Aku Belum Mati, Suamiku

Aku Belum Mati, Suamiku
Melaporkan Kecurangan


__ADS_3

David kemudian mengambil ponselnya.


[Halo Vallen.]


[Halo ada apa Kak? Tidak usah banyak basa-basi aku sedang banyak pasien.]


[Anak buah Leo sudah menemukan bayi itu, sekarang mereka sedang membawa bayi itu ke rumah Leo tapi tolong ini cukup menjadi rahasia kita berdua saja. Bahkan setelah Amanda sadar, kau tolong jaga rahasia ini setidaknya sampai dia melakukan operasi pencangkokan jantung.]


[Syukurlah jika bayi itu sudah ditemukan, kau tenang saja aku akan menjaga rahasia ini.]


[Bagus, terimakasih banyak Vallen.]


[Apa kau sadar dengan kata-katamu, Kak.]


[Kata-kata apa?]


[Mengucapkan terimakasih padaku, sepertinya terakhir kau mengatakan kata-kata itu sudah belasan tahun yang lalu.]


[Lalu aku harus mengatakan apa? Jika kau berani meledekku aku akan membatalkan kesepakatan kita.]


[JANGAAAANNNN!!! AKU TIDAK MAU GAGAL NIKAH KARENAMUUU KAKKKKKK!!!]


🥀🥀🥀🥀🥀


❣️ Keesokan harinya ❣️


Abimana tampak begitu tergesa-gesa masuk ke sebuah rumah sakit sambil membawa seorang bayi perempuan di tangannya.


"Sharen sayang, kau akan bertemu dengan kakek dan nenekmu, setelah ini kau akan mendapatkan pengakuan jika kau adalah putriku dan Amanda. Semua kekayaan yang dimiliki oleh Amanda akan menjadi milikmu Nak. Hahahaha."


Beberapa saat kemudian, dia pun sampai di sebuah kamar perawatan yang ada di rumah sakit tersebut.


CEKLEK


Saat Abimana membuka pintu perawatan itu, tampak Vera menyambut kedatangannya dengan raut wajah yang begitu bahagia.


"Abi, akhirnya kau datang juga Nak."


"Iya ma."


"Jadi ini cucu mama?" tanya Vera kemudian berjalan ke arah Abimana.


"Iya ma."


"Bayi ini kenapa bukan seperti bayi yang baru lahir, Abi? Dia sepertinya sudah besar."


"Oh itu karena Amanda rutin meminum obat-obatan ma, jadi memiliki sedikit efek pada bayi ini."


"Oh pantas saja. Lalu kau beri nama siapa dia, Abi?"


"Sharen ma, namanya Sharen." jawab Abimana sambil tersenyum.


'Fiuh untungnya mama percaya padaku, dia memang cucu mama tapi dia bukan darah daging Amanda karena dia adalah putriku dengan Ghea. Hahahaha.' gumam Abimana sambil menatap Vera yang kini menimang Sharen dengan penuh kasih sayang.


"Lalu bagaimana keadaan Amanda?"

__ADS_1


"Dia belum sadarkan diri ma."


"Jadi dia benar-benar mengalami koma?"


"Iya ma."


"Astaga, malang sekali nasibmu Nak." kata Vera dengan raut wajah sendu, air mata pun kini menetes membasahi wajahnya.


"Maafkan mama Amanda, mama sungguh menyesal telah meninggalkanmu sendirian di rumah. Mama tidak tahu jika kau mengalami serangan jantung mendadak hingga kau mengalami semua ini."


"Sudahlah ma, Abi yakin Amanda pasti akan segera sembuh. Abi akan memberikan pengobatan terbaik untuk Amanda."


"Iya Abi."


"Biar Abi saja yang merawat Amanda, mama cukup memikirkan keadaan papa saja."


Vera pun mengangguk sambil menatap Raka yang sedang tidur di atas ranjangnya.


"Bagaimana sebenarnya keadaan papa ma?"


"Belum membaik. Abi sebenarnya ada sesuatu yang ingin mama tanyakan padamu. Mengenai rumor yang beredar, apakah benar kau pernah memakai uang perusahaan untuk kepentingan pribadimu?"


"Itu semua berita bohong ma. Abi tidak pernah berbuat seperti itu."


"Kau jujur saja pada mama, Abi. Tahukan kamu, Papa sakit karena memikirkan dirimu. Tekanan darahnya begitu tinggi hingga menyebabkan pembuluh darahnya pecah dan gangguang pada ginjalnya, ini semua karena papa memikirkanmu, Abi."


"Bukankah papa memang sudah lama mengidap penyakit darah tinggi? Ini semua bisa saja terjadi karena faktor usia ma."


