
Arif tengah berkumpul bersama beberapa orang sanak saudaranya setelah memakamkan jenazah almarhumah Ratih, Aisyah mendekati sang Kakak dan memberikan sepucuk surat.
“Apa ini, Syah?” Tanya Arif bingung.
“Itu surat yang ditulis Emak seminggu yang lalu, Mas. Emak berpesan agar aku memberikannya ke Mas Arif jika terjadi sesuatu kepada Emak, sepertinya Emak sudah punya firasat akan pergi.” Jawab Aisyah sedih.
Arif pun membaca surat itu dengan saksama. Jihan, Salma dan semua orang penasaran dengan isi surat tersebut.
“Apa isinya, Rif?” Celetuk seorang lelaki tua yang merupakan saudara tertua Ratih.
Arif mengembuskan napas. “Emak ingin aku yang meneruskan warung buburnya, Pakde.”
“Oh, bagus itu! Sayang kalau warungnya enggak dibuka lagi, soalnya laris.” Balas lelaki tua tadi.
“Tapi masalahnya aku tinggal di Jakarta, Pakde. Aku dan anakku juga harus bekerja.” Arif memandang Jihan.
“Lah, kamu tinggal berhenti kerja saja. Kalau si Jihan kan ada suaminya.”
“Eh, baru sadar ini. Suaminya Jihan mana? Kok enggak kelihatan?” Cecar salah seorang wanita paruh baya.
Salma, Aisyah dan Arif sontak menatap Jihan. Sedangkan Jihan sendiri hanya bisa menelan ludah dengan gugup.
“Suaminya Jihan pasti sibuk, namanya juga orang kaya, pasti kerjanya banyak. Ya kan, Jihan?” Sela seorang wanita seusia Aisyah.
Jihan hanya tersenyum tanpa membalas ucapan wanita itu.
Wanita paruh baya tadi kembali mengoceh dengan nyinyir. “Tapi ini kan ada kemalangan. Memangnya lebih penting kerja dari pada keluarga?”
“Sudah-sudah! Kenapa jadi bahas Jihan, sih?” Aisyah menengahi. “Sekarang lagi menunggu keputusan Mas Arif. Mas mau kan memenuhi wasiat Emak?”
Arif kembali mengembuskan napas, sembari melipat surat di tangannya. “Entah lah, Mas masih bingung.”
“Mas, meskipun selama ini aku yang membantu Emak, tapi warung dan rumah ini haknya Mas sebagai anak laki-laki satu-satunya.”
Ujar Aisyah.
Arif termangu mendengar ucapan sang adik lalu beralih menatap Salma dan meminta pendapat dari istrinya itu. “Menurut Ummi bagaimana?”
__ADS_1
“Ummi ikut Abi saja. Apa pun yang Abi putuskan, Insya Allah yang terbaik.” Jawab Salma sembari menggenggam tangan Arif.
Dan kini Arif mengalihkan pandangannya ke Jihan yang duduk di samping Salma. “Kalau menurut kamu bagaimana, Nak?”
“Aku juga terserah Abi saja.”
“Kalau begitu Abi akan Shalat istikharah dulu, memohon petunjuk dari Allah.”
“Jihan! Jadi pergi enggak?” Tiba-tiba suara Asep mengagetkan semua orang, lelaki jangkung itu berteriak dari luar rumah.
“Astagfirullah, Asep! Kayak di hutan saja teriak-teriak!” Sungut lelaki tua tadi.
Asep meringis. “Biar kedengaran, Eyang.”
“Sebentar, Sep.” Sahut Jihan.
“Mau ke mana, Nak?” Tanya Salma pada Jihan.
“Aku mau ke toko servis handphone, Ummi. Tadi sudah janji sama Asep.”
“Oh, ya sudah, hati-hati di jalan.”
“Wa’ alaikumsalam.” Balas semua orang.
☘️☘️☘️
Di ruang ICU rumah sakit Kasih Ibu, Yusuf mulai menggerakkan jari-jari tangannya, matanya pun mengerjap lalu terbuka perlahan. Begitu melihat Yusuf telah sadar, Anita dan Ammar yang berada di balik kaca pembatas sontak berlari masuk. Ammar juga segera menekan tombol yang terhubung ke ruangan dokter.
