Air Mata Istri Sholehah

Air Mata Istri Sholehah
Episode 42.


__ADS_3

Tak terasa sudah empat hari kepergian Ratih, Arif beserta anak dan istrinya memutuskan kembali ke Jakarta untuk mengurus perpindahan mereka ke Surabaya. Arif sudah mengajukan pengunduran diri dari tempat selama ini mencari nafkah, semua sudah selesai tanpa kendala dan saat ini dia serta Salma sedang menyusun barang-barang yang akan dibawa pindah. Sementara Jihan masih belum pulang, wanita berwajah ayu itu tengah menemui atasannya.


Di gedung Ritz Corporation, Jihan sedang berhadapan dengan Radit. Dia sudah menyampaikan keinginannya untuk mengundurkan diri sebelum kontrak kerja berakhir.


“Jadi itu alasannya kamu mengundurkan diri?” Tanya Radit memastikan setelah mendengar penjelasan Jihan.


“Iya, Pak. Maaf kalau saya bersikap kurang ajar dengan melanggar perjanjian kontrak kerja, tapi saat ini saya enggak punya pilihan lain.” Jawab Jihan. Sejujurnya dia merasa tak enak dengan Radit, tapi semua ini harus dia lakukan.


“Tapi kan kamu sudah menikah, bukankah seharusnya kamu tinggal bersama suamimu?”


Jihan tertunduk dengan sedih. “Saya dan suami saya akan segera bercerai, Pak.”


Radit terhenyak, lalu mengernyitkan keningnya. “Kamu serius? Memangnya ada masalah apa sampai kalian harus bercerai?”


“Maaf, Pak. Saya enggak bisa menceritakan masalah rumah tangga saya.”


Radit mengembuskan napas. “Iya, maaf kalau saya ingin tahu.”


Jihan menggeleng. “Enggak apa-apa, Pak.


“Jadi boleh kan saya mengundurkan diri?”


Tanya Jihan.


Radit terdiam sejenak, namun kemudian mengangguk. “Iya, boleh. Tapi dengan satu syarat.”


“Apa, Pak?”


“Kamu enggak boleh memutuskan silaturahmi dengan saya, meskipun kamu bukan lagi karyawan saya, tapi kita tetap bisa berteman.”


Jihan tersenyum. “Iya, Pak. Insya Allah.”


Radit juga ikut tersenyum senang. “Kamu bisa ambil gaji kamu bulan ini pada staf administrasi.”


“Baik, Pak. Terima kasih banyak.”


“Iya, sama-sama.”

__ADS_1


“Oh, iya, Pak. Saya juga mau mengembalikan ini.” Jihan menyodorkan sapu tangan berwarna biru Dongker yang waktu itu Radit pinjamkan untuk mengusap air matanya.


“Ternyata benar-benar dikembalikan? Saya saja sudah lupa.”


Ledek Radit.


“Itu kan milik Bapak, jadi harus saya kembalikan.”


“Padahal saya sudah ikhlaskan memberikannya untuk kamu, loh!” Radit meraih sapu tangan itu.


Jihan kembali tersenyum.


“Kalau begitu saya permisi dulu, Pak. Assalamualaikum ....” Ujar Jihan.


Radit mengangguk. “Wa’alaikumsalam ....”


Jihan pun beranjak dan bergegas keluar dari ruangan Radit karena dia ingin berpamitan dengan Tasya dan rekan-rekannya yang lain.


Radit memandangi kepergian Jihan dengan tatapan yang sulit diartikan seraya mencium sapu tangan yang beraroma bunga khas pengharum pakaian.


“Apa kali ini Allah ingin memberi ku kesempatan?” Gumam Radit.


“Bunda!" Seru Radit, kemudian segera menggeser tombol hijau dan panggilan pun tersambung.


“Halo, Assalamualaikum, Bunda.” Sapa Radit.


“Wa’alaikumsalam. Kamu sedang sibuk enggak?”


“Enggak, Bun. Aku lagi santai, kok.” Sahut Radit.


“Syukurlah. Soalnya Bunda enggak mau mengganggu waktumu.”


“Bunda mengganggu juga enggak apa-apa, kok. Aku ikhlas, yang penting Bunda senang.” Seloroh Radit.