"Tapi kondisi papa sebelumnya tidak separah ini."


Vera pun mengangguk. Tiba-tiba Sharen pun menangis.


"Apa kau membawakan susu untuknya, Abi? Sepertinya dia lapar."


"Iya ma." jawab Abimana kemudian mengambil satu botol susu di dalam tas bayi yang telah dipersiapkan Ghea.


Mendengar tangis bayi, Raka pun terbangun. Melihat suaminya yang terbangun, Vera pun tersenyum. Dia kemudian mendekatkan Sharen pada Raka.


"Papa lihat ini, ini cucu kita. Anak Amanda dan Abimana, namanya Sharen."


Raka pun tersenyum melihat bayi mungil itu. "Akhirnya sebelum aku bisa melihat cucuku sebelum aku menghembuskan nafas terakhirku."


"Papa, jangan mengatakan seperti itu."


"Tapi inilah kenyataannya ma. Kondisi papa sudah sangat memburuk, rasanya papa sudah tidak bisa bertahan lagi."


"Papa, tolong jangan berkata seperti itu lagi. Mama yakin papa pasti bisa segera sembuh."


Raka lalu menghembuskan nafas panjangnya, di saat itulah ponselnya berbunyi. Dia kemudian mengambil ponsel itu, senyum pun tersungging di bibirnya saat melihat sebuah nama di ponselnya.


[Halo Yanuar.]


[Halo Tuan Raka, maaf sudah menggangu anda. Sebenarnya ada sesuatu hal penting yang ingin saya bicarakan.]


[Mengenai masalah itu?] kata Raka sambil melirik Abimana.

__ADS_1


[Iya Tuan Raka.]


[Baik Yanuar, lebih baik kau datang ke rumah sakit sekarang juga.]


[Iya Tuan Raka.]


Raka pun menatap Abimana sambil tersenyum sinis.


"Kenapa kau terlihat gugup saat Yanuar menelponku, Abimana?"


"Tidak apa-apa, aku hanya khawatir penyakit papa akan semakin bertambah parah jika masih memaksakan diri untuk terus bekerja."


"Papa tidak sedang bekerja Abimana, papa hanya ingin menyelesaikan urusan penting sebelum papa meninggalkan dunia ini."


"Papa bukankah mama sudah bilang jika papa tidak boleh berkata seperti itu!"


Mendengar perkataan Vera, Raka pun tersenyum sambil menatap Abimana yang kini terlihat begitu gugup.


"Abi, sebaiknya kau pulang saja. Putrimu baru saja lahir, tidak baik berada di luar rumah terlalu lama."


"Tapi Abi juga ingin bertemu dengan Pak Yanuar."


"Bertemu dengan Pak Yanuar? Apa urusanmu? Apakah kau juga memiliki urusan penting sama seperti diriku?"


"Oh tidak."


"Jika tidak, lebih baik kau pulang saja sekarang."


"Abi, benar apa yang dikatakan papa. Tidak baik membawa Sharen terlalu lama di luar, kondisinya masih lemah dan rawan terkena penyakit. Lebih baik kau pulang saja."


'Bren*sek!' umpat Abimana di dalam hati.


"Baik, aku dan Sharen akan pulang sekarang."


"Mama juga sebaiknya pulang, tolong ambilkan beberapa keperluan pribadi papa yang papa butuhkan. Sebentar lagi Yanuar datang, dia akan kuminta menemaniku sampai mama datang lagi."


"Iya pa, mama pulang sekarang bersama Abi tapi hanya untuk mengambilkan keperluan papa saja, nanti mama langsung kembali lagi ke rumah sakit."


"Iya ma."


"Ayo Abi kita pulang sekarang."


Abimana kemudian mengangguk, dia lalu meninggalkan ruangan tersebut bersama dengan Vera. Saat mereka melewati lorong rumah sakit tiba-tiba langkah mereka terhenti saat melihat Yanuar.


"Selamat sore Pak Yanuar."


"Selamat sore Nyonya Vera, Tuan Abimana."


"Silahkan, suami saya sudah menunggu kedatangan anda."


"Iya Nyonya. Saya ke kamar Tuan Raka sekarang."


"Iya Pak Yanuar." jawab Vera.


Yanuar pun menatap Abimana dengan tatapan sinis.

__ADS_1


'BREN*SEK!! PASTI YANUAR AKAN MELAPORKAN KECURANGAN YANG TELAH KUPERBUAT!! Aku harus bagaimana? Apakah aku juga harus menghabisi papa?' gumam Abimana dalam hati.


__ADS_2