“Papa sudah sadar?” Anita senang minta ampun.
Tapi rupanya Yusuf masih menyimpan kemarahan kepada Ammar, dia perlahan-lahan mengangkat tangan kanannya dan menunjuk Ammar dengan mata melotot.
“Per-gi da-ri si-ni!” Ucap Yusuf dengan suara terbata-bata.
“Papa tenang dulu, Papa masih sakit.” Anita berusaha menenangkan sang suami.
Sementara Ammar hanya terpaku menatap Yusuf dan tak berkeinginan untuk melawan sang papa.
__ADS_1
“Per-gi!!” Ulang Yusuf.
“Mar, sebaiknya kamu keluar dulu.” Pinta Anita.
Ammar mengangguk kemudian berlalu pergi, berpapasan dengan dokter Ali dan seorang perawat yang buru-buru masuk ke dalam kamar Yusuf setelah mendapat pemberitahuan tadi.
“Maaf, biar saya periksa dulu kondisi Pak Yusuf.” Ali segera mengecek keadaan Yusuf dengan stetoskop.
Di luar ruangan ICU, Ammar duduk di kursi tunggu sambil tertunduk dan meremas kuat rambutnya. Pikiran dan suasana hatinya benar-benar kacau. Rasa marah, kecewa dan sakit masih terus menggelayutinya. Dia tak bisa berpikir jernih sama sekali, rasanya saat ini dia ingin sekali melampiaskannya dengan minum alkohol sampai mabuk, agar sejenak saja bisa melupakan semuanya.
Ponsel di saku Ammar berdering dan dia mengabaikannya, namun di dering ke lima, Ammar pun merogoh sakunya demi mengeluarkan benda pipih yang terus berbunyi dan bergetar itu. Tapi saat dia melihat nama Miranda, Ammar segera menolak panggilan itu kemudian mematikan ponselnya.
Ammar kembali tertunduk dan kini menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan.
“Kenapa ini harus terjadi? Tadinya aku mulai percaya pada apa yang dikatakan Pak Radit tentangmu, aku mulai merasa nyaman dan senang di dekatmu. Tapi apa yang kau lakukan? Kau membuat aku kecewa dan merasa jijik padamu.” Gumam Ammar pelan.
“Ammar.”
Ammar yang kaget sontak menengadah saat mendengar namanya dipanggil. “Mama? Bagaimana kondisi Papa, Ma?”
“Alhamdulillah, Papa sudah melewati masa kritisnya.” Sahut Anita.
“Syukurlah.” Ammar merasa lega.
“Mar, sepertinya Papa masih marah sama kamu. Sebaiknya sekarang kamu pulang saja, biar Mama yang jaga Papa.”
“Tapi, Ma ....”
“Mama mohon, Nak. Ini demi kebaikan kita semua, terutama Papa. Kamu juga butuh istirahat, Mama enggak ingin kamu juga sakit.”
Ammar menghela napas berat. “Baiklah, Ma. Kalau begitu aku pulang dulu.”
“Iya, hati-hati, ya.” Balas Anita.
Ammar mengangguk lalu melangkah meninggalkan Anita dengan berat hati, sejujurnya dia masih ingin menemani kedua orang tuanya itu. Tapi untuk saat ini, menghindari sang papa adalah cara terbaik.
Anita hanya memandangi kepergian Ammar dengan berlinang air mata. “Ya Allah, aku enggak tahu rencana apa yang sedang Engkau persiapkan untuk putraku. Aku hanya berharap masalah ini cepat selesai dan dia bisa menemukan kebahagiaannya. Aku pasrah pada kehendak-Mu, ya, Allah.”
__ADS_1
Sebagai seorang Ibu, hatinya sakit melihat sang buah hati terpuruk dan bersedih seperti ini. Namun sebagai seorang manusia, dia harus tabah dan ikhlas karena Tuhan sedang memainkan skenario-Nya. Tak ada yang bisa dia lakukan selain berdoa dan memohon kebaikan untuk darah dagingnya itu.
☘️☘️☘️