
Inara kemudian mengejar Rayhan.
"Mas tolong tunggu, aku ingin bicara sebentar denganmu."
"Ada apa lagi, Inara. Apa semuanya belum jelas?"
"Siapa wanita itu mas? Apakah dia Vallen."
"Inara, kenapa jika aku berbicara tentang perasaan hanya ada Vallen di otakmu! Aku bukan laki-laki bodoh yang tidak punya harga diri mencintai wanita yang sudah bersuami."
"Tapi bukankah kau sangat mencintainya, Mas?"
"Dengarkan aku Inara, Vallen hanyalah masa laluku dan saat ini aku memang sudah mencintai wanita lain tapi itu bukan Vallen."
"Siapa dia mas?"
"Bukan urusanmu karena kita sudah tidak memiliki urusan apapun."
"Jadi wanita itu mulai datang ke hidupmu saat kita mulai berpisah?"
"Ya."
"Setelah Vallen, kenapa bukan aku? Kenapa kau melewatiku begitu saja? Kenapa harus wanita itu?"
"Kau yang sudah membuatku seperti ini, kau terlalu egois, Inara! Yang ada di pikiranmu hanyalah cara untuk memenuhi egomu saja, jika saja kau mau membuang egomu dan sedikit memahamiku mungkin hatiku akan luluh padamu, saat pertama kali pindah ke London aku sebenarnya ingin memulai kehidupan baru denganmu, hanya kau wanita dalam hidupku tapi ternyata kau memang tidak pernah bisa berubah. Kau selalu saja hidup dengan semua keegoisanmu itu."
"Mas, beri aku kesempatan sekali lagi, aku akan benar-benar berubah."
"Sudah terlambat. Inara dengarkan aku, belajarlah untuk lebih ikhlas menjalani kehidupan, terkadang hidup memang tidak selalu seperti yang kau inginkan, dan kau harus memahami itu, suatu saat pasti kau akan bertemu dengan laki-laki yang menjadi jodohmu. Percuma memaksakan keadaan karena kita tidak pernah berjodoh. Aku pergi dulu," kata Rayhan lalu berjalan ke arah mobilnya meninggalkan Inara yang masih termenung sambil menangisi kepergiannya.
"Tidak pernah berjodoh?" ucap Inara sambil menjatuhkan tubuhnya ke atas lantai.
🍒🍒🍒
CEKLEK
Rayhan membuka pintu apartemen dan melihat Vallen yang sedang menonton televisi bersama dengan Firman.
"Kau sudah pulang, Ray?"
"Iya Firman."
"Apa itu yang kau bawa?" tanya Vallen saat melihat dia buah amplop cokelat di tangan Rayhan.
"Surat cerai kami berdua."
"Kami berdua?"
"Oh ya, maksudku surat cerai milikku dan milik Amanda."
"Jadi kau sudah bercerai dengan Inara?"
"Iya Firman, kami sudah berpisah. Aku tidak bisa melanjutkan hubungan ini dengannya, sejak awal hubungan kami memang terlalu dipaksakan."
"Kenapa kalian tidak menikah saja? Bukankah jika kalian menikah kau akan semakin mudah melindungi Amanda?"
"Vallen!!" gerutu Firman.
"Bukankah benar yang kukatakan? Tentu akan semakin mudah bagi Rayhan untuk melindungi Amanda jika mereka menikah."
"Kami perlu menata hati kami masing-masing, Vallen. Lalu dimana Amanda?"
__ADS_1
"Oh, dia sepertinya kelelahan. Jadi dia tidur di atas sofa."
"Apa? Kalian membiarkan Amanda tidur di atas sofa?" kata Rayhan dengan sedikit panik, dia pun bergegas menuju ke sofa dan melihat Amanda yang sedang tidur dengan begitu lelap.
'Kau kelelahan, putri tidurku?' gumam Rayhan sambil menatap Amanda.
"Kenapa kau senyum-senyum seperti itu, Rayhan! Kau juga terlihat begitu mencemaskan Amanda, jangan bilang kau tidak memiliki perasaan apapun padanya. Lebih baik kau ungkapkan saja perasaanmu padanya, Ray. Sebelum banyak laki-laki yang semakin tertarik pada kecantikan Amanda karena mulai besok aku akan mengubah penampilan Amanda. Kami besok akan pergi ke salon dan berbelanja pakaian untuk Amanda, aku yakin saat besok dia pulang, kau pasti akan semakin jatuh cinta padanya," kata Vallen sambil terkekeh.
"Vallen, jangan meledek Rayhan terus menerus, lihat dia semakin salah tingkah,"
"Hahahaha iya sayang, biarkan saja. Firman, lebih baik kita pulang saja, aku tidak mau mengganggu kalian."
"Kalian tidak menggangu kami."
"Tidak usah munafik, kau pasti sudah sangat ingin menciumnya kan," kata Vallen sambil terkekeh.
"Vallen!"
