
Di dalam kamar, Salma duduk di tepi ranjang sambil menangis, dia bukan orang yang kejam atau jahat, namun dia hanya tak ingin melakukan kesalahan lagi dengan mengizinkan Jihan kembali pada Ammar, sebab dia sudah terlanjur sakit hati atas perlakuan pemuda itu terhadap sang putri tempo hari.
Jihan yang berdiri di samping Salma hanya bergeming, air matanya sejak tadi terus saja menetes. Saat ini dia bingung harus berbuat apa, bahkan untuk bersuara pun dia tak bisa. Ada perasaan sedih, menyesal, dan iba di dalam hatinya yang membaur menjadi satu.
“Pokoknya Ummi enggak izin kamu rujuk sama dia!” Ujar Salma.
“Ummi.” Jihan lantas duduk di depan sang Ummi dan menggenggam tangannya.
Salma menatap Jihan dengan berlinang air mata lalu mengusap kepalanya yang tertutup hijab“Kamu anak Ummi satu-satunya dan Ummi membesarkan kamu dengan penuh kasih sayang, Ummi enggak terima kamu dihina dan diperlakukan buruk oleh orang lain. Ummi enggak rela, Nak!”
Salma semakin sesenggukan, dia tak bisa menahan rasa sedihnya saat teringat semua yang sudah Ammar lakukan setahun yang lalu.
“Aku minta maaf karena aku sudah membuat Ummi menangis seperti ini.” Ucap Jihan sembari mengusap pipi Salma, dia merasa sedih dan bersalah karena melihat sang ibunda meneteskan air mata.
“Berjanjilah pada Ummi, kamu enggak akan kembali pada Ammar?” Pinta Salma dengan tatapan memohon.
Jihan terdiam, dia dilema dengan hatinya sendiri.
“Jihan?”
Dengan berat hati Jihan pun mengangguk dan menuruti permintaan wanita yang paling dia sayangi itu.
Arif melangkah masuk dengan perlahan dan mendekati anak serta istrinya itu. “Ummi, Jihan, bisa kita bicara?”
“Kalau Abi ingin meminta Ummi merestui Jihan dan Ammar untuk rujuk, Ummi enggak mau! Ummi tetap enggak izin! Ummi masih sakit hati, Abi!” Bantah Salma.
“Istighfar, Ummi! Jangan seperti ini! Abi juga kecewa dengan perbuatan Nak Ammar, dan Abi enggak bermaksud untuk memaksa kalian berdua menerima permintaannya. Abi hanya ingin sebagai sesama muslim, kita harus saling memaafkan, jangan menyimpan amarah dan dendam! Itu saja!” Arif berusaha menasihati sang istri.
Salma tak membalas perkataan suaminya itu, dia hanya bergeming dengan air mata berderai. Begitu pun dengan Jihan, dia tak berani membantah kedua orang tuanya tersebut.
“Semua keputusan ada di tangan Jihan, sebagai orang tua kita hanya perlu memberi nasihat dan dukungan. Biarkan dia mengambil keputusan yang sesuai dengan keinginan hatinya.” Lanjut Arif, dia ingin Jihan mengambil keputusan berdasarkan kata hati sang putri.
“Abi, tapi sebagai orang tua kita juga berhak merestui atau enggak keputusan dan keinginan anak kita. Ummi enggak mau menyesal lagi, Ummi ingin Jihan hidup bahagia.” Salma beranjak dan keluar dari kamar.
__ADS_1
Arif mengembuskan napas melihat sikap Salma, dia mengerti jika istrinya itu kecewa dan sakit hati pada Ammar, tapi dia juga tak ingin sang istri berlarut-larut menyimpan perasaan sakit itu hingga akhirnya menimbulkan penyakit hati. Sebagai seorang ayah, dia juga ingin putrinya tersebut bahagia tapi dia tak ingin egois.
“Abi.” Ucap Jihan dengan air mata berlinang.
Arif menatap putri semata wayangnya itu dengan sedih lalu mengusap kepalanya. “Kamu masih ingat pesan Abi waktu itu, kan?”
Jihan mengangguk.
“Mintalah petunjuk dari Allah agar kamu bisa mengambil keputusan yang tepat.”
