Air Mata Istri Sholehah

Air Mata Istri Sholehah
Episode 76.


__ADS_3

Sejak pertemuannya dengan Ammar seminggu yang lalu, Jihan jadi sering memikirkan mantan suaminya itu. Sekarang Ammar tampak berbeda dengan Ammar yang dulu, dia terlihat lebih tenang dan dewasa dari sebelumnya.


Dan yang membuat Jihan bingung, sejak kapan Ammar menjadi santri? Bahkan Jihan baru tahu jika pemuda itu bisa membaca Al Qur'an dengan begitu bagus.


“Ummi perhatikan dari tadi kamu melamun terus, lagi mikirin apa?” Tegur Salma yang sejak tadi mengawasi putrinya itu.


Jihan tersentak dan mendadak salah tingkah. “Enggak mikirin apa-apa, Ummi.”


“Kamu memikirkan Ammar?” Tebak Salma.


Jihan termangu dengan tegang, dia tak ingin sang Ummi mengetahui apa yang ada dipikirannya.


“Nak.” Salma menyentuh pundak Jihan.


“I-iya, Ummi. Aku hanya ....”


“Ummi! Tolong ke sini sebentar!” Teriak Arif dari dalam kamar sebelum Jihan selesai bicara.


“Iya, sebentar, Abi!” Balas Salma, lalu menepuk pelan paha Jihan. “Sebentar, ya!”


Salma beranjak dan bergegas menemui suaminya itu.


Jihan mengembuskan napas lega, dia pun segera bangkit masuk ke dalam kamarnya sebelum sang ummi kembali bertanya macam-macam. Dia tak ingin Salma tahu jika dirinya memikirkan Ammar, sebab takut ummi nya itu menjadi marah.


☘️☘️☘️


Keesokan paginya, setelah membereskan rumah, Jihan buru-buru pergi ke warung untuk membantu kedua orang tuanya seperti biasa. Dia ke warung dengan berjalan kaki, karena jaraknya tidak terlalu jauh.


Namun saat di jalan Jihan berpapasan dengan sebuah mobil yang tak asing baginya, mobil itu berhenti tepat di samping Jihan lalu seorang pria berwajah Arab membuka kaca jendelanya.


“Assalamualaikum, Jihan!”


“Wa’alaikumsalam, Mas Radit.” Balas Jihan.


“Mau ke mana?” Tanya Radit.


“Mau ke warung, Mas.” Jawab Jihan. “Mas Radit baru datang?”

__ADS_1


“Iya, Bunda kemarin telepon minta saya datang, katanya ada hal penting yang mau dibicarakan. Paling juga dia rindu.” Ujar Radit lalu tertawa.


Jihan pun ikut tertawa mendengar ucapan duda ganteng itu.


“Ya sudah kalau begitu saya permisi dulu, takut Ummi dan Abi nungguin.” Pungkas Jihan.


“Mau saya antar?”


Jihan menggeleng. “Enggak usah, Mas. Saya jalan kaki saja.”


“Baiklah, kamu hati-hati, ya!”


Jihan mengangguk dan tersenyum. “Assalamualaikum.”


“Wa’alaikumsalam.” Balas Radit.


Jihan melanjutkan langkahnya meninggalkan mobil Radit, duda tampan itu hanya meliriknya dari balik kaca spion.


Sesuai janjinya waktu itu, Radit tetap menjaga silaturahmi kepada Jihan dan kedua orang tua wanita itu, serta berusaha bersikap biasa saja layaknya teman meskipun masih ada perasaan cinta yang bersemayam di hatinya. Tapi dia percaya, lambat laun rasa itu akan hilang seiring berjalannya waktu.


“Assalamualaikum, Bunda!” Sapa Radit begitu turun dari mobil.


Yuni yang sedang duduk di teras membalas salam putranya itu. “Wa’alaikumsalam. Eh, sudah sampai rupanya.”


Radit berjalan mendekati Yuni lalu menyalami serta mencium punggung tangan sang bunda.