"Hahahaha, maaf. Ayo kita pergi Firman."
"Kami pulang dulu, Ray."
"Iya, terimakasih banyak," jawab Rayhan, dia kemudian mulai mendekat pada Amanda.
'Oh Rayhan sudah pulang,' gumam Amanda dalam hati saat melihat Rayhan yang sedang berjalan mendekat ke arahnya.
'Lebih baik aku pura-pura tidur saja,' gumam Amanda lagi sambil tetap memejamkan matanya.
Kini Rayhan yang sudah duduk di sisi sofa tempat Amanda tidur tampak memperhatikan Amanda sambil tersenyum.
"Apa kau kelelahan putri tidurku?"
'Apa? Dia menyebutku putri tidur?' gumam Amanda.
'Astaga, apakah dia akan menciumku? Apa aku tidak salah dengar jika dia tadi berkata jika dia merindukan aku?' gumam Amanda sambil menelan ludahnya dengan kasar.
CUP
'Oh tidak, dia benar-benar menciumku,' gumam Amanda saat merasakan sebuah kecupan lembut di keningnya.
"Aku sudah menciummu, sekarang bangunlah putri tidurku."
'Astaga, jadi Rayhan benar-benar memanggilku dengan sebutan putri tidur? Oh iya baiklah, karena dia sudah menciumku lebih baik aku bangun saja, mungkin biasanya aku terbangun saat dia sudah menciumku. Ya, aku harus membuka mataku sekarang,' gumam Amanda. Dia pun perlahan membuka matanya.
Melihat Amanda yang bangun dari tidurnya, Rayhan pun tersenyum. "Kau sudah bangun, Amanda?"
"Ya, apa kau sangat kelelahan sampai kau harus tidur di atas sofa?"
"Mungkin."
"Mungkin?"
"Ya, aku lelah menunggumu sampai aku ketiduran di atas sofa." gerutu Amanda.
"Lelah menungguku?"
"Ya, menunggumu sangat melelahkan Ray, sampai hatiku juga ikut lelah."
"Hatimu lelah? Lelah kenapa Amanda?"
"Ah sudahlah," gerutu Amanda.
__ADS_1
"Maafkan aku, aku hanya mengambil ini untuk kita berdua," jawab Rayhan sambil memperlihatkan dua buah amplop berwarna cokelat.
"Apa itu?"
"Surat cerai," jawab Rayhan sambil meringis.
"Surat cerai milik siapa? Kenapa ada dua?"
"Tentu saja milik kita berdua. Sekarang kau resmi bercerai dengan Abimana, lalu aku juga sudah resmi bercerai dengan Inara, sebenarnya surat ceraimu terlebih dulu keluar satu bulan yang lalu tapi karena ada kesalahan nama lalu aku membenarkan kesalahan tersebut, jadi surat cerai kita keluar bersama."
"Benarkah?"
"Ya."
"Jadi aku sebenarnya sudah resmi bercerai satu bulan yang lalu?"
"Ya, tapi aku baru memberitahukanmu sekarang agar konsentrasimu tidak terpecah."
"Aaaaaaaaaa, terimakasih banyak Rayhan, terimakasih banyak," teriak Amanda hingga tanpa disadari dia memeluk Rayhan.
"Terimakasih banyak," teriak Amanda lagi dalam pelukan Rayhan. Rayhan pun tersenyum, lalu balas memeluk Amanda.
"Sekarang statusku sudah bukan lagi istri dari Abimana kan?"
"Ya."
"Begitu pula dirimu?"
"Ya, aku juga sudah bukan lagi suami dari Inara."
"Lalu?"
"Lalu apa, Amanda?"
Amanda kemudian melepaskan pelukannya dari Rayhan.
"Lalu jika kita sudah sama-sama tidak memiliki pasangan, kita harus bagaimana?"
"Kita harus hidup bahagia karena kita bisa lepas dari mereka," jawab Rayhan sambil tersenyum yang membuat Amanda semakin kesal.
"Sudahlah, aku mau ke kamar saja."
"Kau mau tidur lagi?"
"Mungkin."
"Jadi kau akan meninggalkanku sendirian disini? Apa kau tidak mau merayakan hari kebebasan kita?"
"Aku sedang lelah Ray, bukankah sudah kukatakan jika menunggumu itu melelahkan."
"Baik jika itu maumu, kau tidur saja," jawab Rayhan sambil tersenyum.
'Benar-benar tidak peka!' gumam Amanda sambil bangun dari atas sofa, namun saat akan berjalan tiba-tiba Rayhan menarik tangannya yang membuat tubuh Amanda terhempas ke dalam pelukan Rayhan.
"Kau kini sudah bukan menjadi istri Abimana kan?"
"Ya,"
"Jadi, tolong pastikan hatimu untukku."
NOTE:
__ADS_1
Wajib tinggalkan jejak, komen yang rame ya. Love you dear 😘🥰❤️