
Ammar sedang fokus memperhatikan layar laptopnya, sedari tadi, lelaki berhidung mancung itu hanya diam membisu. Meskipun raganya di sini, tapi pikirannya melanglang buana entah ke mana.
“Aku mengharapkan Ridho Allah melalui dirimu dan menyempurnakan agama serta ibadahku bersamamu. Demi Allah, aku hanya mengharap kan itu dari pernikahan kita. Jadi tolong jangan menganggapku serendah ini dan menuduhku sembarangan!”
Entah mengapa kata-kata Jihan itu terus berputar dikepalanya, terngiang-ngiang di telinga seolah wanita itu terus-terusan mengulang kalimat yang sama.
Miranda yang menyadari sikap sang kekasih pun menjadi penasaran.
"Apa yang sebenarnya terjadi? Apa yang mereka bicarakan tadi di dapur?" Miranda bertanya-tanya dalam hati.
“Sayang.”Miranda sengaja memanggil Ammar, tapi dia tak merespons panggilan itu. Bukan karena tak peduli, tapi memang dia tak mendengarnya. Miranda semakin bingung dengan sikap mencurigakan sang kekasih.
“Sayang! Kamu kenapa sih?” Teriak Miranda, membuat Ammar terkejut mendengarnya.
Ammar spontan memandang Miranda. “Kamu kenapa teriak-teriak? Kayak aku tuli saja!”
“Habis aku panggil, kamu enggak jawab.” Miranda cemberut.
“Maaf, aku enggak dengar tadi.”
“Gimana mau dengar? Orang kamu melamun. Memang lagi pikiri apa sih? Kamu lagi ada masalah?” Tanya Miranda penasaran.
“Enggak, enggak ada apa-apa kok. Aku cuma lagi fokus baca ini.” Sangkal Ammar sembari menunjuk layar laptopnya.
Miranda tak percaya begitu saja, dia masih belum puas dan masih melayangkan pertanyaan.
__ADS_1
“Memangnya tadi Mama kamu bilang apa ke wanita itu?”
“Enggak ada, cuma tanya kabar saja.”
“Oh. Dia beruntung banget bisa disayang sama orang tua kamu, sementara aku justru dibenci sama mereka. Memang aku salah apa sih? Jangan-jangan nanti kamu juga lebih pilih dia dari aku.” Ujar Miranda dengan wajah sedih.
“Eh, kamu kok ngomongnya begitu, sih? Kamu kan tahu aku sudah berjanji akan selalu menjagamu. Mana mungkin aku pilih orang lain.” Sahut Ammar seraya sebelah tangannya mengusap pipi Miranda.
“Bisa saja suatu saat kamu berubah. Kamu akhirnya jatuh cinta sama dia.”
“Kamu berpikir kejauhan!” Balas Ammar.
“Dia itu istri kamu, sedangkan aku ....” Miranda tertunduk sedih.
“Benar ya, Sayang?”
“Iya. Sekarang senyum, dong!”
Miranda pun tersenyum lalu berhambur memeluk tubuh Ammar, dia puas mendengar jawaban lelaki itu.
“Aku enggak akan biarin Jihan merebut Ammar dan menghancurkan semua rencanaku.”Batin Miranda sembari tersenyum sinis di dalam pelukan Ammar.
☘️☘️☘️
Sejak pengakuannya tadi kepada Ammar, hati Jihan benar-benar tak bisa tenang, dia merasa gundah. Masih terbayang tatapan tak terbaca Ammar tadi, seolah menyiratkan keraguan dan kebencian yang mendalam. Sangat berbeda dengan tatapan Ammar yang dia kenal dulu.
__ADS_1
Belum lagi tuduhan yang menyakitkan itu, rasanya Jihan ingin berteriak marah saat ketulusannya diragukan. Rasa malu dan sedih bergejolak di dalam hatinya. Imannya nyaris tergoyahkan karena rasa sakit yang menghunjam, dia tahu ini salah.
Jihan bergegas mengambil wudu dan segera melaksanakan Shalat Sunah Dhuha.
Setelah selesai Shalat, Jihan beristigfar sebanyak-banyaknya. Memohon ampun kepada Allah SWT.
“Astaghfirullaahal ‘adziima alladzii laa ilaaha illa huwal hayyul qayyuum wa atuubu ilaihi. Aku memohon ampun kepada Allah, Yang tiada Tuhan yang berhak di sembah dengan benar selain Dia, Yang Maha Hidup, Yang Maha Mengurus, dan aku bertobat kepada-Nya.”
Usai melafazkan istigfar berulang kali, kini Jihan menadahkan tangannya di depan wajah dan memanjatkan doa, memohon diberikan ketenangan hati.
“Bismillahirrahmanirrahim. Allahumma inni as-aluka nafsan bika muthma-innah, tu’minu biliqo-ika wa tardho bi qodho-ika wataqna’u bi ’atho-ika.”
“Ya Allah, aku memohon kepada-Mu jiwa yang merasa tenang kepada-Mu, yang yakin akan bertemu dengan-Mu, yang Ridho dengan ketetapan-Mu, dan yang merasa cukup dengan pemberian-Mu. Aamiin ya rabbal Al-Amin.” Ucap Jihan dengan deraian air mata, berharap ketenangan itu segera dia dapatkan.
Jihan sadar, saat dirinya merasa marah, sedih dan gundah, hanya Shalatlah cara terbaik yang harus dia kerjakan.
Memohon pertolongan kepada Allah dengan penuh sabar, dengan memelihara keteguhan hati dan menjaga ketabahan, serta menahan diri dari godaan dalam menghadapi hal-hal yang berat.
“Jadikanlah sabar dan salat sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya yang demikian itu amat berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyuk, yaitu orang-orang yang meyakini bahwa mereka akan menemui Tuhannya dan bahwa mereka akan kembali kepada-Nya.”
Itulah sepenggal kalimat yang sering di ucapkan Arif kepada Jihan, berharap putrinya itu selalu tahu ke mana dia harus mengadu dan memohon pertolongan di dalam situasi sesulit apapun juga.
Sebagai wanita Sholeha yang dipenuhi pemahaman tentang agama sejak kecil, Jihan tentu tahu mana yang baik dan tidak baik. Dia juga selalu patuh kepada setiap perintah Allah juga kedua orang tuanya.
☘️☘️☘️
__ADS_1