, sejujurnya dia sangat lelah dan mengantuk, tapi tak mudah baginya untuk terlelap. Pikirannya kacau, hatinya galau. Dia merasa semesta sedang mengajaknya bercanda, di saat dia mulai menemukan kebahagiaan, tiba-tiba rasa sakit menghantam relung hatinya tanpa ampun. Menghempaskan nya hingga terjerembap ke dalam jurang kehancuran dan tak memberinya kesempatan untuk bangkit. Saat ini hidupnya berada di titik nadir dan tak ada seorang pun yang bisa menariknya untuk kembali berdiri. Miris sekali.
Ammar membaringkan tubuh lelahnya di atas ranjang lalu memejamkan mata, dia mencoba menguatkan hatinya, tapi semakin dia ingin berusaha tegar, hatinya semakin rapuh dan bagai hancur berkeping-keping.
“Kenapa semua ini menimpaku?” Ujar Ammar. “Apa ini hukuman atas segala perbuatan buruk ku selama ini? Apa Kau marah padaku, ya, Allah?”
Air mata Ammar jatuh menetes. Dia pernah berada antara hidup dan mati, lalu kehilangan seluruh ingatannya dan sekarang dia mendapati kenyataan jika orang-orang yang dia percaya mengkhianatinya.
Kalau sudah begini, pantaskah Ammar marah pada takdir? Berteriak lantang melawan nasib. Sedangkan dia hanyalah manusia biasa.
“Ammar! Sayang, kamu di mana?”
Tiba-tiba terdengar suara teriakkan seseorang, Ammar tahu betul suara siapa itu. Dia sontak bangkit dari pembaringan dan bergegas keluar dari kamar.
“Miranda?” Ammar terkesiap melihat sosok seksi itu sudah berdiri di depan pintu kamarnya. Sedangkan Mang Jaja terpaku tak jauh dari mereka.
“Kamu di sini rupanya.” Miranda hendak memeluk Ammar, tapi lelaki itu segera mundur untuk menghindar.
Ammar lalu memandang Mang Jaja. “Kenapa dia bisa masuk ke sini, Mang? Memangnya Mang Jaja enggak larang?”
“Maaf, Den. Tadi sudah saya larang, tapi Mbaknya nekat menerobos masuk.”
“Kamu kok begitu sama aku? Kenapa aku enggak boleh masuk?” Tanya Miranda dengan suara yang manja.
Ammar beralih memandang Miranda dengan tatapan tajam. “Ini untuk terakhir kalinya aku katakan, jangan pernah ganggu aku lagi! Karena aku enggak jamin akan bersikap baik jika kau masih berani mengusik hidupku.”
Miranda merasa geram dengan ucapan Ammar, tapi dia berusaha tetap bersikap manis. “Kamu kenapa, sih? Aku salah apa sampai kamu tiba-tiba berubah seperti ini? Apa semua ini karena wanita itu? Iya?”
“Jangan pura-pura bodoh! Kau pikir aku enggak tahu kalau kau itu berbohong? Kau bukan teman sekolahku! Dan aku yakin, ceritamu tentang janji yang ku buat itu cuma omong kosong! Kau memanfaatkan keadaanku demi sebuah tujuan, kau hanya ingin mengambil keuntungan dari ku. Jadi sekarang juga pergi dari sini! Aku muak melihat wajahmu!”
Miranda terkesiap, sekarang terjawab sudah kecurigaan nya tentang perubahan sikap Ammar.
__ADS_1
“I-itu enggak benar! Aku enggak pernah membohongimu! Kau harus percaya padaku!” Sanggah Miranda.
Ammar tersenyum sinis. “Sayangnya aku enggak bisa percaya kepada siapa pun lagi. Semuanya pengkhianat!”
“Sayang, kalau aku berbohong, bagaimana mungkin aku tahu semua masa lalu mu? Bahkan aku juga tahu tentang kecelakaan nahas itu.”
“Aku enggak tahu kau dapat semua informasi itu dari mana dan aku juga enggak peduli tentang hal itu. Karena saat ini aku hanya ingin kau pergi dari hidupku! Ngerti!”
