Air Mata Istri Sholehah

Air Mata Istri Sholehah
Promosi Karya Janda Kesayangan CEO Bucin.


__ADS_3

Hai, assalamualaikum ....


Maaf nyela sebentar, aku cuma mau promosikan karya terbaru aku juga yang bisa bikin kamu semua senyum-senyum sendiri dengan tingkah tokoh utamanya.☺️


Ceritanya ringan dan bikin baper bercampur kesal.🤭


Mampir, yuk!


💜 JANDA KESAYANGAN CEO BUCIN 💜



Sinopsis ....


Ruby baru saja bercerai dari suaminya, dan dia memutuskan untuk menghibur diri bersama kedua sahabatnya di sebuah bar.


Tapi sebuah kejadian konyol di dalam toilet bar mempertemukan Ruby dengan Dinan dan lelaki tampan itu meminta pertanggungjawaban Ruby. Tak ingin terlibat masalah, Ruby pun memilih untuk kabur dari Dinan.


Seminggu kemudian mereka bertemu lagi, dan sialnya ternyata Dinan adalah CEO di perusahaan tempat Ruby bekerja. Namun Dinan terlihat seperti tidak mengingat Ruby.


Apa yang akan terjadi selanjutnya?


Nantikan kisah seru mereka.


💜. Episode 1 ....


Pernikahan adalah momen indah dalam setiap hidup manusia, tapi keindahan itu seketika hancur jika sebuah perceraian datang melanda. Inilah yang dirasakan Ruby Milana, wanita cantik berumur dua puluh lima tahun yang baru saja bercerai dari suaminya .... Arkana Willian.


Ruby memutuskan menggugat cerai Arkan karena lelaki itu ketahuan berselingkuh dengan bawahannya sendiri. Sebelum bercerai, sebenarnya rumah tangga mereka sudah tidak harmonis dikarenakan mereka belum juga memiliki momongan, padahal sudah dua tahun menikah. Orang tua Arkan juga selalu menuntut cucu dari mereka.


Dan hari ini berakhir sudah mahligai rumah tangga yang sejatinya sudah terkoyak lama, meskipun sakit karena dia masih mencintai Arkan, tapi dia berusaha ikhlas menerima takdir hidupnya ini.


Ruby mengundang Laura dan Keke ke rumahnya, setelah memutuskan berpisah dari Arkan, Ruby pun kembali ke rumah peninggalan orang tuanya dan tinggal bersama sang adik yang bernama Safira.


Ruby dan Safira yatim piatu, kedua orang tua mereka sudah meninggal lima tahun yang lalu karena kecelakaan. Keduanya telah terbiasa mandiri dan hidup sederhana sejak ditinggal oleh ayah dan ibu mereka. Bahkan saat Ruby menikah dengan Arkan pun, Safira tidak ditanggung biaya hidupnya. Gadis berumur dua puluh tiga tahun itu memilih bekerja sambil kuliah. Dan kini dia sudah bekerja di sebuah perusahaan besar sebagai staf marketing.


Ruby masih menangis terisak-isak setelah mencurahkan isi hatinya kepada kedua sahabatnya itu.


“Yang sabar, ya, By. Kamu harus kuat dan ikhlas.” Ujar Laura sembari mengusap punggung belakang Ruby.


“Iya, By. Jangan bersedih lagi! Laki-laki seperti Arkan itu tidak pantas ditangisi.” Sela Keke.


Ruby hanya bergeming sambil mengusap jejak air matanya.


“Keke benar, kamu terlalu baik untuk Arkan. Jangan buang air matamu hanya untuk manusia seperti dia.”


“Tapi aku masih mencintainya, Ra.” Sahut Ruby pelan.


“Mencintai orang yang selalu menyakitimu itu adalah suatu kebodohan, By! Jangan buang-buang waktumu! Kamu masih muda dan cantik, di luar sana pasti ada seseorang yang bisa mencintaimu dengan sungguh-sungguh. Jadi buka matamu dan berhenti menyiksa diri sendiri!” Ucap Laura.


“By, kami tahu kamu sedih dan terluka. Tapi jangan berlarut-larut! Sekarang waktunya kamu menikmati hidup dan jemput kebahagiaanmu.”


“Aku tidak tahu bagaimana hidupku setelah ini. Tidak mudah menjadi seorang janda, aku merasa malu.” Balas Ruby.


