Air Mata Istri Sholehah

Air Mata Istri Sholehah
Episode 11.


__ADS_3

Masa libur Jihan sudah habis, hari ini dia akan kembali bekerja seperti biasanya. Sejak kejadian kemarin, Jihan selalu menghindari Ammar, rasanya dia terlalu malu jika bertemu suaminya itu. Bahkan hari ini dia buru-buru pergi sebelum Ammar turun.


Jihan berjalan kaki menuju halte bus yang berada tak jauh dari simpang pintu masuk perumahan tempat mereka tinggal, memang sudah menjadi kebiasaannya pergi dan pulang kerja naik angkutan umum. Tiba-tiba mobil Ammar berlalu melewatinya begitu saja. Jihan hanya menghela napas melihat mobil Range Rover Velar hitam itu menjauh, jangankan berbaik hati memberikan tumpangan, menegurnya saja Ammar tidak mau, seolah-olah mereka tak saling mengenal.


Beberapa saat kemudian, Jihan pun tiba di depan gedung Ritz Corporation, tempat dia bekerja. Dengan langkah tergesa-gesa, Jihan masuk ke dalam gedung berlantai sepuluh itu.


Jihan pun menyimpan barang-barangnya di loker lalu segera mengambil perlengkapan bersih-bersih dan menjalankan pekerjaannya membersihkan lantai serta kaca jendela di gedung itu.


“Cieee, pengantin baru sudah masuk nih?” Seorang wanita berambut sebahu tiba-tiba meledek Jihan.


“Tasya, mengagetkan saja.” Balas Jihan.


“Bagaimana malam pertamanya? Sukses? Berapa ronde?” Cecar Tasya dengan wajah menggoda.


“Tasya! Bicaranya dijaga, dong!” Protes Jihan dengan wajah memerah.


“Malu ni yeee?” Tasya semakin getol menggoda Jihan.


“Ih, Tasya!”


“Ada apa pagi-pagi sudah berisik?” Tiba-tiba suara seorang pria terdengar di telinga Jihan dan Tasya, membuat keduanya terdiam.


“Maaf, Pak Radit.” Ujar Tasya dan Jihan bersamaan.


Lelaki bernama Radit itu terkekeh. “Sudah santai saja! Jangan tegang begitu, saya enggak makan orang, kok.”


Tasya dan Jihan berusaha tersenyum.


“Jihan, maaf, ya? Saya enggak bisa hadir di pernikahanmu.” Ucap Radit dengan tatapan yang tak terbaca.


“Enggak apa-apa, Pak.”


“Selamat menempuh hidup baru, semoga kamu bahagia selalu.” Sambung Radit masih dengan tatapan yang sama.


“Aamiin. Terima kasih, Pak.”


“Oh, iya. Saya mau minta tolong sama kamu.” Sambung Radit.


“Apa, Pak?”


“Tolong bersihkan tumpahan kopi di ruangan saya, tadi enggak sengaja tersenggol. Sekarang, ya! Soalnya ada kolega bisnis saya yang mau datang.”


“Baik, Pak.” Jihan mengangguk patuh. Radit pun berlalu dari hadapan mereka.

__ADS_1


“Kayaknya Pak Radit suka sama kamu, deh.” Tutur Tasya sembari memandang punggung Radit yang semakin menjauh.


“Kamu ini kalau bicara suka asal!” Sungut Jihan.


“Serius, Jihan. Kamu enggak bisa lihat apa dari cara dia memandangmu? Dia pasti patah hati banget saat tahu kamu menikah.”


“Sudah, ah. Kamu makin ngaco!” Jihan beranjak pergi dengan membawa peralatan bersih-bersihnya.


“Ih, Jihan! Aku serius, loh.” Rengek Tasya. Tapi Jihan tak menggubrisnya.


☘️☘️☘️


Jihan sedang membersihkan tumpahan kopi di dekat meja kerja Radit, sedangkan lelaki itu duduk di sofa dan sedari tadi hanya memperhatikan Jihan.


Tiba-tiba pintu ruangan Radit diketuk dari luar, membuat pandangannya beralih.


“Masuk!”


