Aku Belum Mati, Suamiku

Aku Belum Mati, Suamiku
Siapa Yang Bodoh?


__ADS_3

BYURRRR


Abimana pun terlihat sedikit terkejut ketika tiba-tiba wajahnya basah tersiram air, perlahan dia pun membuka matanya sambil mengerutkan keningnya, setelah matanya terbuka sempurna, dia pun melihat sekelilingnya disertai raut wajah kebingungan.


"Aku dimana?" ucap Abimana sambil melihat ke sekelilingnya, dia kemudian menyadari wajah dan kemejanya yang sudah basah tersiram air.


"Heiiii siapa yang sudah berani menyiramku!" teriak Abimana sambil mengusap wajahnya, kemudian dia pun bangun dari tidurnya. Namun saat dia duduk, betapa terkejutnya dia jika saat ini telah dikerumuni beberapa orang yang sedang menatap tajam ke arahnya, tampak Amanda berdiri di dekatnya, di samping Amanda ada Rayhan dan Firman yang duduk di sofa yang ada si depannya. Lalu Ghea juga duduk di dekatnya, namun tubuhnya terikat oleh sebuah tali dan di sampingnya ada dua orang bertubuh besar yang menjaganya.


'Jadi Ghea tertangkap oleh para bodyguard itu saat melarikan diri? Heh, dasar wanita bodoh, dia pikir dia bisa kabur dengan begitu mudah?' gumam Abimana sambil melirik Ghea dengan tersenyum kecut. Ghea pun hanya bisa menatap Abimana dengan tatapan cemas. Tiba-tiba lamunannya buyar saat mendengar sebuah suara yang ada di sampingnya.


"Aku yang sudah menyirammu karena kau sudah tidur terlalu lama, sedangkan kita perlu bicara. Jadi sekarang kau sudah bangun kan Abimana?"


"Berani sekali kau berkata seperti itu padaku!"


"Tentu saja berani, memangnya kau pikir siapa dirimu? Aku bahkan tidak habis pikir kenapa kau bisa tiba-tiba tidur di sebuah acara seperti itu, apa tidurmu kurang nyenyak semalam? Hahahaha."


Mendengar perkataan Rayhan, semua orang di ruangan itu pun tertawa.


"BREN*SEK KAU RAYHAN! JAGA KATA-KATAMU!!"


"Kau yang harus menjaga kata-katamu karena mulai saat ini kau bukanlah siapa-siapa lagi di sini!"


Mendengar perkataan Rayhan, emosi pun kian tersulut di dada Abimana, dia kemudian memalingkan wajahnya pada Amanda yang kini menatapnya dengan tatapan sinis.


"Amanda, tolong aku Amanda, tolong kau kendalikan perilaku pengacaramu itu, Amanda. Bagaimanapun juga aku masih suamimu, sebagai istri yang baik kau harus menuruti kata-kata suamimu, Amanda."

__ADS_1


"Mengikuti kata-katamu? Yang benar saja, Abimana! Memangnya kau pikir siapa aku ini!"


"Amanda, apa kau lupa jika kau masih istriku, tolong maafkan aku Amanda, maaf jika aku menyakitimu, aku khilaf Amanda, bukankah kau tahu jika sejak dulu aku begitu mencintaimu. Kita bahkan sudah memiliki seorang putri buah cinta kita berdua, Amanda. Apa kau sudah lupa pada putri kita Sharen? Sharen masih membutuhkan kasih sayang dari kita berdua, Amanda."


"Jangan pernah mengatakan jika Sharen adalah putriku, karena dia bukanlah putriku tapi dia adalah anak hasil hubunganmu dengan wanita ja*ang itu kan? Aku melahirkan seorang bayi laki-laki, Abimana! Bukan bayi perempuan! JADI SEKALI LAGI JANGAN PERNAH BILANG JIKA SHAREN ADALAH PUTRIKU!"


"Tidak Amanda itu tidak benar, Sharen adalah putrimu, putri kita berdua."


"Apa perlu aku memintamu untuk melakukan tes DNA pada Sharen! Kau takut kan jika aku meminta tes DNA! JADI MULAI SEKARANG JANGAN PERNAH SEBUT LAGI SHAREN SEBAGAI PUTRIKU!"


"Maafkan aku Amanda, aku khilaf," ucap Abimana


"Mudah sekali kau mengatakan seperti itu, Abimana. Kau dengan sengaja ingin membunuhku, kau juga berzina di sampingku dengan wanita jal*ng itu saat aku masih di rumah sakit, lalu kau juga membuang putraku, itu benar-benar tidak bisa dimaafkan, Abimana!"


