
Malam pun tiba, Arif dan Salma sudah bersiap untuk menyambut Yuni meskipun mereka tak tahu tujuan kedatangan wanita itu.
“Assalamualaikum ....” Terdengar suara Yuni dan seorang lelaki mengucapkan salam.
“Wa’alaikumsalam ....” Arif dan Salma buru-buru menyambut mereka setelah menjawab salamnya.
Sementara Jihan masih menyiapkan minuman dan camilan di dapur, sedangkan Aisyah sudah pulang ke rumahnya.
“Silakan masuk, Mbak!” Salma mempersilakan tamunya itu masuk.
“Maaf, ya. Kami datang malam-malam begini!” Yuni merasa sungkan.
“Enggak apa-apa, Mbak. Mari silakan duduk!”
Sahut Salma, Arif hanya tersenyum menanggapi basa-basi tetangganya tersebut.
Yuni beserta sang putra pun memilih duduk berhadapan dengan Arif dan Salma.
“Perkenalkan, ini anak saya.” Ujar Yuni sembari menunjuk seorang pria berwajah Arab yang tak lain adalah sang putra.
“Selamat malam, Pak, Bu. Perkenalkan nama saya Radit.”
Tepat bersamaan dengan itu, Jihan keluar dari dapur dengan membawa nampan berisi minuman dan camilan yang dia siapkan tadi. Matanya membulat sempurna dengan mulut ternganga karena terkejut bukan main.
“Pak Radit!” Seru Jihan yang terpaku menatap mantan atasannya itu.
“Jihan!” Balas Radit lalu tersenyum manis.
Arif dan Salma saling pandang, keduanya merasa bingung.
“Kalian sudah saling kenal?” tanya Arif.
“Sudah!” Jawab Jihan dan Radit bersamaan.
“Jihan ini mantan karyawan saya, Pak.” Radit menegaskan lagi.
Salma menatap Jihan.“Oh, jadi Nak Radit ini bekas atasan kamu?”
Jihan mengangguk. “Iya, Ummi.”
“Masya Allah, masih muda sudah sukses dan punya perusahaan.” Sela Salma takjub, dia tahu dulu Jihan bekerja di perusahaan yang cukup besar, dan tidak menyangka jika Radit pemiliknya.
__ADS_1
“Itu bukan perusahaan saya, Bu. Itu milik almarhum Ayah, saya hanya menjalankannya saja.” Sanggah Radit merendah.
Salma langsung terkesima dan kagum dengan kerendahan hati Radit, dia seketika menyukai lelaki itu.
Arif beralih memandang Jihan yang masih terpaku di tempatnya berdiri. “Nak, kenapa berdiri di situ terus?”
“Eh, iya, Abi. Maaf!”Jihan bergegas melangkah mendekati keempat orang itu lalu menghidangkan minum dan camilan yang dia bawa.
Setelah selesai, Jihan beranjak dan hendak kembali ke dapur, tapi suara Yuni menahan langkahnya.
“Jihan mau ke mana? Di sini saja!”
Pinta Yuni.
Jihan melirik Arif, dan Abi nya itu mengangguk.
Dengan canggung, wanita berhijab itu pun duduk di samping Salma, perasaannya mulai tidak enak. Jihan terus menundukkan kepala, menghindari tatapan Radit yang sejak tadi tertuju padanya.
“Sebelumnya saya minta maaf jika kedatangan kami malam ini mengganggu waktu Mas Arif sekeluarga.” Ujar Yuni membuka percakapan.
“Tidak mengganggu, kok, Mbak.” Balas Arif.
“Begini, Mas, Mbak. Kedatangan kami ini sebenarnya ingin menyampaikan niat baik.”
“Saya ingin mengkhitbah Jihan untuk putra saya, Radit. Apakah Mas dan Mbak menerimanya?” Lanjut Yuni sedikit gugup.
Arif dan Salma terkesiap mendengar penuturan Yuni yang terkesan blak-blakan dan terlalu tiba-tiba. Ternyata benar apa yang dikatakan Aisyah.
Keresahan Jihan semakin bertambah, dia tak pernah menduga jika mantan atasannya itu akan melamarnya begini.
