Air Mata Istri Sholehah

Air Mata Istri Sholehah
Episode 59.


__ADS_3

Seperti sebelum-sebelumnya, setiap weekend Ammar akan berkeliling kota Surabaya untuk mencari keberadaan wanita yang dia cintai. Meskipun setahun ini tak membuahkan hasil, dia tak ingin menyerah.


Ammar yakin Jihan beserta keluarganya ada di Surabaya, soalnya tepat sebulan setelah Jihan pergi, Ahmad dan Yusuf yang kebetulan ada projek di kota pahlawan itu pernah melihat Jihan keluar dari sebuah toko kelontong. Namun saat hendak mengejar wanita berhijab tersebut, mereka kehilangan jejaknya.


Dengan laju yang pelan, Ammar menyusuri jalanan sambil celingukan, berharap sosok yang sangat dia rindukan itu bisa dia temukan.


Tiba-tiba ponsel Ammar bergetar, dia buru-buru mengeluarkan benda pipih itu dari dalam saku celananya dan menjawab panggilan masuk yang ternyata dari sang mama.


“Halo, assalamualaikum, Ma.”


“Wa’alaikumsalam. Kamu di mana, sayang?”


“Biasa, aku lagi nyari jihan.” Jawab Ammar.


“Kalau begitu sekarang juga kamu balik ke hotel! Mama sama Papa sedang berada di hotel nih.”


“Loh, Mama dan Papa kenapa enggak bilang-bilang kalau mau menyusul ke sini?”


“Mau buat kejutan untuk kamu. Sudah cepat ke sini! Mama dan Papa tunggu.”


“Iya, Ma, iya.”


“Ya sudah, assalamualaikum.”


“Wa’alaikumsalam.” Balas Ammar dan segera mengakhiri pembicaraannya dengan Anita.


Ammar pun segera memutar arah dan kembali ke hotel milik Yusuf yang selalu menjadi tempat dia menginap kalau datang ke kota pahlawan itu.


☘️☘️☘️


Ammar yang tiba di hotel bergegas masuk, Anita dan Yusuf sudah menunggunya di lobi hotel.


“Hai, sayang.” Anita langsung memeluk putra semata wayangnya itu.


“Bagaimana, apa sudah ada petunjuk tentang Jihan dan keluarganya?” Tanya Yusuf.

__ADS_1


Ammar menarik diri dari pelukan Anita dan menggeleng lemah. “Belum, Pa. Aku bingung harus mencari ke mana lagi? Atau jangan-jangan kami memang ditakdirkan untuk enggak pernah bertemu lagi.”


“Sabar. Jika Allah berkehendak, kalian pasti bisa bertemu lagi. Yang penting kau jangan putus asa, tetap berikhtiar dan berdoa.”


“Iya, Pa.” Ammar mengangguk, lalu mengembuskan napas berat. “Aku enggak menyangka semua akan serumit ini, karena kesalahan dan kekhilafan yang aku perbuat, aku harus berpisah dari Jihan.”


“Nak, hidup itu enggak selamanya mudah, adakalanya kita yang harus lebih kuat untuk menjalaninya.” Ujar Anita bijak sembari mengusap punggung belakang Ammar.


“Mamamu benar. Dan terkadang seseorang perlu dihadapkan dengan perpisahan dan merasakan kehilangan, agar dia mengerti apa yang dia lepaskan kemarin adalah yang terbaik. Anggap ini cara Allah untuk mengingatkan mu.” Yusuf menimpali.


Ammar bergeming mencerna ucapan Mama dan Papanya. Setumpuk rasa penyesalan yang tersimpan di dalam hatinya seolah tersentil dengan ucapan kedua orang tuanya tersebut.


“Ya sudah, yuk ke kamar! Kenapa jadi mengobrol di sini?” Tukas Yusuf.


Ammar mengangguk. “Iya, Pa.”


Ketiga orang itu pun meninggalkan lobi hotel dan berjalan menuju lift.


☘️☘️☘️


Malam harinya, Radit dan Yuni beserta beberapa kerabatnya datang ke rumah Arif untuk melamar Jihan secara resmi. Mereka membawakan tujuh buah kotak hantaran pernikahan yang berisi berbagai macam barang untuk Jihan, semua dikemas dengan begitu cantik.


“Jadi bagaimana bapak dan ibu, sudi kah kiranya menerima lamaran dari kami?” Tanya pria tua itu.


"Insha Allah, kami bersedia.” Jawab Arif tegas.


“Alhamdulillah!” Seru semua orang yang hadir di rumah sederhana Arif itu.


“Eh, tapi tunggu dulu! Calon pengantin perempuannya yang mana? Takutnya salah orang.” Seloroh pria itu, membuat semua orang yang mendengarnya tertawa.


“Sebentar saya panggilkan.” Salma beranjak dan masuk ke kamar.


Tak lama kemudian Salma keluar lagi sambil menggandeng lengan Jihan yang malam ini sangat cantik dalam balutan gamis Ceruti berwarna pink cerah dan hijab senada, ditambah riasan natural yang membuat wajah ayunya terlihat lebih cerah dan bersinar.


“Masya Allah, ini sih bidadari!” Kelakar pria tua itu, dan lagi-lagi mengundang tawa semua orang. Sementara Jihan hanya tertunduk malu.

__ADS_1


Pria tua yang sedikit kocak itu menyenggol lengan Radit yang sejak tadi menatap Jihan dengan terkesima.“Benar ini wanita yang sudah mencuri hatimu?”


“Benar, Pakde.” Jawab Radit lalu tersenyum malu-malu.


“Alhamdulillah, kalau begitu mari kita panjatkan doa untuk kedua calon mempelai ini agar diberikan kesehatan dan keberkahan, semoga dilancarkan sampai hati pernikahan. Aamiin ya rabbal Al-Amin.”


Setelah berbasa-basi, kini giliran Yuni untuk menyematkan cincin di jari manis Jihan. Air mata Jihan kembali tertumpah, sungguh dia tak bisa menutupi rasa haru di dalam hatinya.


“Terima kasih karena sudah mau menerima Radit.” Ucap Yuni lalu memeluk Jihan dengan penuh kasih sayang.


Jihan hanya mengangguk, dia tak sanggup lagi untuk berucap.


Yuni pun mengurai pelukannya sambil mengusap sudut matanya.


“Jadi apa sudah ditentukan hari baiknya?” Tanya lelaki tua tadi.


“Awal bulan depan, Pak.” Jawab Radit tegas.


Jihan dan semua orang tercengang mendengar jawaban duda tampan itu, awal bulan depan itu berarti kurang dari sebulan lagi.


“Apa enggak terburu-buru, Nak Radit?” Arif bertanya.


“Saya rasa enggak, Pak. Kan niat baik harus disegerakan. Jadi lebih cepat akan lebih baik.” Sahut Radit lugas.


Arif mengangguk. “Iya, kamu benar.”


“Maklumlah, Mas. Radit sudah lama sendiri, jadi enggak sabar pingin cepat-cepat punya teman hidup.” Ledek Yuni.


Radit hanya tersenyum malu dengan wajah merona.


“Berarti awal bulan depan, ya?” Lelaki tua itu memastikan lagi.


“Iya, Pakde.” Jawab Radit yakin.


Jihan hanya bisa tertunduk diam, dadanya berdebar keras. Rasanya seperti mimpi karena dalam hitungan hari dia akan segera menjadi istri dari Raditya Zein.

__ADS_1


☘️☘️☘️


Like dan komennya jangan lupa ya, BESTie.☺️


__ADS_2