“By, janda itu bukan aib. Janda itu hanya wanita yang kurang beruntung karena harus berpisah dari suaminya. Jadi kamu tidak perlu malu.” Imbuh Keke.


“By, percayalah! Semua pasti baik-baik saja karena kami akan selalu ada untukmu.” Sambung Laura.


“Terima kasih, kalian memang sahabat terbaikku. Aku sangat menyayangi kalian.” Ruby memeluk Laura dan Keke.


“Kami juga menyayangimu.” Balas Laura dan Keke bersamaan.


Ketiga sahabat itu saling berpelukan, Ruby benar-benar merasa beruntung memiliki sahabat seperti Laura dan Keke. Mereka sudah seperti saudara untuk Ruby.


Keke menjauhkan dirinya. “Sekarang bagaimana kalau kita bersenang-senang ke bar?”


“Ide yang bagus! Yuk, By!” Ajak Laura.


“Aku sedang malas.”


“Ayolah, By! Kita kan sudah lama tidak nongkrong bareng. Please!” Rengek Laura.


Ruby menghela napas lalu mengangguk dua kali.


“Yeeee! Let’s go!” Seru Keke girang.


Ketiganya pun bersiap kemudian bergegas pergi.


Saat hendak berangkat, mereka berpapasan dengan Safira yang baru pulang kerja karena lembur.


“Loh, pada mau ke mana?” Tanya Safira bingung.


“Mau ajak Kakakmu bersenang-senang, biar tidak galau terus.” Jawab Keke. “Kamu mau ikut?”


Safira menggeleng. “Tidak, ah! Aku lelah banget habis lembur, ini saja mau langsung istirahat.”

__ADS_1


“Oh, ya sudah. Kalau begitu kami pergi dulu.” Ujar Keke.


“Bye, Safira.” Laura melambaikan tangan.


Safira mengangguk sambil ikut melambaikan tangan.


“Kakak pergi dulu, ya.” Ruby pamit pada adiknya itu.


“Iya, Kak. Selamat bersenang-senang!” Balas Safira.


Mereka pun berangkat dengan menaiki mobil Laura.


💘💘💘


Ruby, Laura dan Keke datang ke sebuah klub malam. Ketiganya menenggak cocktail sambil menikmati lantunan musik yang dimainkan DJ, gemerlap lampu dan bisingnya suara musik, ditambah lagi canda tawa kedua sahabatnya itu, membuat Ruby sejenak melupakan kesedihannya. Dia bahkan juga sudah mulai mabuk, walaupun tidak berat.


Namun sepertinya kesedihan tidak mau terlalu lama meninggalkan Ruby. Saat janda cantik itu mulai merasa lebih baik, tiba-tiba Arkan dan kekasihnya datang dan melenggang masuk ke dalam klub malam. Hati Ruby kembali merana melihat wanita seksi yang bernama Renata itu bergelayut manja di lengan sang mantan suami, tapi sepertinya sepasang kekasih itu tidak menyadari keberadaan Ruby dan teman-temannya.


“By, jangan hiraukan! Kamu harus kuat!” Laura mengusap punggung belakang Ruby, berusaha menguatkan dan menenangkan sahabatnya itu.


Ruby hanya bergeming, memandang Arkan dan Renata dengan mata yang berkaca-kaca.


“Atau kita pergi saja dari sini?” Cetus Keke.


Ruby menggeleng. “Tidak usah! Aku tidak apa-apa, kok. Mau tidak mau aku harus siap melihat semua ini.”


“Iya, kamu benar. Aku yakin kamu bisa melalui semua ini.” Sahut Laura.


Tapi mendadak perut Ruby terasa mual dan hendak muntah, ini mungkin akibatnya karena dia meminum alkohol dalam keadaan perut kosong. Sebab sejak siang dia belum memakan apa pun.


Ruby menutup mulut sambil memegangi perutnya.


“By, kamu kenapa?” Tanya Laura cemas. “Kamu sakit?”


“Perutku mual, aku mau muntah.” Jawab Ruby.


Perut Ruby semakin terasa mual, seperti ada dorongan dari dalam yang ingin keluar. Dengan tergesa-gesa Ruby beranjak dan berlari ke toilet.


“By, mau ke mana?” Teriak Laura, tapi Ruby tak menghiraukannya.


