
Abimana yang kini berdiri tak jauh dari kamar perawatan Amanda tampak begitu gusar.
"Apa yang dibicarakan oleh Amanda dan pengacara sialan itu? Apakah yang sebenarnya telah terjadi? Apakah Amanda sudah tahu semua yang kulakukan padanya? Ini benar-benar sangat berbahaya, rencanaku bisa gagal jika pengacara sialan itu mengatakan yang sebenarnya pada Amanda. Oh tidak, aku harus melakukan sesuatu, ini tidak bisa dibiarkan, sekali saja aku lengah, maka hancurlah diriku!"
Abimana lalu memijit keningnya sambil menutup matanya.
"Ya, aku harus segera bertindak, saat ini adalah kesempatan terbaik untuk menghabisi Amanda, jika dia sudah tahu yang sebenarnya, dia bisa saja menceraikanku saat ini juga, sebelum dia melakukan itu dan pengacara sialan itu sudah bertindak lebih jauh aku harus menghabisi Amanda terlebih dulu! Aku harus melakukannya sekarang juga!"
Abimana lalu mengambil ponselnya lalu menelepon seseorang.
🏡🏡🏡🏡🏡
"Hai apa kabarmu Amanda?" tanya Rayhan dengan sedikit canggung.
Amanda pun tersenyum.
"Baik."
"Sebaiknya kau istirahat saja, aku akan menunggumu di sini seperti biasa."
"Seperti biasa?" tanya Amanda.
"Ya, setiap hari aku selalu menunggumu bangun disini."
"Jadi setiap hari kau yang selalu menungguku? Bukan Mas Abi?"
"Ya, bukankah memang itu tugasku? Lagipula apa kau percaya jika Abimana yang menjagamu disini?"
Amanda kemudian tersenyum.
"Kau sudah tahu bagaimana sikap Abimana padamu kan?"
Amanda kemudian mengangguk.
"Darimana kau tahu semua itu?"
"Kak David yang menceritakannya."
"Kak David?"
"Oh ya maksudku Dokter David."
"Sepertinya kau sudah akrab dengan mereka, dengan Dokter David dan Dokter Vallen?"
__ADS_1
"Kami sudah saling mengenal dalam waktu yang cukup lama, mungkin sudah belasan tahun."
"Oh, ini rasanya seperti kebetulan. Kau ditunjuk menjadi pengacaraku, lalu kedua dokter yang menanganiku adalah teman-temanmu."
"Bagaimana jika ini adalah sebuah takdir?"
"Takdir?"
"Oh ya, lupakan saja. Amanda, ini ada titipan dari Kak David, hari ini istrinya sedang melahirkan jadi dia tidak bisa ke sini lagi lalu menitipkan ini padaku." kata Rayhan sambil memberikan sebuah ponsel pada Amanda.
"Ini ponselmu, saat kau koma Kak David sengaja menyimpannya."
"Terimakasih banyak, aku benar-benar berhutang budi pada kalian semua."
"Iya putri tidurku."
"Putri tidur?" tanya Amanda sambil mengerutkan keningnya.
"Oh maafkan aku, aku hanya salah bicara." kata Rayhan dengan begitu gugup.
"Amanda, aku sudah berbicara dengan Dokter David mengenai operasi cangkok jantung yang akan kau jalani, kita harus melakukan operasi itu secepatnya, jika kondisinya memungkinkan, minggu depan kau bisa melakukan operasi cangkok jantung itu."
"Tapi bagaimana dengan Abimana? Aku tidak ingin dia tahu."
"Kau tenang saja, saat kau menjalani operasi aku akan berbicara pada suami Dokter Vallen agar Abimana ditugaskan keluar kota."
"Oh ya, suami Dokter Vallen adalah salah satu manager di perusahaanmu, dia adalah orang kepercayaan almarhum Om Raka yang memegang kendali perusahaan saat kau mengalami koma, dia diberi kepercayaan penuh untuk mengambil kebijakan perusahaan tanpa campur tangan dari Abimana. Almarhum Om Raka yang mengatur semua itu saat kau sedang mengalami koma agar Abimana tidak bisa mengambil alih perusahaanmu."
