Air Mata Istri Sholehah

Air Mata Istri Sholehah
Episode 75.


__ADS_3

Jihan, Salma, dan Aisyah berjalan masuk ke dalam mesjid besar dan megah yang berada tak jauh dari tempat tinggal mereka. Di dalam sudah dipenuhi jemaah yang berkumpul ingin mengikuti pengajian bersama.


“Mbak Jihan, Bule! Sini!” Annisa memanggil mereka sambil melambaikan tangan.


“Itu Annisa. Kita ke sana, yuk!” Ajak Aisyah.


Ketiganya pun mendekati gadis ceria berkerudung biru itu dan duduk bersamanya.


“Kamu cepat banget datangnya, Nis?” Tanya Jihan.


“Kalau bisa cepat ngapain lama-lama. Lagian tadi aku mau tebar pesona dulu sama Ikhwan tampan.” Sahut Annisa lalu tertawa.


Jihan geleng-geleng kepala. “Kamu ini!”


“Dasar bocah genit!” Ejek Aisyah.


“Bule seperti enggak pernah mudah saja!” Cibir Annisa.


“Sstt, susah-susah! Jangan berisik!” Salma menengahi.


Tak berapa lama rombongan Kyai, ustadz dan santriwan masuk ke dalam mesjid lalu duduk dengan rapi.


Annisa sibuk celingukan melihat para santri yang duduk membelakangi mereka.


“Cckk, jadi enggak kelihatan deh mana yang ganteng.” Gerutu Annisa kesal.


“Ish, kamu ini! Mau ikut pengajian atau cari cowok ganteng, sih?” Aisyah mengomeli Annisa.


“Dua-duanya, Bule.” Jawab Annisa enteng.


Jihan dan Salma hanya tersenyum melihat tingkah Annisa yang selalu saja membuat Aisyah kesal.


Acara pengajian pun dibuka dengan pembacaan ayat suci Al-Quran, seorang santriwan yang memakai baju koko merah maroon dan peci hitam membaca surat Al Baqarah dengan begitu syahdu. Semua orang merasa takjub mendengar suaranya yang merdu dan menenangkan hati.

__ADS_1


Jihan tertegun, entah mengapa hatinya bergetar mendengar lantunan demi lantunan ayat yang pemuda itu bacakan. Suara pemuda tersebut mirip dengan suara Ammar, membuat Jihan seketika teringat pada mantan suaminya itu.


“Masya Allah, suaranya bagus sekali. Bikin adem kayak lantai mesjid.” Bisik Annisa sambil memejamkan mata.


“Iya, beruntung sekali orang tuanya bisa memiliki anak seperti itu. Andai saja anak-anak ku bisa seperti dia.” Sela Aisyah pelan, dia sedih membayangkan Asep dan Joko yang jauh dari kata Sholeh, walaupun mereka tidak jahat.


Annisa membuka mata dan sibuk ingin melihat pemuda yang membaca Al-Quran itu. “Kira-kira orangnya ganteng enggak, ya?”


Aisyah langsung memelototi gadis berisik itu dan sukses membuatnya terdiam dengan bibir manyun. Annisa masih berusaha mendongak, namun dia hanya bisa melihat pemuda itu dari belakang saja.


Selesai pembacaan ayat suci Al-Quran, seorang ustadz pun menyampaikan tausiyah tentang kebahagiaan dunia dan akhirat. Para jemaah mendengarkan dengan khusyuk.


“Kunci hidup bahagia yang paling utama adalah berawal dari diri kita sendiri. Setelahnya, lakukan berbagai perilaku yang membuat diri lebih bahagia, seperti bersyukur, memaafkan orang lain, bersabar, berhusnuzhan atau mencari akitivitas yang bermakna.”


“Andai bahagia itu bisa dibeli, sudah pasti orang kaya yang paling bahagia. Andai bahagia itu datang dari banyaknya ilmu, sudah tentu orang pintar yang paling bahagia. Tapi hakikatnya, bahagia itu datangnya dari hati bersyukur dan tenang.”