“Aku susul dia, kamu tunggu di sini!” Pinta Keke yang langsung menyusul Ruby.


Tapi sial, Keke kehilangan jejak Ruby. Dia tak tahu ke mana sahabatnya itu pergi.


💘💘💘


Di dalam toilet, janda cantik itu langsung memuntahkan cairan kekuningan dan sedikit berbau alkohol. Setelah merasa lega, Ruby lalu membasuh wajahnya dengan air agar lebih segar dan menghilangkan efek mabuknya.


Tapi matanya membulat saat melihat seorang lelaki berjalan masuk ke dalam toilet, begitu pun dengan lelaki itu, dia juga terkejut melihat Ruby.


“Apa yang kau lakukan di sini? Kau mau mengintip, ya?” Tuduh Ruby dengan sorot mata yang tajam.


“Bicara apa kau ini?” Tanya lelaki itu bingung.


“Jangan pura-pura bodoh! Dasar mesum! Kau pasti mau mengintip, kan? Ayo mengaku!” Sergah Ruby sembari memukul lelaki itu dengan tasnya.


“Apa-apaan kau? Jangan sembarangan!”


“Tolong! Ada yang mau mengintip! Tolong!” Teriak Ruby.


“Hei, jangan teriak-teriak!” Bentak lelaki itu seraya berusaha menangkis pukulan Ruby, tanpa sengaja lengannya tergores besi pengait tas Ruby.


Tak berapa lama beberapa orang lelaki masuk ke dalam toilet sebab mendengar suara teriakkan Ruby. Karena sudah ramai, Ruby pun berhenti memukuli lelaki itu.


“Ada apa ini? Kenapa Mbak bisa ada di sini?” Cecar seorang cleaning servis laki-laki dengan wajah bingung.


“Kenapa malah tanya saya, sih? Seharusnya kamu tanya dia, kenapa dia ada di sini?” Sungut Ruby sembari menunjuk ke arah lelaki itu. “Pasti dia ingin mengintip!”


Semua orang seketika tertawa mendengar kata-kata Ruby, membuat janda cantik itu kebingungan.


“Mbak, ini kan memang toilet pria, wajarlah kalau Mas itu ada di sini. Kalau Mbak, baru tidak wajar.” Ucap cleaning servis itu.


Ruby tercengang. “Masa, sih? Jadi ini bukan toilet wanita?”


“Bukan, Mbak. Sepertinya Mbak salah masuk toilet.”


Ruby terperangah dengan wajah yang memerah menahan malu, karena tergesa-gesa dan tak fokus, dia sampai tidak memperhatikan tulisan di depan toilet.


“Jangan-jangan Mbak ini yang mau mengintip.” Celetuk seorang lelaki bertubuh gemuk dan disambut gelak tawa yang lainnya.


“Tidak! Enak saja!” Sahut Ruby.


Takut-takut Ruby berbalik memandang lelaki yang dia pukul tadi dan lelaki itu hanya menatapnya dengan wajah dingin.


“A-aku minta maaf, ya.” Ucap Ruby canggung sebab merasa tak enak hati dan buru-buru hendak pergi, tapi lelaki itu menarik lengannya.

__ADS_1


“Eh, kau mau ke mana?”


“Aku mau pergi, ini kan toilet pria.” Jawab Ruby.


“Tidak bisa!”


“Kenapa tidak bisa? Aku sudah minta maaf, jadi apa lagi?”


“Kau pikir bisa semudah itu pergi setelah menuduhku sembarangan dan memukuliku? Kau harus tanggung jawab!”


“Tanggung jawab apa? Kau bahkan tidak terluka sama sekali.” Protes Ruby sembari menarik lengannya yang dipegang oleh lelaki itu. Tapi tenaganya kalah kuat.


“Lalu ini apa?” Lelaki itu menunjukkan lengannya yang terluka.


“Itu hanya luka kecil, besok juga sembuh.” Ujar Ruby enteng. “Jadi sekarang tolong lepaskan aku!”


“Tidak semudah itu! Kau harus ikut aku untuk tanggung jawab!” Lelaki itu menarik Ruby keluar dari toilet.


“Aku tidak mau! Lepaskan aku!” Ruby memberontak, tapi lelaki itu tak menghiraukannya.


Tak kehabisan akal, Ruby pun nekat menggigit lengan lelaki itu.


