Air Mata Istri Sholehah

Air Mata Istri Sholehah
Episode 61.


__ADS_3

Pagi ini seperti biasa setelah shalat subuh, Arif dan Salma akan pergi ke warung untuk berjualan bubur. Mereka mengendarai sepeda motor sejuta umat yang penuh dengan barang bawaan. Sedangkan Jihan dan Aisyah akan menyusul nanti setelah selesai membereskan rumah.


Sepeda motor Arif melaju perlahan di jalanan yang sudah mulai ramai, udara pagi yang dingin tak menyurutkan semangat pasangan suami istri itu untuk mencari nafkah.


Namun rupanya Allah punya rencana lain, saat hendak menyeberang jalan, tiba-tiba sebuah mobil melaju dan menghantam motor Arif. Pasangan suami istri itu sontak terjatuh, dan barang-barang bawaan mereka berceceran di aspal.


Melihat ada kecelakaan, orang-orang yang berlalu lalang langsung berdatangan dan segera memberikan pertolongan.


Di rumah, Jihan yang sedang menyapu terkejut minta ampun saat pigura foto Salma dan Arif tiba-tiba jatuh dan pecah.


“Astagfirullahalazim!” Jihan memekik kaget.


“Ada apa, Jihan?” Tanya Aisyah yang mendadak keluar dari dapur.


“Ini Bule, foto Abi dan Ummi tiba-tiba jatuh.” Terang Jihan, perasaannya mulai tak enak, tapi dia tak mau berprasangka buruk.


“Mungkin terkena angin.”


“Mungkin, Bule.”


“Ya sudah, kamu bersihkan pecahan kaca nya! Awas beling nya kena kaki.”


“Iya, Bule.”


Jihan mengutip pecahan pigura itu dengan hati-hati, namun Asep tiba-tiba datang dan berteriak mengangetkan nya.


“Jihan! Jihan!”


“Kamu kenapa teriak-teriak, Nak?” Tegur Aisyah.


Jihan segera mendekati Asep. “Ada apa, Sep?”


“Pakde dan Bude kecelakaan!” Beber Asep heboh.


“Innalilahi, Abi, Ummi!” Seru Jihan dengan wajah tegang.


“Kecelakaan di mana, Nak?” Tanya Aisyah.


“Di depan warung, Mak.”


“Jadi sekarang Abi dan Ummi mana?” Jihan bertanya dengan panik, tubuhnya bahkan sampai gemetaran.


“Di rumah sakit dekat warung. Yuk, buruan ke sana!” Desak Asep.


“Iya-iya.”


Jihan, Aisyah dan Asep pun bergegas pergi dengan terburu-buru. Mereka bahkan sampai naik motor berboncengan tiga. Jihan benar-benar cemas dengan keadaan kedua orang tuanya, sepanjang jalan dia terus berdoa agar mereka baik-baik saja.

__ADS_1


☘️☘️☘️


Jihan dan Aisyah tiba di rumah sakit yang Asep katakan tadi, mereka langsung berlari masuk ke ruang UGD untuk melihat keadaan Arif dan juga Salma. Sementara Asep memarkirkan motornya.


“Abi, Ummi!” Jihan langsung berlari mendekati kedua orang tuanya itu.


“Bagaimana keadaan Mas, Mbak?” Tanya Aisyah cemas.


“Alhamdulillah, kami cuma luka-luka ringan saja.” Jawab Arif.


“Iya, Allah masih melindungi kami.” Salma menimpali.


“Alhamdulillah, ya, Allah!” Seru Jihan dan Aisyah bersamaan.


“Pakde, Bude!” Asep tiba-tiba nyelonong masuk. “Gimana kondisinya?”


“Alhamdulillah, tidak apa-apa, Sep.” Sahut Arif.


“Syukurlah.” Asep mengelus dada lega.


“Mas dan Mbak kok bisa kecelakaan?” Tanya Aisyah lagi.


“Ya bisalah, namanya juga sudah nahas, Syah.” Sahut Arif enteng.


“Iya, maksud aku itu kalian ditabrak atau gimana?” Sungut Aisyah gemas pada sang kakak.


Arif terkekeh.


“Terus yang menabrak mana? Apa dia enggak bertanggung jawab?” Aisyah kembali bertanya.


“Dia sudah minta maaf dan membayar semua biaya perobatannya, katanya dia buru-buru karena ada kerabatnya yang meninggal dunia.” Beber Arif.


“Syukurlah kalau begitu.”


“Oh iya, kalian tahu dari mana?” Tanya Arif.


“Tadi ada tetangga kita yang kebetulan melihat kejadian itu, terus dia menelepon aku, Pakde.” Ungkap Asep.


“Aku sangat cemas dan panik tadi, aku takut Abi dan Ummi kenapa-kenapa.” Ucap Jihan sambil memeluk Salma.


“Iya, aku bahkan sampai gemetaran, kaget banget pas dapat kabar dari asep.” Sambung Aisyah.


Arif tersenyum. “Ini sudah menjadi bagian dari rencana Allah, kita ambil hikmahnya.”


☘️☘️☘️


Mentari sudah mulai naik, Yusuf yang sedang tidak enak badan masih bersembunyi di balik selimut hangatnya, dia demam dan kedinginan, tubuhnya meriang.

__ADS_1


Ammar yang mengetahui sang ayah sedang tidak sehat segera mendatangi kamarnya.


“Papa kenapa, Ma?” Tanya Ammar.


“Sepertinya masuk angin dan kelelahan, deh.” Jawab Anita yang sedikit cemas dengan kondisi suaminya itu.


Memang beberapa bulan belakangan ini Yusuf sering sakit-sakitan, umurnya yang sudah tidak muda lagi membuat daya tahan tubuhnya mulai menurun.


“Papa sudah minum obat?" Ammar memastikan.


“Belum, bahkan makan saja enggak mau.” Keluh Anita.


“Pa, makan, dong! Setelah itu minum obat.” Pinta Ammar.


“Papa enggak selera makan, Papa mau tidur saja.” Tolak Yusuf yang masih betah berada di balik selimut tebalnya.


“Tapi nanti Papa bisa semakin lemas kalau enggak makan dan minum obat. Makan, ya, Pa? Sedikit saja.” Bujuk Ammar.


Yusuf menggeleng.


Ammar mengembuskan napas, Yusuf memang susah sekali makan kalau sedang sakit begini.


“Atau Papa mau makan sesuatu, biar aku belikan!” Cetus Ammar.


“Enggak mau!”


Ammar dan Anita saling pandang.


“Ya sudahlah, kalau Papa ingin makan sesuatu, bilang saja padaku.” Ujar Ammar.


“Hem.” Yusuf hanya berdeham.


Ammar kembali menatap Anita. “Mama sudah sarapan?”


Anita menggeleng. “Belum.”


“Kalau begitu kita sarapan, yuk!” ajak Ammar.


Anita mengangguk dan mengikuti sang putra, mereka menyantap sarapan yang tadi pihak hotel sediakan.


Namun baru beberapa suap Ammar dan Anita makan, Yusuf tiba-tiba melompat dari ranjang kemudian berlari masuk ke kamar mandi. Keduanya pun panik dan langsung menyusul Yusuf.


“Hoek! Hoek!” Yusuf muntah-muntah.


Dengan telaten Ammar memijat tengkuk belakang ayahnya itu.


Setelah mengeluarkan banyak cairan kuning yang berbau tidak sedap itu, Yusuf pun menjadi lemas.

__ADS_1


“Sebaiknya Papa ke rumah sakit saja!” Usul Ammar, dan Yusuf mengangguk pasrah.


☘️☘️☘️


__ADS_2