“Memangnya apa yang ingin Bunda bicarakan sampai menyuruhku buru-buru pulang begini?”


“Mari masuk dulu! Kita bicara di dalam.” Yuni menarik lengan Radit dan mengajak sang putra duduk.


Radit hanya pasrah mengikuti kemauan wanita yang paling dia sayang itu.


“Jadi begini, kemarin Bude kamu yang di Kediri cerita, katanya ada seorang anak kyai pemilik pesantren yang mau dia jodohkan dengan kamu. Anaknya cantik dan baik, sholeha lagi.” Terang Yuni antusias.


“Bun, aku enggak mau dijodoh-jodohkan! Biar aku cari sendiri saja.”


“Mau sampai kapan nunggu kamu cari sendiri? Sedangkan kamu selalu sibuk dengan pekerjaan. Jangan-jangan sampai bunda meninggal, kami belum juga menikah.” Sungut Yuni kesal.

__ADS_1


“Bun, kenapa bicaranya begitu?”


“Habis Bunda kesal! Kamu selalu saja abai masalah jodoh!”


“Jodoh itu sudah Allah atur, Bun. Dia akan datang tepat pada waktunya dan dengan cara yang Allah ridhoi. Kita tinggal menunggu saja.”


“Iya, memang jodoh sudah Allah atur, tapi sebagai manusia kan kita juga harus punya keinginan dan usaha, Nak. Atau kalau tidak kamu khitbah saja Jihan lagi, Bunda dengar-dengar dia sudah resmi bercerai.”


Radit hanya tersenyum menanggapi ucapan Yuni, dia tahu sebenarnya sang ibunda masih berharap Jihan menjadi pendamping hidupnya. Walaupun Yuni menjodohkannya pada wanita lain, tapi ujung-ujungnya pasti nyuruh sang buah hati kembali melamar Jihan lagi. Namun Radit tak pernah menanggapinya dengan serius. Sejujurnya Radit sendiri bingung mengapa Jihan tidak kembali pada Ammar dan tetap melanjutkan perceraian mereka? Dia penasaran, namun merasa tak ada pantas dan tak berhak untuk bertanya.


“Nak, kamu mau, kan?” Yuni memastikan. “Kita cuma bersilaturahmi dan kenalan saja, kok. Kalau kamu merasa enggak cocok, kamu boleh menolaknya.”


“Boleh enggak kalau aku jawab enggak mau?” Radit balik bertanya.


Wajah Yuni sontak masam. “Ya sudahlah kalau kamu enggak mau!”


Melihat Yuni merajuk dengan wajah masam, Radit pun terkekeh lalu memeluk tubuh sang ibunda dengan penuh kasih sayang.


“Iya, deh, iya. Aku mau.”


Yuni langsung sumringah dengan mata berbinar. “Benar kamu mau?”


Radit mengangguk.


“Baiklah, nanti sore kita berangkat ke Kediri!” Pinta Yuni bersemangat.


“Iya, Bunda sayang.” Sahut Radit.


“Sekarang kamu istirahat, Bunda mau menelepon Bude kamu dulu.” Yuni beranjak pergi dengan girang.


Radit mengembuskan napas, dia sudah bertekad akan membuka hati untuk wanita lain dan mencoba menerima cinta yang baru, sebab dia sadar bahwa dia tak bisa mengubah apa yang telah terjadi, jadi dia tak mau membuang waktu untuk terus mengharapkan yang tidak pasti.


Mungkin hari kemarin ada kelabu, hari ini pun masih mendung memayungi. Akan tetapi Radit tahu, hidup tidak hanya bicara kemarin dan hari ini saja. Namun masih ada hari besok yang harus dia sambut.


Terlebih dia tak ingin mengecewakan Yuni dan membuat ibundanya itu bersedih lagi, dia ingin melihat sang bunda bahagia di hari-hari tuanya.


☘️☘️☘️

__ADS_1


__ADS_2