“Allah berfirman dalam surat Al-Qashash, carilah apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu yaitu berupa kebahagiaan akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagia mu dari kenikmatan duniawi.”


☘️☘️☘️


Di saat bersamaan rombongan para santri tadi juga hendak meninggalkan mesjid, dan satu sosok yang tak asing membuat Jihan terperangah dengan jantung berdebar.


“Mas Ammar?” Gumam Jihan, matanya membulat menatap pemuda yang mengenakan baju koko merah maroon dan peci hitam sedang berdiri sedikit jauh darinya.


Annisa yang melihat Ammar sontak heboh. “Itu kan cowok ganteng yang waktu itu aku lihat, Mbak. Wah, ternyata dia yang baca Al Qur'an tadi!”


Jihan sontak menatap Annisa, dia terkejut mendengar penuturan gadis itu.


“Kamu serius, Nis?” Jihan memastikan.


“Iya, Mbak. Tadi aku lihat dia pakai baju itu, kok!”


“Jadi tadi itu suara Mas Ammar yang baca Al Qur'an? Masya Allah, pantas aku merasa familiar.” Batin Jihan, dia lalu kembali menatap mantan suaminya itu.

__ADS_1


Ammar yang juga melihat Jihan berusaha bersikap biasa saja, walaupun jantungnya berdetak tak karuan dan hatinya terasa perih. Dia sudah menduga akan bertemu mantan istrinya itu di sini, karena mesjid ini berada tak jauh dari rumah Arif.


Ammar hanya tersenyum samar saat melewati Jihan, dia tak menyapa wanita itu sama sekali, seolah mereka tidak saling kenal. Mendadak hati Jihan digelayuti rasa nyeri melihat sikap cuek Ammar.


“Mbak kenapa? Mbak kenal cowok itu?” Tanya Annisa yang bingung melihat wajah kaget bercampur sendu Jihan.


“Dia mantan suami Mbak, Nis.” Jawab Jihan jujur.


“Masya Allah, serius? Jadi itu mantan suami Mbak Jihan? Aku baru tahu, maaf ya, Mbak.”


Jihan menggeleng dan berusaha tersenyum. “Enggak apa-apa.”


“Ada apa ini? Kenapa kalian enggak keluar?” Tanya Salma heran.


“Tadi ada mantan suaminya Mbak Jihan, Bude.” Adu Annisa.


Salma dan Aisyah terkesiap mendengar ocehan Annisa.


“Benar itu, Nak? Ammar ada di sini?” Salma memastikan.


Jihan mengangguk. “Iya, Ummi.”


“Mana?” Aisyah celingukan.


“Sudah pergi bareng rombongan santri tadi.” Sahut Annisa. “Bule tahu enggak, rupanya yang tadi membaca Al Qur'an itu mantan suaminya Mbak Jihan, loh!”


Salma dan Aisyah kembali terkejut, mereka sungguh tak menyangka Ammar lah si pemilik suara merdu tadi.


“Sebaiknya kita pulang sekarang, aku mau istirahat.” Jihan mengalihkan pembicaraan dan bergegas keluar dari mesjid, hatinya bisa semakin pilu jika terus membahas Ammar.


“Yuk, Mbak!”Aisyah menggamit lengan Salma lalu segera menyusul Jihan.


Rupanya Ammar beserta rombongan santri dan kyai tadi sudah tidak ada. Entah mengapa hati Jihan merasa sedikit kecewa, ternyata Ammar benar-benar mengabaikannya sekarang.

__ADS_1


Sementara itu di dalam mobil yang dia tumpangi, Ammar hanya melamun, memandangi jalanan kota Surabaya yang cukup ramai. Melihat Jihan tadi, membuat rasa rindu yang dia pendam kembali merebak, ada rasa sakit dan sedih saat melihat mata indah Jihan menatapnya dengan sendu. Ammar sengaja tak berinteraksi dengan Jihan, dia ingin menjaga hatinya agar tidak kembali larut dalam rasa cinta terhadap mantan istrinya itu, sebab Ammar sadar Jihan telah haram baginya.


☘️☘️☘️


__ADS_2