
Setelah selesai mengurus pengajuan rujuk ke kantor urusan agama dan pengadilan negeri Jakarta, Ammar dan Jihan kembali melangsungkan pernikahan mereka untuk yang kedua kalinya. Acara diadakan dengan sederhana dan hanya dihadiri kerabat serta tetangga terdekat saja.
Jihan menolak mengadakan pesta besar, dia lebih memilih mengadakan acara pengajian dan memanggil anak yatim sebagai bentuk rasa syukurnya atas apa yang terjadi.
“Saya nikahkan dan kawinkan engkau Muhammad Ammar Syahnan bin Yusuf Ishak dengan anak saya Jihan Rumaisah binti Arifin Ilham dengan mas kawin seperangkat alat Shalat dibayar tunai.”
“Saya terima nikah dan kawinnya Jihan Rumaisah binti Arifin Ilham dengan mas kawin tersebut dibayar tunai.”
“Sah?”
“Sah!”
“Alhamdulillah!” Seru semua orang yang menghadiri acara pernikahan itu.
Hari ini Ammar dan Jihan resmi menjadi suami istri lagi. Saking terharunya, Jihan sampai tak kuasa menahan tangis. Dia tak pernah menyangka, hari bahagia ini akan kembali datang.
“Selamat, ya, Nak. Semoga kalian selalu dilimpahkan keberkahan serta kebahagiaan. Dan kejadian yang lalu jangan sampai terulang lagi.” Ujar Salma berlinang air mata.
“Aamiin, Ummi tenang saja! Aku berjanji akan selalu membahagiakan Jihan dan enggak akan menyakiti dia lagi.” Sahut Ammar.
“Ummi minta maaf karena pernah bersikap kasar kepada kamu.”
“Iya, enggak apa-apa, Ummi. Aku juga minta maaf atas apa yang pernah aku lakukan.” Balas Ammar dengan mata berkaca-kaca menahan haru.
“Ummi sudah maafkan.”
“Kalau Mama sih pesannya cuma satu, cepat kasih Mama cucu, ya.” Imbuh Anita.
“Insha Allah kami akan secepatnya memberikan Mama cucu.” Jawab Ammar, membuat wajah Jihan sontak bersemu merah.
Yuni juga ikut memberikan doa restu.“Selamat, ya, Nak. Semoga kalian menjadi keluarga yang sakinah, mawadah, warahmah. Bahagia terus sampai maut memisahkan.”
“Aamiin. Terima kasih, Bu.”
“Sama-sama. Oh iya, Radit titip salam, maaf dia enggak bisa hadir, karena sedang banyak pekerjaan.”
“Enggak apa-apa, Bu. Tolong sampaikan juga salam dari kami untuk Mas Radit.” Balas Jihan.
“Insya Allah, nanti Ibu sampaikan.” Pungkas Anita.
☘️☘️☘️
__ADS_1
Kedua pengantin baru stok lama itu masuk ke dalam kamar. Jihan sedikit canggung karena berada di kamar yang sama dengan Ammar, tapi dia berusaha menguasai diri agar tetap tenang.
Untuk mengurangi rasa gugup, Jihan pun memilih untuk membuka hijab yang menghiasi kepalanya. Tapi tiba-tiba Ammar memeluknya dari belakang lalu meletakkan dagu di pundaknya, menikmati aroma tubuh sang istri.
“Hari ini aku bahagia sekali, ternyata Allah menyatukan kita lagi.” Ucap Ammar pelan.
“Aku juga, Mas.” Jawab Jihan, dia sedang berusaha menenangkan diri karena merasa semakin gugup.
Ammar melepaskan pelukannya dan memutar tubuh Jihan agar menghadapnya. “Terima kasih karena telah menerimaku lagi. Aku berjanji akan selalu membahagiakanmu, menjaga dan melindungi mu seperti janjiku dulu. Aku enggak akan membiarkanmu bersedih dan menangis lagi.”
Jihan tersenyum. Dengan perlahan Ammar mulai mendekatkan wajahnya dan menyatukan diri mereka, menikmati kelembutan yang begitu menggoda. Semakin lama semakin dalam, hingga Jihan nyaris kehabisan napas.
Jihan baru bisa menghirup udara setelah Ammar melepas tautan mereka lalu menatap dalam-dalam manik hitamnya.
“Aku mencintaimu.” Ucap Ammar.
“Aku juga mencintai Mas.” Balas Jihan dengan malu-malu.
“Sekarang kita bersihkan diri dulu, lalu Shalat Sunah. Setelah itu baru kita buatkan pesanan Mama.” Ujar Ammar dengan nada seloroh.
Jihan tersipu malu, wajahnya semakin merah padam. “Iya, Mas.”
Jihan dan Ammar bergantian masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri sekalian berwudhu.
