
"Ayo kita turun Ghea," ucap Abimana setelah selesai memarkirkan mobilnya.
"Iya," jawab Ghea, mereka kemudian berjalan masuk ke dalam kantor dengan langkah dan pandangan penuh jumawa sambil melihat ke sekeliling area kantor, apalagi saat ini beberapa karyawan kantor tampak memperhatikan mereka.
"Kau lihat itu kan Ghea, semua mata tertuju pada kita, beberapa bulan terakhir ini, aku sudah bagaikan tidak ada harga dirinya di mata mereka, dan mulai hari ini semuanya pasti akan berubah, mereka akan melihat siapa Abimana yang sesungguhnya. Hahahaha."
"Iya Abi, setelah acara serah terima jabatan berlangsung tunjukkan taringmu pada mereka, terutama pada yang sudah menghinamu, terutama Firman dan Rayhan," jawab Ghea sambil tersenyum kecut.
"Iya itu pasti, kau tenang saja setelah hari ini, semua kejadian buruk yang telah terjadi pasti berakhir, kita bisa bersenang-senang sepuasnya seperti biasanya, Ghea."
"Iya, sekarang cepat kita masuk ke dalam aula, sepertinya sudah banyak orang di dalam aula tersebut yang sedang menunggu kita."
"Iya Ghea." Mereka lalu berjalan masuk ke dalam aula, lalu berjalan ke arah bagian depan tempat para petinggi perusahaan tersebut hadir. Abimana lalu tersenyum pada jajaran petinggi perusahaan kemudian duduk di bangku paling depan diantara mereka. Namun kemudian matanya tertuju pada tiga buah kursi yang ada ada di dekat mimbar yang ada di aula tersebut.
"Tiga buah kursi? Itu untuk siapa?" gerutu Abimana sambil mengerutkan keningnya.
"Ah mungkin itu untuk pengacara bodoh itu, lalu untuk Firman, dan juga Yanuar." kata Abimana lagi sambil tersenyum kecut. Salah seorang perwakilan direksi pun mulai berjalan ke mimbar dan memulai kata sambutan.
Sementara Rayhan, kini pun tampak selesai memarkirkan mobilnya di dalam basemen.
"Kau siap, sayang?"
"Emh, Ray. Aku sebenarnya sedikit gugup."
"Kenapa kau harus gugup, ada aku disini, aku akan ada di sampingmu," ucap Rayhan sambil menggenggam tangan Amanda.
"Sekarang tarik nafas dalam-dalam, lalu hembuskan."
"Iya," jawab Amanda kemudian mengambil nafasnya dalam-dalam lalu menghembuskannya.
"Bagaimana sudah jauh lebih baik kan?"
"Ya."
__ADS_1
"Lalu sekarang peluk aku."
"Rayhan, ini bukan saatnya untuk bermesraan."
"Amanda, aku tidak mengajakmu bermesraan, apa kau tahu, salah satu manfaat berpelukan adalah untuk merilekskan pikiran dan akan memberi efek menenangkan bagi tubuh."
"Benarkah?"
"Ya, sekarang peluk aku."
"Baiklah," jawab Amanda sambil tersenyum lalu memeluk Rayhan disertai tawa.
"Bagaimana, jauh lebih baik kan?"
"Ya,"
"Kalau begitu kita turun sekarang, Firman sudah menunggu kita di depan pintu masuk."
Amanda pun mengangguk, mereka lalu keluar dari mobil dan berjalan mendekat pada Firman yang sudah menunggunya.
"Bagaimana keadaannya Firman?"
"Semua sudah kupersiapkan, Rayhan. Kau tenang saja, aku juga sudah menyewa beberapa orang bodyguard yang juga akan mengawasi jalannya acara, dan sebagai antisipasi jika Abimana melarikan diri," kata Firman sambil terkekeh.
"Bagus, ayo kita masuk sekarang."
"Iya, bagaimana Amanda? Kau sudah siap kan?"
"Iya Firman," jawab Amanda sambil menganggukkan kepalanya. Mereka lalu berjalan ke arah aula dimana akan diadakan serah terima jabatan berlangsung.
"Silahkan masuk, Nyonya Amanda," kata dua orang security yang menjaga pintu tersebut. Amanda pun menganggukkan kepalanya, lalu masuk ke dalam ruangan tersebut.
Amanda kemudian berjalan memasuki aula dengan langkah tegas dengan tatapan mata yang begitu tajam melihat ke arah depan, apalagi saat ini semua orang yang ada di ruangan tersebut pun memandangnya dengan tatapan penuh tanda tanya. Bisik-bisik pun kian bergemuruh di setiap sudut ruangan, tak terkecuali Abimana yang kini mulai terlihat panik.
__ADS_1
"Ghe.. Gheeea, siapa wanita itu? Kenapa dia sangat mirip dengan Amanda? Gheee...Ghea, apa itu Amanda? Ba.. Bagaimana mungkin? Bukankah Amanda sudah mati, bagaimanapun dia bisa hidup lagi, Ghea? Ti... Tidak mungkin, tidak mungkin. Le.. Lelucon apalagi ini yang sedang dimainkan?" kata Abimana saat melihat Amanda berjalan dengan didampingi oleh Rayhan di sebelah kanannya, serta Firman di sebelah kirinya.
