Air Mata Istri Sholehah

Air Mata Istri Sholehah
Episode 36.


__ADS_3

Hari sudah beranjak sore, Jihan baru saja keluar dari gedung Ritz Corporation bersama Tasya, wajahnya terlihat lebih ceria karena sedari tadi Tasya berusaha menghiburnya dengan bercanda, sehingga mampu membuat wanita berhijab itu tertawa meski hanya sekejap. Walaupun Jihan tak menceritakan apa yang terjadi, Tasya bisa menebak jika temannya itu sedang dirundung kesedihan.


“Pokoknya sejak saat itu, dia enggak berani lagi bohongi aku, jera dia.” Celoteh Tasya sambil tertawa-tawa.


“Habis kamu galak banget, kayak ibu tiri.” Sahut Jihan yang juga ikut tertawa setelah mendengar cerita dari Tasya.


“Jihan!”


Tiba-tiba seseorang memanggil nama Jihan, membuat kedua wanita itu menoleh ke arah sumber suara.


“Miranda?” Jihan tercengang melihat orang yang memanggilnya adalah Miranda.


“Siapa, Han?” Bisik Tasya.


“Pelakor.” Jawab Jihan asal.


“Haa??” Tasya ternganga mendengar jawaban Jihan.


Miranda mendekati Jihan dan Tasya yang memandangnya dengan tatapan tidak suka.


“Ada yang ingin aku bicarakan denganmu.” Ucap Miranda.


“Ya sudah, bicara saja!” Balas Jihan ketus.


“Bisa kita bicara berdua?” Miranda melirik Tasya yang berdiri di samping Jihan. “Ini tentang Ammar.”


Jihan memandang Tasya. “Kamu duluan saja, ya?”


“Iya. Sampai jumpa besok.”


Jihan mengangguk dua kali.


Tasya pun berlalu meninggalkan Jihan bersama Miranda yang masih terpaku di halaman gedung Ritz Corporation.


“Sekarang kita sudah berdua, katakan apa yang ingin kau bicarakan!” Desak Jihan.


Miranda mengeluarkan sebuah kertas dari dalam tasnya, dan menunjukkannya kepada Jihan.


“Apa ini?” Jihan bingung.


“Itu hasil pemeriksaan dari dokter, bahwa saat ini aku sedang hamil anaknya Ammar.” Miranda berbicara sembari mengelus perut ratanya.

__ADS_1


Bagai tersambar petir di siang bolong, Jihan terkejut setengah mati. “Astaghfirullahalladzim! Kalian sudah berbuat sejauh itu? Kalian sudah berzina?”


Miranda mengangkat kedua bahunya. “Itu bukan hal yang tabu lagi? Hari gini wajar jika sepasang kekasih melakukan itu, apalagi kami saling mencintai.”


“Jangan menganggap suatu keburukan itu wajar hanya karena perkembangan jaman, apalagi mengatasnamakan cinta! Tetap saja kalian sudah melakukan dosa besar. Nauzubillah.” Sungut Jihan dengan air mata berlinang. Sungguh dia tak menyangka Ammar akan melakukan perbuatan hina itu.


“Jangan mengurusi dosa kami! Sekarang lebih baik kau tinggalkan Ammar agar aku bisa menikah dengannya! Anak ini butuh seorang ayah.” Pinta Miranda.


Jihan bergeming, hatinya sakit namun tak rela untuk melepaskan lelaki yang sudah sejak lama dia cintai itu.


“Kenapa? Kau enggak mau melepaskan Ammar untukku? Baiklah, kalau begitu aku akan menggugurkan anak ini. Buat apa dia lahir kalau enggak diakui.” Sambung Miranda enteng.


“Astaghfirullahalladzim!” Jihan kembali mengucap istighfar, dia tak menyangka Miranda sekejam itu. “Kau benar-benar enggak punya perasaan, bagaimana bisa seorang ibu tega membunuh anaknya sendiri!”


“Ya, mau bagaimana lagi? Makanya kau lepaskan Ammar untukku! Atau kau mau aku jadi istri kedua saja?”


Jihan menggeleng dengan air mata yang jatuh menetes. Dia tahu hatinya tak akan cukup kuat untuk dimadu. Tapi dia juga tak rela melepaskan Ammar untuk Miranda meskipun suaminya itu telah menjatuhkan talak padanya.


“Asal kau tahu, Ammar itu menikah denganmu karena ancaman dari Papanya, dia berjanji akan segera menyingkirkan mu dari hidupnya. Kalau aku jadi kau, aku akan pergi sendiri sebelum dicampakkan. Lagi pula kau hanya orang ketiga. Jadi sudah seharusnya kau mengalah. ” Tutur Miranda, kemudian melangkah pergi meninggalkan Jihan.


“Ya, Allah. Apa yang harus aku lakukan?” Jihan menutup mulutnya dengan telapak tangan dan menangis tertahan, dia tak peduli lagi dengan beberapa karyawan yang memandangnya dengan raut penasaran. Saat ini dia hanya ingin meluapkan kesedihan dan rasa sakit di hatinya.