“Kalau kamu mau Bunda senang, makanya menikah. Mau sampai kapan kamu sendiri terus seperti ini?”


“Ya sampai aku ketemu jodoh dan menikah.” Jawab Radit asal.

__ADS_1


“Kamu ini, ya. Bunda serius, kamu masih bercanda!”


Radit terkekeh karena berhasil menggoda ibundanya itu. Memang sejak dulu, duda tampan berdarah Arab ini paling susah diajak bicara serius perihal masalah pribadi, dia selalu menanggapinya dengan bercanda.


“Dit, kamu itu sudah enggak muda lagi. Anak-anak teman Bunda yang seusia kamu sudah pada gendong anak. Lah, kamu istrinya saja enggak punya.”


“Oh, jadi Bunda mau aku gendong anak? Gampang, nanti aku pinjam anak tetangga terus aku gendong.” Lagi-lagi Radit membalasnya dengan bercanda.


“Radit, Bunda serius! Jangan bercanda terus! Bunda marah ini!”


Radit kembali terkekeh. “Iya-iya, Bunda. Ampun!”


“Kamu ini susah sekali kalau diajak bicara, pasti buat kesal! Bunda itu ingin melihat kamu bahagia, punya istri dan anak. Sudah hampir tiga tahun kepergian Andini, kamu masih belum juga mencari gantinya. Bunda sedih melihat kamu sendiri terus.”


“Nanti juga aku menikah kalau sudah tiba waktunya, Bun.” Sambung Radit.


“Selalu itu jawabannya. Sudahlah, Bunda lelah bicara dengan kamu. Assalamualaikum.”


“Wa’ alaikumsalam ....” Balas Radit sambil mengulum senyum.


Radit mengembuskan napas setelah pembicaraannya dengan sang ibunda berakhir. Sejujurnya dia pun ingin menikah lagi dan memiliki rumah tangga yang utuh seperti orang-orang di luar sana, tapi entah mengapa sampai saat ini hatinya belum bisa menerima siapa pun kecuali Jihan.


Meskipun kecewa karena wanita yang dia sukai itu menikah dengan orang lain, tapi perasaan Radit tak berubah sedikit pun kepada Jihan. Dan hari ini dia seolah mendapatkan secercah harapan ketika mendengar kabar perceraian Jihan, hatinya kembali mengharapkan sosok cantik yang sudah lama dia idamkan itu.


☘️☘️☘️


Langit biru cerah dihiasi gumpalan awan putih yang bersih, ditambah semilir angin yang bertiup sepoi-sepoi, menggoyangkan ranting dan dedaunan pohon bunga Kamboja. Suasana sunyi yang begitu tenang menyelubungi deretan nisan yang tersusun rapi, tak ada suara selain desir angin yang berembus menerpa kulit. Hening dan penuh duka.


Miranda sedang berdiri di tepi sebuah makam, buket bunga Krisan berwarna putih dia letakkan di dekat nisan. Sejenak tak ada suara, hanya bulir air mata yang setetes demi setetes jatuh membasahi pipinya.


Miranda menarik napas dalam-dalam, lalu mengembuskannya dengan berat sembari menyeka cairan bening yang sedari tadi mengalir mewakili perasaannya. Rasa dendam, marah sekaligus sedih yang berbaur menjadi satu telah membuat dia akhirnya memutuskan kekeliruan yang amat sangat besar.


“Kau menjadi korban atas perbuatan mereka, padahal kau enggak salah apa-apa. Rasanya sudah cukup aku mengulur waktu, dan hari ini aku akan tuntaskan pembalasan dendam untukmu. Aku akan menghancurkannya hingga berkeping-keping sampai dia tak bisa lagi merasakan kebahagiaan lalu mati dalam ke terpuruk kan. Agar kau tenang di alam sana.” Ucap Miranda lirih sembari mengusap air matanya.


Seketika kejadian nahas beberapa tahun yang lalu berlarian di ingatannya.


Miranda mengepalkan tangannya, sorot matanya dipenuhi kebencian dan amarah. “Ammar, penderitaan dan kehancuran akan segera kau dapatkan.”

__ADS_1


Miranda bergegas pergi meninggalkan pemakaman umum itu dan memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi.


☘️☘️☘️


__ADS_2