"Ti.. Tidak Amanda, aku tidak pernah melakukan semua itu. Aku tidak pernah mencoba untuk membunuhmu, lalu aku menikahi Ghea saat kau kupikir kau sudah mati, sebenarnya mengenai kejadian malam itu aku hanya ingin membawamu pulang ke rumah karena aku begitu merindukanmu, tapi secara tidak sengaja kecelakaan itu terjadi, Amanda."


Amanda kemudian meludah pada wajah Abimana. "AMANDA! BERANI SEKALI KAU BERBUAT SEPERTI ITU PADAKU! BAGAIMANAPUN JUGA KAU MASIH ISTRIKU!!"


"ISTRIMU, KATAMU! LIHAT INI!" Bentak Amanda sambil melempar sebuah amplop berwarna cokelat pada wajah Abimana. Abimana kemudian membuka amplop cokelat tersebut.


"Baca baik-baik, Abimana!"


"Baa.. Bagaimana mungkin, bagaimana bisa aku tidak tahu semua ini, bagaimana bisa kau menceraikanku tanpa persetujuan dariku, Amanda?"


"Aku tidak memerlukan persetujuan darimu, Abimana. Aku berhak menentukan jalan hidupku sendiri, lagipula apa pantas aku mempertahankan suami yang selalu berusaha membunuhku dengan membayar seorang dokter spesialis jantung untuk memberikan obat pelemah jantung padaku? Tidak hanya itu, dia bahkan juga membayar seorang dokter spesialis kandungan untuk menutupi kejahatannya dengan dokter spesialis jantung itu, dan yang lebih tidak bisa kumaafkan adalah saat kau berusaha membuang putraku di dalam hutan kemudian mencoba membunuhku dengan membakarku di dalam mobilmu itu! DASAR LAKI-LAKI BREN*SEK KAU ABIMANA!!"

__ADS_1


"Amanda, aku tidak pernah melakukan itu. Pasti pengacara itu yang sudah menceritakan hal yang tidak-tidak padamu kan? Sungguh Amanda, saat itu aku sedang mencari pertolongan untuk membantumu keluar dari mobil itu, karena tubuhmu terjepit dasboard mobil, Amanda!"


PLAKKKK


"SEKALI LAGI KAU MENYANGKAL KEJAHATANMU MAKA KAU AKAN KUBUNUH DISINI SEKARANG JUGA!"


"Tenangkan dirimu, Amanda."


"Bagaimana aku bisa tenang Rayhan, aku melihat dengan mata kepalaku sendiri jika dia yang mengangkat tubuhku dari ranjang rumah sakit lalu membawaku ke mobilnya yang sudah ditabrakkan pada sebatang pohon, lalu aku juga bisa mendengar dengan jelas ketika anak buahnya mengatakan jika sudah menyetting mobil tersebut agar mengalami konsleting dengan menaruh kabel yang mengelupas di atas mesin, aku mendengar sendiri, Rayhan. Tapi laki-laki bajingan itu masih juga menyangkal semua kejahatannya!"


"Tenang Amanda, tenang. Kendalikan emosimu!" kata Rayhan sambil mendekap tubuh Amanda.


"Rayhan kau berani sekali memeluk Amanda, apa karena dia begitu cantik dan tunduk padamu, maka kau bisa berbuat semaumu! Jaga sikapmu Rayhan!"


"Kau yang harus menjaga sikapmu dan kata-katamu karena Amanda adalah istriku!"


"A.. Apa istrimu? Itu tidak mungkin, itu tidak mungkin."


"Memang itulah kenyataannya, Tuan Abimana. Anda bisa lihat sendiri foto-foto pernikahan mereka di ponsel saya," kata Firman sambil memperlihatkan foto pernikahan Amanda dan Rayhan. Melihat foto pernikahan itu, perasaan Abimana pun kian begitu campur aduk, rasa marah, kecewa, sekaligus malu begitu berkecamuk di dalam hatinya.


'Bre*gsek! Mereka benar-benar telah mempermainkan aku! Aku benar-benar dibuat begitu bodoh di hadapan mereka!' gumam Abimana.


Melihat Abimana yang terlihat begitu bingung Rayhan kemudian tersenyum kecut. "Bagaimana Abimana, apa sekarang kau masih berani menyebutkan dengan sebutan pengacara bodoh? Sekarang kutanyakan padamu, siapa yang bodoh sebenarnya? Diriku, atau dirimu?"


NOTE:

__ADS_1


Wajib tinggalin jejak biar othor semangat update ya, komen yang rame, love you dear 🥰😘❤️


__ADS_2