
Amanda pun kian mendekat pada Ghea.
"Jadi kau mau membuat kesepakatan denganku?"
"Tentu saja asalkan itu menguntungkan bagiku," jawab Ghea sambil tersenyum.
"Kau tidak menanyakan bagaimana keadaan Abimana?"
"Apa untungnya bagiku? Dia sama sekali sudah tidak ada hubungannya denganku."
"Tapi dia masih suamimu?"
"Akan segera kuceraikan jika aku sudah keluar dari sini."
'Dasar wanita biadab,' gumam Amanda sambil menatap Ghea yang kini sedang tersenyum.
"Amanda lebih baik kau tidak usah banyak basa-basi, penawaran apa yang kau tawarkan?"
"Kau sebenarnya melakukan semua ini karena tidak ingin dipenjara kan?"
"Ya, tentu saja. Aku tidak ingin masuk penjara dan dihukum seperti Abimana. Dia terlalu bodoh sampai mau masuk ke dalam penjara, aku tidak mau berbuat bodoh seperti dirinya."
"Baik aku tidak akan memenjarakanmu tapi tolong berhentilah berpura-pura di hadapan dokter, tolong katakan pada dokter tentang kondisimu yang sebenarnya, jika kau sudah melakukan semua itu maka aku akan membebaskanmu secepatnya. Apa kau mau?"
"Apa yang akan kudapatkan jika aku mau menuruti kata-katamu?"
"Kebebasan dan uang dalam jumlah yang besar."
"Wow aku suka itu. Baiklah aku mau bekerja sama denganmu, Amanda."
"Baik, apakah kau bisa memulainya besok? Tunjukkan pada dokter jika kau sudah sembuh mulai esok hari sampai dokter mengeluarkan surat jika kau sudah tidak lagi menderita gangguan jiwa. Apa kau mengerti?"
"Ya, aku mengerti. Lalu sebenarnya kenapa kau melakukan semua ini padaku? Apa untungnya kau melakukan semua ini? Kau tidak sedang menjebakku kan?"
"Oh tentu tidak Ghea, aku melakukan semua ini karena aku tidak mau terlalu lama menanggung biaya pengobatanmu selama di rumah sakit ini. Aku tentu tidak mau terus menerus menanggung biaya pengobatanmu, entah sampai kapan. Daripada aku melakukan semua itu, bukankah lebih baik aku membuat kesepakatan denganmu?"
__ADS_1
"Oh iya tentu saja. Kau memang sangat pintar, Amanda. Kau memang harus melakukan semua itu, menanggung biaya pengobatanku di rumah sakit itu sangat merepotkan bukan?"
"Ya, itu sangat merepotkan. Lagipula keberadaanmu tidak terlalu penting dalam hidupku, iya kan?"
"Ya, karena aku tidaklah sejahat Abimana."
"Ya...Emhh Ghea, sekarang aku pulang dulu. Tolong kau lakukan semua kesepakatan kita berdua. Hentikan semua kepura-puraanmu di hadapan dokter agar kau bisa keluar secepatnya dan menikmati kehidupan di dunia luar yang sudah kau rindukan. Apa kau mengerti?"
"Iya aku akan melakukan semua itu, aku juga sudah ingin keluar dari tempat ini dan bersenang-senang seperti biasanya."
"Ya, aku pulang dulu. Selamat malam Ghea."
"Selamat malam Amanda."
Amanda pun mengangguk kemudian keluar dari ruang perawatan Ghea lalu menghampiri Rayhan yang sudah menunggunya di lobi rumah sakit tidak jauh dari ruang perawatan Ghea.
"Bagaimana?" tanya Rayhan saat Amanda sudah berdiri di hadapannya.
"Sesuai dugaan kita."
"Ya, dia hanya berpura-pura gila. Tapi aku sudah membuat kesepakatan dengannya dan dia mau melakukan itu, dia tidak akan berpura-pura lagi sampai dokter mengeluarkan surat jika dia sudah tidak mengalami gangguan kejiwaan agar kita bisa menyertakan bukti itu pada kepolisian saat memenjarakannya."
