
Hari sudah beranjak petang, Jihan sedang membantu Salma memasak makan malam serta menyiapkan bahan-bahan membuat bubur untuk besok, sedangkan Arif tengah menikmati kopi di meja makan tak jauh dari anak dan istrinya.
Suasana rumah tampak sepi, karena sejak Arif dan keluarganya tinggal di rumah itu, Aisyah beserta anak-anaknya pindah ke rumah lain yang hanya berjarak beberapa meter dari kediaman Arif.
“Nak, alhamdulillah sekarang rezeki kita sudah lebih dari cukup, apa kamu enggak ingin melanjutkan pendidikan mu?” Arif bertanya setelah menyeruput kopinya.
“Nanti saja, Abi. Aku masih ingin membantu Abi dan Ummi di warung.”
Jawab Jihan yang sibuk mengupas bawang merah.
“Tapi di warung kan sudah ada Bule Aisyah?” Ujar Arif.
“Walau ada Bule Aisyah, tapi tetap saja Abi dan Ummi kewalahan melayani pelanggan. Jadi sepertinya Abi dan Ummi juga membutuhkan aku.”
“Tapi pendidikan kamu itu penting, Nak. Demi masa depanmu. Ummi ingin kamu itu sukses.” Sela Salma.
“Jangan risau dengan masa depan, Ummi. Allah sudah mengaturnya. Sekarang yang terpenting aku bisa membantu Abi dan Ummi dulu, pendidikan ku bisa nanti saja. Kan mengejar ilmu itu enggak ada batas waktu.” Sahut Jihan.
“Terserah kamu saja lah! Tapi Ummi harap kamu memikirkan ucapan Abi dan Ummi untuk melanjutkan pendidikan mu.” Pungkas Salma sembari memindahkan masakan yang sudah matang ke dalam piring.
Jihan mengangguk. “Iya, Ummi.”
“Oh iya, Aisyah ke mana? Kenapa belum datang? Memangnya hari ini dia enggak bantu?” Tanya Arif sebab sejak tadi tak melihat sosok sang adik.
“Enggak tahu, Abi. Mungkin sebentar lagi datang.” Jawab Salma.
“Assalamualaikum ....” Aisyah tiba-tiba muncul lalu menyelonong masuk.
“Wa’alaikumsalam ....”
__ADS_1
“Maaf, aku telat datang. Tadi ketemu dengan Mbak Yuni di jalan, jadi mengobrol sebentar.” Dalih Aisyah meskipun tak ada yang bertanya.
“Jangan sering-sering gibah! Enggak baik!” Ledek Arif.
“Aku enggak gibah, Mas! Tadi Mbak Yuni panggil aku dan suruh sampaikan pesan ke Mas dan Mbak, kalau nanti malam dia mau datang ke rumah. Dan setelah itu kami hanya mengobrol tentang resep masakan.” Terang Aisyah.
“Oh, maaf kalau Mas sudah salah sangka.” Imbuh Arif.
“Makanya jangan suudzon sama adik sendiri, Mas!” Balas Aisyah.
Arif hanya tertawa menanggapi ocehan adiknya satu-satunya itu.
“Memangnya ada perlu apa Mbak Yuni ke sini? Sampai titip pesan segala, biasanya juga tinggal datang saja.” Salma coba menerka-nerka maksud kedatangan tetangganya itu nanti malam.
“Dia tidak bilang, sih. Tapi aku rasa mungkin mau melamar Jihan, Mbak!” Seru Aisyah asal.
Arif dan Jihan hanya geleng-geleng kepala mendengar Aisyah suka asal kalau bicara.
“Kan bisa jadi, Mbak! Soalnya aku dengar-dengar, anaknya Mbak Yuni datang dari Jakarta.” Sambung Aisyah.
“Memangnya kalau anak Mbak Yuni datang, dia pasti akan melamar Jihan? Sok tahu kamu!” Bantah Salma.
“Ih, Mbak Salma enggak percaya, deh! Aku yakin pasti itu tujuan Mbak Yuni mau ke rumah ini nanti malam, dia kan sudah lama menginginkan Jihan menjadi menantunya.” Beber Aisya tak mau kalah.
“Kamu tahu dari mana kalau dia menginginkan Jihan menjadi menantunya? Jangan asal bicara, Syah. Nanti jadi fitnah.” Arif akhirnya menyela.
Aisyah memandang kakaknya itu dengan wajah serius. “Mbak Yuni sendiri yang bilang, Mas. Malah tadi Mbak Yuni tanya ke Jihan, apa dia ada niat menikah lagi?”
Arif beralih memandang putrinya itu. "Benar itu, Nak?”
__ADS_1
“Iya, Abi.”
“Tuh, benarkan, Mas?” Sungut Aisyah.
“Iya, tapi kan belum tentu juga tujuan Mbak Yuni nanti malam ke rumah ingin melamar Jihan. Mungkin saja dia hanya ingin bersilaturahmi, jangan berprasangka dulu!” Pungkas Arif.
“Mas, Mbak Yuni sering main ke sini, hampir tiap hari malah. Ngapain coba dia mau bersilaturahmi pakai acara titip pesan ke Mas dan Mbak kalau mau datang? Ya tinggal datang saja! Dia itu sengaja biar Mas dan Mbak bersiap-siap menyambutnya, semacam kode gitu.” Tutur Aisyah sok tahu.
Arif dan Salma terdiam, keduanya saling pandang lalu menatap Jihan yang termangu dengan jantung berdebar. Jihan mendadak merasa gelisah dan takut jika memang benar tujuan Yuni datang malam ini untuk melamarnya, apa yang harus dia katakan nanti? Mendadak hati Jihan takut dan cemas.
Allahu Akbar .... Allahu Akbar.
Allahu Akbar .... Allahu Akbar.
Suara adzan Maghrib pun berkumandang, menggema bersahut-sahutan di langit.
“Sudah adzan, sebaiknya kita sholat Magrib dulu?” Arif beranjak dari duduknya
dan bergegas masuk ke kamar mandi untuk mengambil wudhu.
Jihan, Salma juga Aisyah pun menghentikan aktivitas mereka dan bersiap untuk berwudhu. Sudah menjadi kebiasaan, setiap Magrib mereka semua akan sholat berjamaah dan Arif menjadi imam.
☘️☘️☘️
Hai, BESTie.🥰
Kalau kamu suka novel ini, jangan lupa like, komen dan masukkan ke rak favorit ya.
Biar aku makin semangat update.🙏🏼
__ADS_1