Selesai shalat, Ammar meletakkan telapak tangannya di ubun-ubun Jihan dan membaca doa. “Bismillahirrahmanirrahim. Allohumma baarik lii fii ahlii, wa baarik lahum fiyya. Allohummarzuqnii minhum, warzuqhum minni. Allahummajma’ baynanaa maa jama’ta ila khoirin, wa farriq baynanaa idza farroqta ilaa khoirin. Aamiin.”
Jihan tak menyangka Ammar hafal doa itu.
Kemudian Ammar mencium kening Jihan yang terlihat gugup dan tegang.
“Jangan tegang begitu! Aku enggak akan membunuhmu, tenang saja.” Seloroh Ammar sebab menyadari ketegangan sang istri.
“Aku takut, Mas.” Adu Jihan pelan.
“Kalau kamu enggak siap, kita bisa menundanya.”
“Eh, enggak apa-apa, Mas. Insha Allah aku siap lahir batin.” Sahut Jihan.
Ammar mengembangkan senyuman lalu menggenggam tangan Jihan. “Yuk, pindah ke ranjang.”
Jihan menurut saat Ammar menariknya lalu keduanya duduk di atas ranjang sederhana itu.
__ADS_1
Ammar kembali menatap dalam wajah Jihan yang merona dan terlihat gugup, tapi dia menyukainya karena Jihan jadi terlihat menggemaskan.
Lagi-lagi Ammar mendekati Jihan dan dengan lembut menyatukan wajah mereka, menikmati tiap kecapan yang membuat akal sehat mendadak hilang entah ke mana.
Ammar terlalu berapi-api dan penuh semangat, dan saat ini Jihan tak bisa melakukan apa-apa selain berserah diri, menikmati setiap sentuhan yang memabukkan.
Semua Ammar lakukan dengan cepat namun tetap melengah kan.
Jihan benar-benar kewalahan karena sentuhan Ammar semakin menggebu, mendesaknya tanpa menyisakan celah sedikit pun untuk sekedar menguasai diri. Entah mengapa wanita itu juga ikut terhanyut dan menikmatinya tanpa ada niat untuk menyudahi.
Ammar pun mulai melakukannya dengan sangat lembut, karena ini yang pertama untuk Jihan, mereka sedikit kesulitan. Dan Ammar hampir menyudahinya karena tak tega melihat Jihan kesakitan, tapi wanita itu meyakinkan bahwa dia baik-baik saja.
Ammar kagum sebab kesucian Jihan masih terjaga, ini juga sebagai bukti jika memang benar Miko tidak 'menyentuh' wanita itu.
Kini Ammar dan Jihan telah terhanyut dalam gelombang yang paling melenakan. Saling menyelami dan mengarungi satu sama lain. Tak ada rahasia lagi di antara mereka, semua telah dijelajahi tanpa jeda.
Membuat jantung kian berdentam tak karuan, mengubah rasa sakit menjadi kebahagiaan.
Suara aneh yang entah bagaimana bisa keluar dari mulut keduanya semakin menambah gairah yang tak dapat dibendung lagi, hingga puncak kepuasan telah diraih bersamaan. Kini yang tersisa hanya lelah dan peluh.
Jihan masih berusaha mengatur napasnya yang tidak teratur, dia benar-benar kewalahan mengimbangi Ammar yang berhasil membuat tubuhnya menegang.
Ammar menarik tubuh polos Jihan ke dalam pelukannya dan mengusap titik-titik keringat di dahi wanita itu lalu mengecupnya dengan penuh kasih sayang.
Jihan menyembunyikan wajah merahnya di dada Ammar, dia sungguh malu jika teringat kejadian barusan.
“I love you, sayang.” Bisik Ammar mesra.
Jihan tak mampu menjawab sebab tengah terkesima sendiri dengan hawa panas yang membakar wajah merahnya, jantungnya berdegup kencang, hingga mendenyut kan seluruh titik nadi. Memicu gelanyar aneh nan mendebarkan.
Ammar semakin mengeratkan pelukannya dan menikmati kehangatan tubuh wanita yang namanya selalu dia sebut dalam doa itu.
Terkadang cinta itu unik, kita dipaksa untuk berjuang, namun diberikan kekecewaan. Tapi begitu kita ikhlas melepaskan, cinta justru membawa kita kepada kebahagiaan. Goresan takdir memang tak bisa ditebak, tak dapat pula diubah dan dihindari. Namun dia pasti tahu mana yang terbaik.
...❤️TAMAT❤️...
...Terima kasih sudah mengikuti kisah ini, maaf kalau masih banyak kesalahan. Semoga ada pelajaran yang bisa kita ambil dari novel ini....
...Jangan lupa mampir ke karyaku yang lainnya, ya!...
...Atau follow aku agar mendapatkan pemberitahuan jika aku buat karya baru....
__ADS_1
...Sayang kalian semua.🥰...