Pintu itu terbuka dan seorang wanita berpakaian minim berjalan masuk.


“Pak, perwakilan dari perusahaan Antareza Grup sudah datang.” Adu wanita itu.


Jihan terkejut mendengar nama perusahaan milik mertuanya itu.


“Baik, Pak.”


Wanita itu melenggang pergi, tak lama kemudian seorang pria muda masuk.


“Selamat pagi, Pak.”


“Selamat pagi.” Balas Radit.


“Perkenalkan saya Ammar, perwakilan dari Antareza Grup. Maaf, perwakilan yang sebelumnya berhalangan, jadi saya yang menggantikannya.”


“Hai, Ammar. Saya Radit. Enggak apa-apa, siapa pun perwakilannya, sama saja.”


Ammar hanya membalasnya dengan senyuman.


“Mari silakan duduk!”


“Terima kasih, Pak.” Sahut Ammar dan ikut duduk di hadapan Radit, tapi tatapannya terfokus pada Jihan yang masih membersihkan tumpahan kopi. Karena posisi Jihan yang membelakanginya, Ammar tak dapat melihat wajahnya.


“Kalau begitu mana berkas yang harus saya pelajari?” Tanya Radit dan mengalihkan pandangan Ammar ke dirinya.

__ADS_1


“Oh, ini, Pak!” Ammar menyerahkan berkas yang dia bawa dan menjelaskan isinya kepada Radit.


Sementara Jihan sudah gemetaran karena tahu Ammar sedang berada di sana. Tapi mau tak mau dia harus keluar dari ruangan itu karena pekerjaannya sudah selesai.


Dengan perlahan Jihan berbalik dan berjalan sambil menunduk, berharap Ammar tidak melihatnya.


“Sudah selesai, Jihan?” Radit tiba-tiba bertanya saat melihat Jihan berlalu di hadapannya, membuat Ammar pun ikut melihat ke arah wanita itu tepat di saat bersamaan Jihan yang juga menoleh ke arahnya.


Mata Ammar membulat sempurna, dia terkesiap melihat Jihan ada di sini dan bekerja sebagai cleaning servis. Karena sebelumnya dia memang tak mau tahu Jihan bekerja sebagai apa dan di mana.


“Jadi dia kerja di sini?” Batin Ammar.


“Su-sudah, Pak.” Jawab Jihan gugup. Dia langsung menundukkan kepala saat tatapannya bertemu dengan tatapan Ammar.


Melihat reaksi Ammar dan Jihan, membuat Radit kembali bertanya. “Ada apa? Kalian saling mengenal?”


Ammar menggeleng cepat. “Enggak, saya enggak kenal.”


Wajah Jihan berubah sedih, dia tak menyangka Ammar berpura-pura tidak mengenalnya.


“Oh, saya kirai kenal.” Radit tertawa.


Ammar dan Jihan hanya terdiam dengan pikiran masing-masing.


“Oh iya, Jihan. Tolong buatkan ....” Radit menjeda ucapannya dan memandang Ammar. “Kopi atau teh?”


Ammar menggeleng. “Enggak usah, Pak. Saya baru minum tadi, lagi pula saya cuma sebentar kok.”


“Kamu yakin? Teh dan kopi buatan Jihan enak, loh.” Ujar Radit dengan wajah jenaka.


Ammar tersenyum. “Iya, Pak. Saya yakin.”


“Oh, ya sudah, Jihan. Enggak jadi.” Radit beralih ke Jihan yang masih menunggu.


“Iya, Pak. Kalau begitu, saya permisi.”


Radit tersenyum manis. “Iya, terima kasih.”


Jihan meninggalkan ruangan Radit dengan berlinang air mata, dia merasa kecewa karena Ammar pura-pura tidak mengenal dirinya. Ternyata pengakuannya kemarin tak mengubah apa pun.


Sedangkan Ammar memperhatikan sikap Radit yang begitu ramah dan lembut kepada Jihan.


“Kalau begitu, mari kita lanjut lagi!” Pinta Radit dan Ammar pun kembali melanjutkan penjelasannya.

__ADS_1


☘️☘️☘️


__ADS_2