“Jihan? Kamu kenapa?” Suara bariton Radit tiba-tiba mengejutkan Jihan. Wanita berhijab itu buru-buru menghapus air matanya.


Dengan tangan gemetaran, Jihan meraih sapu tangan berwarna biru Dongker itu. “Terima kasih, Pak.”


Jihan mengusap wajahnya dengan sapu tangan pemberian Radit, meskipun jejak-jejak air mata tak tampak lagi di wajahnya, tapi siapa pun akan tahu bahwa dia baru saja menangis.


“Kenapa kamu menangis? Kamu lagi ada masalah?” Tanya Radit penasaran.


Jihan tertunduk, air matanya kembali jatuh. Dia tak berniat untuk menjawab pertanyaan Radit.


“Baiklah, kalau kamu enggak mau cerita. Saya enggak akan paksa. Tapi saya mohon jangan menangis lagi! Air matamu itu terlalu berharga untuk kamu buang sia-sia.” Ucap Radit. Kalau saja yang di hadapannya ini wanita lain, dia pasti sudah menariknya ke dalam pelukan. Tapi sayangnya ini Jihan, dia tak mungkin bisa menyentuhnya.


“Iya, Pak. Terima kasih untuk sapu tangannya. Nanti saya kembalikan kalau sudah dicuci.”


“Enggak usah! Untuk kamu saja! Saya masih punya banyak.” Balas Radit.


“Enggak, Pak. Nanti pasti saya kembalikan.”


“Ya sudah, terserah kamu saja!”

__ADS_1


“Kalau begitu saya permisi pulang, Pak. Assalamualaikum.” Pungkas Jihan.


“Wa’ alaikumsalam ....”


Jihan pun bergegas pergi dari hadapan Radit, sejujurnya dia malu karena Radit dan beberapa karyawan melihatnya menangis, tapi dia benar-benar tak bisa membendung kesedihannya. Hatinya hancur mendapatkan kenyataan pahit ini. Haruskah dia merelakan Ammar untuk Miranda?


Radit mengembuskan napas sembari memandangi Jihan yang semakin menjauh.


“Ada apa denganmu? Andai aku halal bagimu, aku bersumpah akan memelukmu erat-erat dan enggak kubiarkan air mata itu jatuh lagi.” Gumam Radit pelan.


☘️☘️☘️


Ammar sedang bersantai di atas ranjang, seharian di rumah membuat lelaki berhidung mancung itu jenuh. Dia hanya menghabiskan waktunya dengan menonton film, namun tetap saja tak mampu membunuh rasa gundah dan marah di hatinya. Pikirannya sesekali melayang dan teringat akan sosok Jihan, tapi buru-buru dia tepis sebelum terlarut.


Ammar tersentak saat pintu kamarnya tiba-tiba dibuka dengan kasar oleh Yusuf.


“Ammar! Kau ini benar-benar sudah gila, ya? Apa yang kau lakukan? Kenapa segampang itu kau mengajukan perceraian?” Cecar Yusuf dengan nada tinggi.


Dengan malas Ammar bangkit dari pembaringan, dan duduk di tepi ranjang.


“Kalau Papa kesini hanya ingin memarahiku, sebaiknya Papa pulang saja. Aku sedang malas bertengkar dengan Papa.” Sahut Ammar tak acuh, membuat emosi Yusuf memuncak.


“Dasar anak kurang ajar! Kau benar-benar enggak punya sopan santun! Berani sekali kau mengusir orang tuamu sendiri?” Sungut Yusuf dengan mata melotot.


“Pa, sabar. Ingat kesehatan, Papa.” Anita berusaha menenangkan suaminya itu.


“Anak ini sudah keterlaluan, Ma! Dia bertindak sesuka hatinya, enggak pakai otak!” Hardik Yusuf.


“Pa, aku tahu apa yang harus aku lakukan! Jadi Papa enggak perlu mencampuri urusanku! Aku bukan anak kecil lagi!” Balas Ammar.


“Kau ini benar-benar ... aaakkhh ....” Yusuf memekik sembari memegangi dadanya.


Anita sontak panik dan memegangi Yusuf yang mengerang kesakitan. “Papa kenapa?”


“Dada Papa sakit sekali, Ma.” Jawab Yusuf dengan suara terbata-bata dan seketika jatuh tak sadarkan diri.


Anita memandang Ammar yang memandang mereka dengan wajah cemas. “Cepat bawa Papa ke rumah sakit!”


“I-iya, Ma.” Ammar pun bergegas mengangkat tubuh lemah Yusuf dan membawanya.


“Ya Allah, Papa.” Anita mengikuti sang putra dengan perasaan takut, air matanya bahkan sudah menetes membasahi pipinya.

__ADS_1


☘️☘️☘️


__ADS_2