“Aaarrgghh ....” Lelaki itu berteriak kesakitan dan langsung melepas cengkeramannya dari lengan Ruby.


Dan situasi ini dimanfaatkan oleh Ruby untuk buru-buru kabur.


“Hei, tunggu!” Teriak lelaki itu, tapi Ruby tak peduli.


Ruby bergegas keluar dari klub malam dan mencari taksi, sementara lelaki itu hanya tersenyum sambil geleng-geleng kepala. Sebenarnya dia hanya ingin menggoda Ruby sebab merasa lucu dengan tingkah konyol wanita itu saat di toilet tadi.


“Dia cantik dan lucu.” Tutur lelaki itu, sepertinya dia mengagumi Ruby.


Setelah mendapatkan taksi, Ruby naik dengan tergesa-gesa.


“Pak, cepat jalan!” Pinta Ruby.


Janda cantik itu bisa bernapas lega saat taksi mulai melesat menjauh dari klub malam.


“Gila itu orang! Dia pasti mau memanfaatkan aku.” Gumam Ruby.


Ruby kemudian mengirimkan pesan kepada Laura dan mengatakan dia pulang duluan karena merasa tidak enak badan.


💘💘💘


Ruby tiba di rumah, dia berjalan dengan langkah yang lemah. Sejujurnya kepala Ruby terasa sedikit berat dan pusing, perutnya juga masih terasa mual. Safira yang melihat sang Kakak segera menghampirinya.


“Kakak sudah pulang? Cepat sekali?” Tanya Safira.


“Iya, tadi ada sedikit masalah, jadi Kakak pulang lebih awal.” Jawab Ruby.


Safira menautkan kedua alisnya. “Masalah apa, Kak?”


Ruby pun menceritakan kejadian di toilet tadi, tawa Safira sontak pecah mendengar kejadian konyol yang menimpa sang Kakak.


“Ya, ampun, Kak. Pasti malu banget pas sadar kalau sebenarnya Kakak yang salah masuk.”


“Iya, Kakak malu banget. Tapi tetap saja Kakak kesal dengan pria itu, dia pasti ingin memanfaatkan Kakak. Untung saja Kakak bisa kabur.”


“Harusnya Kakak jangan kabur, siapa tahu kayak di drama-drama itu, berawal dari salah sangka, kalian malah jadi cinta.” Ledek Safira.


“Apaan, sih? Itu kan di drama. Kalau dia berniat jahat gimana?”


“Iya juga, sih.” Tukas Safira. “Oh iya, Kak. Kantor aku sedang buka lowongan pekerjaan ini, gimana kalau Kakak melamar kerja ke sana.”


“Benarkah? Lowongan bagian apa?”


“Katanya sih bagian administrasi.”


“Baiklah, besok Kakak akan kirim lamarannya.”


“Kirim via email saja, Kak. Nanti aku kasih alamat email nya.”


Ruby mengangguk. “Baiklah.”


“Kerja di kantor aku asyik, loh. Teman-temannya baik dan seru, Bosnya juga ganteng banget. Aku saja selalu berharap bisa jadi kekasihnya.”


“Yee, kamu ini mengkhayal jangan tinggi-tinggi! Mana mau orang kaya seperti dia punya kekasih rakyat jelata.” Ruby meledek adiknya itu.


“Mungkin saja, Kak. Siapa tahu nasib aku seperti Cinderella.” Sahut Safira.


“Sudah, ah. Kakak yang minum, malah kamu yang mabuk.” Seloroh Ruby dan beranjak dari duduknya. “Kakak mau istirahat, dulu. Selamat malam.”


“Selamat malam, Kak.” Balas Safira. “Aku juga mau tidur, biar bisa mimpi pangeran ku.”


Ruby hanya tersenyum sambil geleng-geleng kepala mendengar ocehan Safira, dia sedang berusaha terlihat baik-baik saja, meskipun sesungguhnya merasa sangat hancur. Tapi dia tahu, terpuruk dalam kesedihan bukanlah cara yang tepat. Dia harus bangkit dan menata ulang hidupnya, dia tak ingin terlihat menyedihkan di mata orang lain.

__ADS_1


💘💘💘


Aku tunggu kalian di sana, ya. Insha Allah update tiap hari kok.🙏🏼


__ADS_2