Air Mata Istri Sholehah

Air Mata Istri Sholehah
Episode 14.


__ADS_3

Pagi ini Jihan tidak terlalu bersemangat karena sedang demam akibat kehujanan kemarin sore, sejak tadi malam dia terus bersin-bersin dan menggigil kedinginan. Tapi dia tetap bersikeras untuk pergi bekerja, sebab tak enak jika harus libur lagi.


Jihan buru-buru pergi sebelum Ammar turun, dia masih terlalu malu untuk bertemu lelaki itu.


“Saya pergi dulu, Mang. Assalamualaikum.”


“Iya, Neng. Wa ’alaikumsalam.” Balas Mang Jaja.


Mang Jaja memandangi kepergian Jihan dengan sedikit cemas.


“Wajah Neng Jihan pucat sekali, apa dia sedang sakit?” Gumam Mang Jaja.


“Ada apa, Mang?” Tiba-tiba suara Ammar mengagetkan Mang Jaja. Lelaki paruh baya itu sontak menoleh ke arah Ammar yang sudah berdiri di samping mobilnya.


“Hemm, anu, Den Ammar. Neng Jihan ....” Mang Jaja takut-takut ingin bicara.


“Kenapa dia?” Tanya Ammar ingin tahu.


“Wajahnya pucat sekali. Mungkin sakit karena kehujanan kemarin sore, Den.” Jawab Mang Jaja.


Ammar mengembuskan napas. “Ya sudah, buka gerbangnya! Saya mau keluar.”


“Iya, Den.” Mang Jaja bergegas membuka gerbang.


Ammar segera memacu mobilnya meninggalkan halaman rumah. Mang Jaja hanya geleng-geleng kepala melihat sikap cuek anak majikannya itu.


“Kasihan Neng Jihan, punya suami tapi enggak peduli dengan dia.”


Sementara itu, Jihan yang belum terlalu jauh berjalan, merasa semakin lemas. Keringat sebesar biji jagung mulai membasahi dahi dan lehernya, tubuhnya menggigil dan gemetaran.


“Astagfirullah, kenapa kepalaku pusing sekali? Mana kedinginan lagi.”


Jihan terus berjalan meski dengan langkah yang pelan sembari memeluk dirinya sendiri, kepalanya pusing dan berputar, pandangannya pun mulai berkunang-kunang. Tubuh lemah Jihan limbung dan akhirnya jatuh menghantam tanah.


Ammar yang sedang melintas dan melihat Jihan pingsan segera menghentikan mobilnya lalu keluar menghampiri wanita itu.


“Jihan, bangun!” Ammar menepuk pelan pipi Jihan yang terasa panas. “Astaga, panas sekali!”


Ammar pun mengangkat tubuh Jihan dan memasukkannya ke dalam mobil, kemudian membawa wanita itu ke rumah sakit.


☘️☘️☘️


Dokter sudah selesai memeriksa kondisi Jihan dan memberikannya suntikan obat juga infus, wanita berhijab itu masih terbaring tak sadarkan diri.

__ADS_1


“Pasien terkena flu dan dehidrasi, demamnya cukup tinggi. Saya sudah berikan obat, jadi biarkan dia istirahat.” Tutur dokter wanita yang tadi menangani Jihan.


“Iya, Dok. Terima kasih.” Sahut Ammar.


“Kalau begitu saya permisi dulu.” Pamit sang Dokter dan Ammar hanya membalasnya dengan senyuman.


Setelah Dokter itu pergi, Ammar beralih memandang wajah pucat Jihan yang masih terlelap, keningnya masih dipenuhi keringat sebesar biji jagung dan tiba-tiba bibir mungilnya mulai meracau memanggil sang Ummi.


“Ummi .... Ummi ....” Jihan mengigau dengan mata yang terpejam.


“Hei, Jihan ... tenanglah.” Ammar mengusap kening Jihan sembari memanggil nama wanita itu dengan lembut.


Dan ajaibnya, Jihan pun tenang lalu kembali terlelap.


Ammar terus memperhatikan wajah Jihan, entah mengapa ada perasaan iba yang mendadak menyelusup ke dalam hatinya saat melihat wanita itu sedang tidak berdaya seperti ini. Apalagi sejak dia menemukan fakta dari masa lalunya tadi malam, entah mengapa hatinya mulai meragukan cerita buruk tentang Jihan yang di sampaikan oleh Miranda.


“Sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa aku enggak bisa mengingat apa pun?.” Batin Ammar sambil terus memandangi wajah Jihan.


Ammar pun tersentak saat ponselnya tiba-tiba berdering, tak mau mengganggu Jihan dan pasien lain, Ammar bergegas menjawab panggilan masuk itu sembari berjalan menjauh dari Jihan.