“Maaf, Mbak Yuni. Apa ini enggak terlalu mendadak?” Arif buka suara.
“Memang sedikit mendadak, Mas. Tapi saya dan anak saya sudah yakin dengan keputusan kami.” Sahut Yuni.
“Tapi Jihan ini janda, apa Nak Radit tahu itu?” Tanya Arif pada Radit.
“Saya tahu, Pak. Dan sebenarnya saya juga seorang duda tanpa anak, istri saya meninggal tiga tahun yang lalu karena sakit. Jihan juga sudah tahu itu.”
“Tapi Jihan belum memiliki akta cerainya.” beber Arif jujur.
Yuni dan Radit saling pandang dengan raut terkejut, tapi kemudian wanita paruh baya itu menatap Arif.
__ADS_1
“Tapi bukannya Jihan sudah berpisah, Mas?”
“Jihan memang sudah ditalak suaminya dan terakhir kali saya dengar suaminya sedang mengurus perceraian mereka. Tapi sampai sekarang kami belum ada bicara lagi dengan pihak suaminya dan akta cerai itu juga belum kami terima.” Terang Arif.
“Oh, tapi yang penting kan secara agama Jihan sudah berpisah dari suaminya, nanti akta cerainya bisa diminta belakangan saat mengurus berkas pernikahan. Yang penting sekarang Nak Jihan bersedia atau enggak menerima pinangan kami?”
Arif dan Salma tertegun mendengar ucapan Yuni yang begitu ngebet menginginkan Jihan menikah dengan putranya.
“Hem, maaf sebelumnya, tapi kenapa tiba-tiba Nak Radit ingin mengkhitbah Jihan?” Salma mau memastikan alasan Radit, dia takut kejadian yang lalu terulang lagi.
Radit melirik Jihan yang masih tertunduk. “Jujur, sebenarnya saya sudah menaruh hati pada Jihan saat dia masih menjadi karyawan saya, Bu. Tapi dia justru menikah dengan orang lain, jadinya saya mundur.”
Jihan tercengang dengan pengakuan Radit itu, jadi benar apa yang dikatakan Ammar tempo hari, bahwa Radit menyukainya.
“Sama, saya juga sudah jatuh hati pada Jihan sejak pertama kali melihatnya. Makanya begitu tahu dia sudah berpisah, saya langsung menjodohkannya dengan Radit.” Sela Yuni tak mau kalah.
“Iya, hampir setiap hari Bunda cerita tentang Jihan dan saya sudah menduga itu adalah Jihan yang saya kenal. Makanya saya langsung meminta Bunda untuk melamarnya.” Sambung Radit.
“Masya Allah! Ini yang dinamakan jodoh atau hanya kebetulan, ya?” Seloroh Salma.
“Saya harap ini jodoh, Bu.” Sahut Radit yang kembali melirik Jihan.
Sementara wajah Jihan sudah merona dan jantungnya semakin berdetak tak karuan.
“Jadi bagaimana? Apa Mas sekeluarga menerima pinangan kami?”Tanya Yuni penuh harap.
“Kalau kami terserah pada Jihan saja, dia yang lebih mengenal Nak Radit daripada kami. Lagipula nanti dia juga yang akan menjalaninya.” Ujar Arif bijak, lalu memandang Jihan. “Bagaimana, Nak?”
Jihan menelan ludah berkali-kali, lidahnya terasa kaku sehingga begitu sulit untuk bicara. Dia hanya tertunduk sambil meremas jemarinya. Hatinya bimbang dan bingung, dia tidak mencintai Radit tapi dia juga tak tega untuk menolak lelaki itu.
“Nak, bicaralah!” Salma menggenggam tangan Jihan yang sedingin es.
Radit dan Yuni hanya memperhatikan Jihan dengan perasaan gelisah.
“Ma-maaf, tolong beri saya waktu seminggu untuk menjawab.”Ucap Jihan akhirnya.
“Baiklah, kami akan menunggu jawaban kamu.”Sambut Yuni pasrah.
Jihan mengembuskan napas lega karena Yuni menuruti permintaannya.
“Kalau begitu silakan diminum! Dicoba juga camilannya.” Salma berusaha mencairkan suasana.
__ADS_1
☘️☘️☘️