"Astaga papa, papa baik sekali padaku. Aku sungguh berhutang budi pada kalian semua, terutama almarhum papa yang sudah menjagaku melalui tangan-tangan kalian."
"Sudahlah Amanda, sebaiknya tidak usah kau pikirkan. Yang terpenting untuk saat ini adalah kesembuhanmu, kau harus bisa sembuh Amanda, aku akan selalu ada di sampingmu dan menbantumu menjadi wanita yang kuat. Kau pasti bisa memimpin perusahaanmu, Amanda."
"Iya Rayhan terimakasih banyak."
"Tapi..."
"Tapi apa Amanda?"
"Ada sesuatu yang masih mengganjal di hatiku."
"Apa?"
"Bagaimana dengan putraku? Apakah kau tahu tentang putraku? Mama dan Mas Abi mengatakan jika aku memiliki seorang putri, sedangkan Dokter Vallen mengatakan jika aku melahirkan seorang bayi laki-laki. Lalu dimana putraku sebenarnya Rayhan?"
__ADS_1
Rayhan kemudian tersenyum.
"Katakan yang sebenarnya dimana putraku Rayhan?"
"Amanda, sebenarnya aku tidak boleh mengatakan hal ini terlebih dulu. Dokter David khawatir kondisimu semakin memburuk jika kau memikirkan putramu tapi sepertinya kau sudah tahu tentang keadaan yang sebenarnya."
"Ya, katakan dimana putraku Rayhan. Apakah dia masih hidup? Atau sudah mati?" tanya Amanda disertai air mata yang menetes. Rayhan pun merasa begitu sedih saat melihat Amanda yang kini terisak.
"Amanda, putramu baik-baik saja. Dia ada di tempat yang aman, tapi untuk sementara sebaiknya kau tidak menemuinya terlebih dulu. Saat itu Abimana membuang putramu ke hutan tapi teman-teman Dokter David berhasil menyelamatkannya, dan kami menyembunyikannya untuk sementara waktu sampai situasinya benar-benar aman. Bukankah kau tahu bagaimana sifat Abimana? Akan sangat berbahaya jika dia tahu putramu masih hidup karena dia bisa saja berbuat nekad."
'Abimana memang benar-benar BRENG*EK! BAJI*GAN!' gumam Amanda.
"Syukurlah jika dia masih hidup dan berada di tempat yang aman, aku benar-benar berhutang budi pada kalian semua. Aku bahkan tidak tahu bagaimana cara membalasnya."
"Sudahlah Amanda, bukankah tadi sudah kukatakan jika yang terpenting saat ini adalah kesembuhanmu, setelah kau sembuh kau bisa berbuat semaumu. Apa kau mengerti?"
"Ya." jawab Amanda sambil menganggukkan kepalanya.
Tiba-tiba ponsel Rayhan pun berbunyi.
[Halo.]
[Halo Mas.]
[Ya, ada apa Inara?]
[Mas perutku sakit.]
[Apa perutmu sakit?]
[Iya mas, tadi aku sempat terpleset lalu setelah itu tiba-tiba perutku sakit.]
[Astaga Inara!!! Ini sangat berbahaya. Kau tunggu sebentar, aku akan pulang sekarang juga!]
[Iya Mas.]
"Amanda maaf sepertinya aku harus pergi sekarang kau tidak apa-apa kan jika kutinggal sekarang? Istriku tiba-tiba sakit."
"Oh tidak apa-apa, istrimu lebih membutuhkanmu."
"Terimakasih banyak Amanda, hubungi aku jika kau membutuhkan sesuatu, atau jika Abimana berbuat macam-macam padamu."
"Iya Rayhan, kau tenang saja. Aku bisa menjaga diriku."
__ADS_1
Rayhan lalu keluar dari kamar perawatan Amanda dengan begitu tergesa-gesa. Sementara di ujung telepon, Inara menutup teleponnya sambil terkekeh.
"Mas, tidak akan kubiarkan kau menunggu klienmu itu sepanjang hari. Lagipula untuk apa kau menunggu wanita koma yang tidak ada gunanya itu." kata Inara sambil tersenyum sinis