“Halo, Pa.” Sapa Ammar.


“Kau ke mana? Kenapa belum sampai kantor?”


“Kenapa?”


Ammar menoleh sebentar ke arah Jihan sebelum menjawab pertanyaan sang papa. “Jihan sakit, aku lagi jagai dia.”


“Jihan sakit? Sakit apa?”


“Cuma demam dan flu. Ini juga lagi aku bawa berobat.”


“Ya sudah, kau jaga Jihan saja, enggak usah masuk kerja. Nanti Mama dan Papa ke rumah buat jenguk Jihan. Kabari kalau sudah pulang.”


“Iya, Pa.” Jawab Ammar.


“Mertuamu sudah tahu?”


“Belum.”


“Ya sudah, nanti biar Papa yang kabari mereka. Kau jaga Jihan betul-betul, kabari Papa kalau ada apa-apa.”


“Iya, Pa.”

__ADS_1


Ammar menghela napas panjang setelah Yusuf mengakhiri pembicaraannya, dia tak menyangka sang papa akan panik dan seheboh itu saat tahu menantunya sakit, padahal hanya flu saja.


Ammar kembali memandangi wajah pucat Jihan, hatinya kembali bertanya. “Mengapa Papa dan Mama begitu sangat menyayangimu? Mereka sampai harus memaksaku untuk menikah denganmu. Sebenarnya apa yang enggak aku tahu tentang dirimu?”


Mata Jihan tiba-tiba mengerjap dan terbuka perlahan, dia masih berusaha memfokuskan pandangannya sambil merintih memegangi kepalanya. Dan mata indahnya membulat saat menangkap sosok Ammar yang berdiri di sisi ranjang rumah sakit.


“Mas ....” Ucap Jihan pelan. “Aku di mana?”


“Di rumah sakit. Tadi kau pingsan di jalan.” Jawab Ammar datar.


“Pingsan?” Jihan mencoba mengingat apa yang terjadi. “Astagfirullah, aku kan harus bekerja.”


Jihan sontak panik dan hendak bangun saat dia teringat harus pergi ke kantor Ritz Corporation untuk bekerja, tapi urung sebab Ammar kembali membaringkannya.


“Kau ini sedang sakit, kenapa masih sibuk mau bekerja? Kalau kau pingsan lagi bagaimana? Menyusahkan orang saja!” Sungut Ammar dengan wajah masam, Jihan terkejut melihat sikap suaminya itu. Ini untuk pertama kalinya Ammar peduli kepadanya meskipun dia tunjukkan dengan cara marah-marah.


“Tapi, Mas, aku ....”


“Aku sedang malas berdebat denganmu. Kalau kau masih bersikeras mau bekerja, ya sudah pergi sana!” Potong Ammar ketus sambil memalingkan wajahnya.


Jihan terdiam sambil menelan ludah, dia merasa aneh dengan sikap Ammar ini. Apa yang sebenarnya terjadi?


Tak ingin membuat suaminya itu semakin marah, Jihan pun akhirnya menurut dan segera menghubungi bagian personalia untuk meminta izin cuti, sebab dia sendiri pun masih merasa lemas dan pusing.


Setelah memastikan keadaan Jihan sudah lebih baik, Dokter pun mengizinkan mereka pulang dan beristirahat di rumah.


“Di jaga ya istrinya, Pak. Banyak istirahat dan obatnya jangan lupa diminum.” Pinta Dokter wanita yang menangani Jihan.


“Baik, Dok. Kalau begitu kami permisi dulu.”


“Ok, cepat sembuh, ya, Bu Jihan.”


“Iya, Dok. Terima kasih.” Balas Jihan.


“Sama-sama.”


Ammar dan Jihan pun meninggalkan rumah sakit. Tapi saat di parkiran, dari kejauhan Miranda yang kebetulan juga berada di rumah sakit yang sama tak sengaja melihat mereka masuk ke dalam mobil.


“Mau apa mereka kesini?” Tanya Miranda. Dia bergegas mengambil ponselnya lalu menghubungi Ammar, namun sama sekali tak ada jawaban, bahkan di panggilan kedua dan ketiga, Ammar tetap tak menjawabnya.


“Berengsek! Kau mulai berani rupanya.” Geram Miranda. “Apa ini ada hubungannya dengan pertanyaan Ammar ke Evan semalam? Aku harus cari tahu.”


Miranda bergegas masuk ke dalam mobilnya dan melaju membuntuti mobil Ammar, dia sampai harus menunda jadwal terapinya demi mencari tahu yang sebenarnya terjadi.

__ADS_1


☘️☘️☘️


__ADS_2