Aku Belum Mati, Suamiku

Aku Belum Mati, Suamiku
Cinta


__ADS_3

"Kenapa? Kenapa kau tidak rela kehilangan diriku? Bukankah kau baru mengenalku? Keluargaku saja ingin aku mati. Inara tolong jangan pernah lakukan itu, biarkan aku menjalani hukuman yang sudah divoniskan untukku. "


"Aku memang baru saja mengenalmu tapi kau sangat berarti bagi diriku, bahkan bisa dibilang kau adalah segalanya bagi diriku saat ini."


"Kau jangan bercanda, Inara."


"Aku tidak bercanda, Abimana. Meskipun kau tidak bisa bebas tapi setidaknya kita bisa menjalani kehidupan bersama, itu sudah membuatku bahagia."


"Apa maksudmu, Inara? Aku benar-benar tidak mengerti apa yang kau katakan."


"Renungkan saja sendiri, Abimana. Aku sedang tidak ingin membahas semua itu karena yang terpenting bagiku sekarang adalah kemauan dari dirimu, kemauan untuk mengajukan peninjauan kembali."


"Sampai kapanpun aku tidak mau melakukan itu, Inara," ucap Abimana. Dia lalu mulai beranjak dari tempat duduknya. Namun saat Abimana akan melangkahkan kakinya, tiba-tiba Inara memegang lengannya.


"Maafkan aku sudah lancang memegang tanganmu. Tapi tolong lihat aku sekali saja, apakah kau tidak sadar akan semua perhatian yang kulakukan padamu berbeda dengan yang kulakukan pada narapidana yang lain."

__ADS_1


Abimana menatap Inara yang kini mulai meneteskan air matanya. Dia kemudian mendekat lagi pada Inara dan duduk di hadapannya.


"Kenapa kau menangis? Kenapa kau menangis karena diriku? Aku bukanlah siapa-siapa bagimu, kenapa kau sampai harus seperti ini, Inara? Aku tidak layak untuk dikasihani olehmu."


"Abimana, ini bukanlah sebuah rasa kasihan. Apa kau tidak menyadari semua sikapku yang kutunjukkan padamu? Apa kau tidak pernah memahami semua perhatianku padamu?"


"Memangnya kenapa? Kau memang begitu baik padaku, kau teman yang sangat baik, Inara."


"Bukan itu, Abimana! Apakah kau tidak merasa aku telah memberikan semua perhatian yang lebih padamu? Itu karena aku mencintaimu, Abimana! Dengarkan aku, aku mencintaimu dan aku tidak ingin kau mendapat hukuman mati karena aku masih ingin bersamamu! Meskipun kau tetap akan menjalani hukumanmu dalam waktu yang sangat lama atau bahkan seumur hidupmu itu sudah cukup bagiku, yang terpenting aku masih bisa bersamamu."


"Tolong jangan menjadi orang yang bodoh, Inara. Apa kau tidak bisa berfikir jernih hingga jatuh cinta pada manusia sepertiku? Lihatlah kau cantik dan pintar, kau bisa mendapatkan laki-laki yang jauh lebih baik dariku! Laki-laki yang memiliki masa depan yang cerah dan bisa membahagiakan dirimu, Inara!"


"Tidak mungkin Inara, aku sudah mendapatkan vonis hukuman mati, kita tidak mungkin bisa hidup bersama."


"Bukankah sudah kukatakan padamu, meskipun kau menghabiskan seluruh sisa umurmu di dalam penjara ini aku tetap akan menemanimu, aku tetap ingin bersama denganmu Abimana, kita masih bisa hidup berdampingan meskipun tidak hidup bersama."

__ADS_1


"Jangan bodoh Inara! Kau masih memiliki masa depan yang cerah! Jangan sia-siakan hidupmu untuk laki-laki seperti diriku! Lebih baik kau melupakanku dan belajarlah menjalani hidup ini tanpa diriku!"


"Jadi kau menolak cintaku?"


Abimana pun terdiam. "Bukannya aku menolakmu, Inara. Tidak mungkin ada laki-laki yang bisa menolak wanita yang cantik dan baik seperti dirimu tapi aku tidaklah pantas bagimu, hidup ini hanyalah sekali, dan kau tidak boleh menghabiskan sisa hidupmu untuk laki-laki seperti diriku, kau berhak mendapatkan laki-laki yang jauh lebih baik dibandingkan dengan diriku!"


"Kenapa kau begitu kejam padaku Abimana? Kau bahkan tidak pernah memberiku kesempatan."


"Inara mengertilah, aku mengatakan semua ini untuk kebaikanmu. Aku tidak ingin hidupmu sia-sia karena jatuh cinta padaku, penantian itu bukan hal yang mudah Inara."


"Semuanya akan mudah jika kita lalui bersama. Tolong Abimana, tolong sekali saja. Ijinkan aku untuk melakukan semua ini, lagipula jika kita mengajukan peninjauan kembali itu tidak berarti hukumanmu akan lebih ringan, bisa saja kau tetap mendapatkan vonis mati ataupun jika hukumanmu mendapatkan keringanan kau tetap akan dihukum seumur hidup."


"Justru itu yang kutakutkan, jika aku mendapatkan hukuman seumur hidup apakah kau tetap akan menungguku?"


Inara pun terdiam. "Lebih baik aku mendapatkan hukuman mati tapi aku tidak membebanimu dengan rasa cintamu itu. Aku tidak mau kau menghabiskan sisa hidupmu untuk menemaniku menjalani hidup ini, Inara."

__ADS_1


Inara kemudian menatap Abimana. "Katakan kau tidak mencintaiku."


"Apa maksudmu Inara?"


__ADS_2