“Ammar aku mohon jangan seperti ini! Kau kan tahu aku membutuhkanmu.” Miranda hendak meraih tangan Ammar, tapi dengan cepat lelaki itu mengelak.
“Kau enggak membutuhkan aku, kau hanya butuh uangku!” Sungut Ammar. “Pergi dari sini!”
Miranda menggelengkan kepalanya. “Enggak! Aku mohon jangan begini!”
“Pergi!” Bentak Ammar. “Sebelum aku berbuat kasar!”
Miranda bergeming dan tetap terpaku di tempatnya, membuat emosi Ammar semakin meledak karena sikap keras kepalanya itu.
“Ammar jangan!”Pekik Miranda panik.
Mang Jaja hanya bisa terbengong-bengong melihat adegan di depan matanya tanpa ada keberanian untuk ikut campur, dia lantas tergopoh-gopoh mengikuti langkah Ammar dan Miranda.
“Ammar, lepaskan! Kau menyakiti tanganku!” Miranda mencoba melepaskan lengannya dari cengkeraman Ammar.
“Aku bahkan bisa mematahkan tanganmu jika kau masih mengabaikan peringatan ku!”
Kecam Ammar tanpa menggubris keluhan wanita itu.
Ammar menyeret Miranda sampai keluar rumah lalu mendorong wanita itu hingga tersungkur ke lantai teras.
“Aduh.” Miranda merintih sembari memegangi kaki kirinya. “Ammar, kakiku sakit sekali.”
__ADS_1
Ammar melirik kaki Miranda lalu menyeringai. “Aku sudah peringatkan sebelumnya, tapi kau masih keras kepala. Jadi jangan salahkan aku kalau kasar kepadamu!”
“Ammar, aku ini kekasihmu. Aku orang yang kamu cinta, aku yang selalu ada di masa-masa tersulit mu. Apa kau lupa? Kenapa kau tega menyakitiku?”
Ujar Miranda dengan air mata berlinang.
“Aku ingat, tapi mulai sekarang kau bukan kekasihku lagi. Dan aku sadar, perasaanku kepadamu selama ini hanya sebatas rasa kasihan, enggak lebih. Sudahlah, hentikan semua sandiwara ini! Aku muak!”
“Ammar, tolong jangan begini! Aku enggak mau kehilangan dirimu.” Rengek Miranda. Dia masih berusaha merayu Ammar walau sebenarnya hatinya sudah geram setengah mati dengan sikap lelaki itu.
“Pergi dari sini dan jangan pernah menggangguku lagi. Atau aku akan membunuhmu!” Ancam Ammar.
“Kau pasti akan menyesali semua ini!”
“Sekarang saja aku sudah menyesal karena pernah percaya padamu.” Balas Ammar. “Cepat pergi!”
Dengan susah payah Miranda bangkit dan berdiri, lalu berjalan dengan terpincang-pincang menuju mobilnya.
“Oh iya, satu hal lagi!” Teriak Ammar. Membuat Miranda menghentikan langkahnya namun tak berbalik.
“Aku sudah ikhlaskan semua yang aku berikan kepadamu, aku anggap itu sedekah untuk anak yatim piatu. Itu pun kalau kau memang benar-benar hidup sebatang kara seperti yang kau katakan.” Lanjut Ammar dengan maksud menyindir.
Miranda mengepalkan tangannya dengan rahang yang mengeras, kemudian kembali melanjutkan langkahnya dan masuk ke dalam mobil lalu melesat pergi.
Di dalam mobilnya, Miranda melampiaskan kekesalan hatinya dengan memukul setir mobil berulang kali.
“Aaaaaaa ... berengsek!” Teriak Miranda geram.
“Aku akan menghancurkan mu perlahan-lahan, sampai kau tahu rasanya terpuruk itu seperti apa” Ucap Miranda sinis sambil mengusap air matanya.
Tadinya dia berharap Ammar luluh dengan rayuan dan air matanya, agar dia masih bisa memanfaatkan lelaki itu lagi. Tapi ternyata Ammar malah bersikap kasar bahkan mengusirnya seperti ini.
__ADS_1
☘️☘️☘️