"Entahlah, aku pun tidak tahu."
"Gheee...Ghea, aku yakin pengacara bodoh itu pasti telah mempermainkan kita! Bre*gsek! Kenapa aku bisa dipermainkan oleh pengacara itu! Jadi selama ini Amanda belum meninggal dan disembunyikan oleh pengacara sialan itu! Rayhan benar-benar kurang ajar! BRENGSEK KAU RAYHAN!" ucap Abimana dengan nafas yang tak beraturan menahan perasaan yang begitu berkecamuk di dalam dadanya.
'Bagaimana mungkin? Bagaimana mungkin Amanda masih hidup? Lalu kenapa dia tampak begitu cantik? Kau sangat cantik, Amanda. Jadi selama ini aku dipermainkan oleh Rayhan? Bre*gsek!' gumam Abimana sambil menghembuskan nafasnya mencoba menenangkan dirinya, kini jantungnya berdegup kian kencang, tubuhnya pun terasa begitu menegang, keringat dingin pun mulai keluar dari tubuhnya, kepalanya kini pun terasa begitu berat, apalagi saat ini Amanda sudah ada di dekatnya sedang memberi penghormatan pada para petinggi perusahaan. Abimana pun berdiri, Amanda lalu semakin mendekat padanya.
"A...A... Amanda," ucap Abimana dengan bibir bergetar, Amanda pun kini berdiri di hadapan Abimana sambil tersenyum kecut.
"Bagaimana kabarmu, Abimana? Kau lihat sendiri kan? Aku belum mati, suamiku," ucap Amanda sambil tersenyum kecut.
"Ups maaf, aku belum mati, mantan suamiku," ucap Amanda kemudian berjalan menjauhi Abimana lalu duduk di salah satu dari tiga kursi yang telah disediakan di dekat mimbar.
Amanda lalu melirik pada Abimana yang masih menatapnya disertai tatapan begitu cemas, wajahnya saat ini pun terlihat begitu pucat. Seorang moderator acara lalu berdiri di atas mimbar kemudian memperkenalkan Amanda sebagai CEO baru di perusahaan tersebut.
"Mari kita sambut CEO baru di perusahaan kita, Nyonya Amanda Mahendrata!" teriak moderator tersebut. Amanda lalu naik ke atas mimbar, disertai tepuk tangan yang begitu bergemuruh.
"Ghe..Gheeea, bagaimana ini?"
"Aku juga tidak tahu, Abi. Apa ini artinya kita akan hidup miskin dan masuk ke dalam penjara?"
"Tentu tidak Ghea, aku akan membuat kesepakatan dengan Amanda dan membujuknya agar dia tidak memenjarakanku," gerutu Abimana.
"Kau harus melakukan itu Abi, kau harus bisa membujuk Amanda, jika tidak aku akan meninggalkanmu sekarang juga."
"Tentu saja, Ghea, tentu saja aku akan membujuknya, tapi tolong jangan tinggalkan aku di saat seperti ini. Aku tidak mau menghadapi keadaan seperti ini sendirian, mereka benar-benar telah mempermainkan aku, Ghea. Mereka telah mempermainkanku!" kata Abimana lalu memandang Amanda disertai perasaan yang begitu tak menentu.
Ghea kemudian melihat sekeliling ruangan. 'Ini benar-benar memalukan, hari yang kupikir akan menjadi hari bersejarah sepanjang hidupku ternyata adalah hari penuh bencana, bahkan aku tidak tahu apa yang akan terjadi setelah ini.' gumam Ghea sambil melirik Abimana yang kini terlihat begitu ketakutan. Perlahan, Ghea pun bangkit dari tempat duduknya, lalu keluar dari ruangann tersebut. Dada Abimana kini terasa begitu sesak, apalagi saat ini Amanda tengah memberikan sambutannya disertai riuh dari para karyawan kantor, dia kemudian melirik pada Ghea, namun Ghea kini sudah tidak ada di sampingnya.
'Brengsek! Jadi wanita sialan itu kini sudah benar-benar meninggalkan kau!' umpat Abimana di dalam hati sambil menahan perasaan yang semakin tak menentu, apalagi jantungnya kini pun berdegup semakin kencang hingga membuat tubuhnya bergetar dan kepalanya terasa begitu sakit, lehernya pun menegang dan matanya terasa begitu berkunang-kunang. Abimana pun tak sanggup lagi menahan perasaan yang semakin berkecamuk yang begitu mempengaruhi kondisi tubuhnya, hingga akhirnya tubuhnya pun ambruk.
NOTE:
__ADS_1
Maaf kalau ceritanya tidak sesuai ekspektasi kalian, kalau ga suka SKIP aja, kalau suka wajib tinggalin jejak. Love you dear ❤️🥰😘