“Iya, Abi.”
☘️☘️☘️
Radit tengah duduk melamun di teras rumah sang Bunda, dia masih memikirkan kejadian tadi. Sungguh dia masih tak menyangka jika Ammar adalah mantan suami Jihan. Dan entah mengapa rasa cemburu mendadak hadir menyelubungi hatinya, dia merasa takut jika tiba-tiba Jihan berubah pikiran dan membatalkan khitbahnya.
“Loh, sudah pulang ternyata? Kenapa enggak masuk?” Tiba-tiba suara Yuni mengagetkan Radit.
Tapi seorang Ibu memang tak bisa dibohongi, dia tahu sang putra sedang tidak baik-baik saja.
“Kenapa? Apa ada masalah?” Yuni menatap Radit curiga.
Radit tertunduk sembari menghela napas. “Tadi mantan suami Jihan serta kedua orang tuanya datang ke rumah Pak Arif, dan ternyata mantan suaminya itu anak dari kolega bisnis aku, Bun.”
Yuni terkejut. “Oh iya? Terus mau ngapain mereka datang?”
“Dari yang aku dengar, mantan suaminya ingin rujuk. Dan ternyata perceraian mereka sudah dibatalkan, jadi secara hukum mereka masih terikat pernikahan.” Terang Radit.
“Ya Allah! Jadi bagaimana? Apa Jihan mau rujuk dengan mantan suaminya itu?” Cecar Yuni panik.
Radit menggeleng. “Aku enggak tahu, Bun. Aku memutuskan untuk pulang sebelum mendengar keputusan Jihan, tapi tadi Bu Salma sempat marah-marah, sepertinya beliau menolak permintaan rujuk menantunya itu.”
“Sekarang apa yang harus kita lakukan? Bunda takut Jihan berubah pikiran dan membatalkan rencana pernikahan kalian.” Ujar Yuni cemas.
__ADS_1
“Kita serahkan semuanya kepada Allah, Bun. Semoga apa yang kita takutkan enggak terjadi dan harapan kita bisa terwujud.” Sahut Radit.
“Aamiin ya Allah.”
Sejujurnya Radit galau dan gelisah, namun dia berusaha untuk tenang agar tidak semakin membuat sang ibunda resah.
“Nanti Bunda akan coba bicara dengan Jihan dan kedua orang tuanya.”
“Tapi jangan memaksa, ya, Bun. Aku enggak mau membuat Jihan terpaksa memilih aku karena enggak enak dengan Bunda.” Radit memberi peringatan pada ibunya tersebut.
Yuni mengangguk. “Iya, Bunda cuma mau memastikan keputusan Jihan saja.”
Radit pun bergeming, hatinya benar-benar gelisah memikirkan Jihan. Dia takut wanita itu berubah pikiran dan memilih untuk rujuk dengan sang mantan suami, sehingga akhirnya dia patah hati lagi. Tapi dia tak ingin berprasangka buruk, dia berharap kali ini takdir memihak padanya.
“Jadi kamu jam berapa kembali ke Jakarta?” Tanya Yuni.
Radit tersentak dan sontak memandang sang ibunda. “Sepertinya aku akan tunda kepulangan ku sampai semuanya jelas, Bun.”
“Memangnya enggak apa-apa kamu meninggalkan kantor terlalu lama? Siapa yang akan memantau di sana?”
“Aku bisa minta tolong wakilku untuk memantau perusahaan selama aku enggak ada.” Jawab Radit.
“Ya sudah, terserah kamu saja.”
☘️☘️☘️
BESTie, aku membaca komentar dan sepertinya ada beberapa pembaca yang belum memahami alur cerita ini.
Untuk yang belum paham, aku sarankan baca pelan-pelan aja agar bisa mencerna maksud dari setiap kejadian dan sikap tokoh-tokohnya. Insha Allah ada pelajaran yang bisa kita ambil.🙏🏼
Tapi jika kamu merasa tidak suka, silakan tinggalkan novel ini, tanpa berkomentar buruk.🙏🏼☺️
Semoga yang sudah paham masih setia menunggu kelanjutannya.🥰
__ADS_1