Air Mata Istri Sholehah

Air Mata Istri Sholehah
Episode 21.


__ADS_3

Ammar baru saja turun dari mobilnya, tiba-tiba ponselnya berdering. Lagi-lagi Ammar terlihat malas saat melihat ID si penelepon nama Miranda. Sebenarnya dia enggan menjawab panggilan itu, tapi dia teringat pesan Jihan agar bersikap biasa saja demi membongkar kedok Miranda. Mau tak mau, Ammar pun akhirnya menjawab telepon dari Miranda itu.


“Halo, Mir. Ada apa?” Tanya Ammar malas.


“Sayang, kamu kenapa, sih? Susah sekali aku hubungi?”


“Ponselku habis baterai.” Jawab Ammar bohong. Padahal seharian dia menonaktifkan ponselnya itu demi menghindari Miranda.


“Oh, begitu. Sayang, aku kangen banget sama kamu, aku ingin bertemu kamu.”


Ammar memutar bola matanya dengan malas sembari menghela napas. Dia benar-benar kesal mendengar suara manja Miranda itu, tapi dia tetap harus bersandiwara.


“Ya sudah, nanti pulang dari kantor, aku ke apartemen mu. Sudah dulu, ya? Aku mau bekerja.” Ujar Ammar dan langsung memutus panggilan itu tanpa menunggu Miranda menjawab.


“Sangat kebetulan, kali ini kau tidak akan lolos," Gumam Ammar sambil menatap layar ponselnya, semalaman dia sudah berpikir dan telah menemukan cara untuk membongkar kedok Miranda.


Sementara itu, Miranda yang kesal karena sikap dingin Ammar melempar ponselnya ke atas ranjang.


“Berengsek! Dia pasti mulai terpengaruh oleh Jihan! Aku enggak boleh diam saja, aku harus singkirkan Jihan dari hidup Ammar sebelum si bodoh itu meninggalkan aku dan semua rencana ku berantakan.” Miranda berbicara dengan sorot mata sinis.


“Pokoknya aku harus cari tahu apa yang membuat Ammar berubah. Dia enggak akan bisa lari dariku.”


☘️☘️☘️


Sepulang dari kantor, Ammar memacu mobilnya menuju apartemen Miranda. Dia berusaha menenangkan diri agar bisa bersikap biasa saja di hadapan wanita yang masih menjadi kekasihnya itu.


“Sayang, aku merindukanmu.” Miranda berhambur memeluk Ammar, dan lelaki itu terpaksa membalas pelukannya tapi segera melepaskan diri, kemudian berjalan menuju sofa.


Miranda menatap sinis Ammar yang sudah menjatuhkan diri di atas sofa empuk berwarna putih itu, dan ekspresi wajah Miranda seketika berubah manis saat Ammar menatapnya.

__ADS_1


“Kenapa berdiri di situ? Sini, dong! Katanya kangen?”


“Iya, sayang.” Miranda segera mendekati Ammar dan duduk di sampingnya.


“Mir, kamu masih ingat enggak siapa saja teman-teman kita sewaktu sekolah dulu? Sekalian dengan alamat dan nomor telepon mereka.” Tanya Ammar.


Miranda terkesiap, dia sontak menatap Ammar. “Ke-kenapa kamu menanyakan hal itu?”


“Aku berencana mengadakan reuni. Kata dokter itu bagus untuk membantuku mengingat masa lalu.” Jawab Ammar asal.


Miranda menelan ludah berkali-kali, dia mendadak gugup. “A- aku ingat. Ta-tapi aku enggak tahu alamat atau nomor telepon mereka.”


Ammar mengernyit heran. “Satu pun enggak ada yang kamu tahu?”


Miranda menggeleng dengan wajah tegang.


Miranda terdiam.


Ammar mengernyitkan keningnya. “Mir, jangan bilang kamu juga enggak tahu sosial media mereka.”


“Atau sebaiknya kita ke sekolah saja untuk minta data dan alamat mereka.” Lanjut Ammar dan membuat Miranda semakin ketakutan.


“Eh, enggak usah ke sekolah. Kita kabari lewat sosial media mereka saja, aku tahu kok.” Ujar Miranda pasrah. Dia benar-benar bingung harus melakukan apa.


“Ayo, katakan siapa yang harus kita beri kabar lebih dulu?”


Lagi-lagi Miranda terdiam.


“Mampus aku! Kenapa tiba-tiba Ammar punya rencana seperti ini? Apa yang harus aku lakukan?” Batin Miranda.

__ADS_1


“Mir, kenapa diam?” Tegur Ammar karena melihat Miranda melamun.


“Begini saja, biar nanti aku yang kabari mereka. Aku akan kasih nomor telepon dan alamat kamu. Sekarang aku sedang ingin kangen-kangenan sama kamu.” Miranda berbicara dengan nada manja sembari bergelayut di lengan Ammar.


Ammar mengernyitkan keningnya, dia tahu Miranda sedang menghindar.


“Iya, tapi kan itu enggak lama, Mir. Setelah ini kita bisa kangen-kangenan. Ayolah, sekarang katakan siapa nama teman kita, biar aku menghubunginya.” Desak Ammar.


Miranda mengeraskan rahangnya, merasa geram karena Ammar terus memaksa. Sementara dia tak tahu satu pun akun sosial media mereka.


“Sayang, nanti saja, ya? Aku benar-benar lagi ingin berduaan denganmu.”


“Ya sudahlah, tapi nanti segera kabari mereka!”


“Iya, sayang.” Balas Miranda sembari memutar bola matanya.


Sementara Ammar hanya tersenyum samar.


“Oh, iya. Kamu mau minum apa? Biar aku buatkan.”


Ammar menggeleng. “Enggak usah! Kamu di sini saja! Katanya mau kangen-kangenan?”


Miranda tersenyum senang, karena merasa Ammar sudah kembali seperti sebelumnya. Sedangkan Ammar sendiri sudah benar-benar muak dengan situasi ini.


“Hem, Mir. Sebutkan, dong, satu persatu nama teman-teman kita, jadi nanti kalau reuni, aku sudah tahu.” Pancing Ammar.


Miranda tertegun, sejenak dia terdiam mendengar permintaan Ammar tersebut, hatinya kembali dongkol.


☘️☘️☘️

__ADS_1


__ADS_2