"Bagus istriku memang sangat pintar."
"Tentu saja, aku tidak akan membiarkan Abimana menanggung semua itu sendirian, Ghea juga harus mendapatkan hukuman atas semua kejahatan yang telah dia lakukan."
"Ya, kau benar. Ayo sekarang kita pulang, besok kita akan pindah ke rumah baru kita."
"Iya Ray, aku juga sudah tidak sabar ingin bertemu dengan Cleo besok. Dia akan menjadi menantu kita kan?" kata Amanda sambil terkekeh.
"Bukankah sudah kubilang jangan memaksakan kehendak pada anak-anak?"
"Baiklah."
🍒🍒🍒
__ADS_1
Abimana perlahan membuka matanya saat tiba-tiba sebuah suara terasa menganggu pendengarannya.
"Kau sudah bangun? Maaf jika aku mengganggumu, sebenarnya aku hanya ingin memberikan ini untukmu," kata sebuah sebuah suara.
Abimana lalu memalingkan wajahnya.
"Kau sudah disini? Bukankah ini masih pagi?"
"Oh ya, tadi aku berangkat bersama papa. Ada apel pagi karena akan ada kunjungan dari beberapa pejabat jadi kami mempersiapkan penyambutannya terlebih dulu."
"Oh. Kenapa banyak sekali makanan? Kau yang membawakan semua itu?"
"Ya, aku yang membawakan semua makanan ini untukmu. Kau sedang sakit, kau harus banyak makan agar bisa secepatnya sembuh."
"Bukankah itu sama saja?"
"Apa maksudmu?"
"Aku sudah tidak memliki tujuan hidup di dunia ini, bahkan waktu kematianku sudah ditentukan. Tidak ada untungnya aku bisa cepat sembuh karena itu semua sama saja bagiku."
"Tolong jangan berkata seperti itu, justru di sisa akhir hidupmu kau harus melakukan sesuatu yang berguna sebagai bekal di akhirat dan sebagai hal terakhir yang bisa membuat orang lain terkesan karenamu. Kau harus bisa berguna bagi orang lain, Abimana. Tunjukkan pada orang yang pernah kau kecewakan jika kau juga bisa berbuat kebaikan di akhir hidupmu. Aku yakin kau pasti bisa melakukan semua itu, Abimana."
"Lalu apa untungnya bagiku? Aku tidak membutuhkan pengakuan dari orang lain jika aku adalah manusia yang baik karena kenyataannya aku adalah seorang pendosa."
"Seorang pendosa juga berhak diberikan kesempatan."
"Kau bisa berkata seperti itu karena kau tidak tahu dosa apa yang pernah kulakukan. Aku sudah membunuh orang tuaku sendiri, sekali lagi dengarkan aku baik-baik, aku sudah membunuh ayah kandungku sendiri hanya untuk memenuhi naf*uku untuk menguasai harta yang bukan sepantaran menjadi milikku. Aku adalah manusia berhati iblis, aku tidak layak hidup di dunia ini, aku tidak berhak mendapatkan pengampunan dari siapapun, sudah selayaknya aku diberi hukuman mati, aku memang pantas mati. Jika aku boleh memilih, aku ingin mati sekarang. Aku ingin bertemu dengan papa dan meminta maaf padanya," kata Abimana sambil terisak dia kemudian menutup wajahnya dengan kedua tangannya.
Inara pun hanya terdiam, hingga beberapa saat sampai tangis Abimana sedikit reda, dia kemudian memegang bahu Abimana.
"Menangislah, menangislah jika itu membuatmu merasa lebih baik, jangan pernah merasa lemah karena tangismu, jika saat ini kau dipenuhi rasa penyesalan itu artinya kau tidak seperti yang kau katakan, kau bukanlah iblis, kau hanya manusia biasa yang penuh dengan kekhilafan karena bujuk rayu syetan akibat na*su di dalam hatimu, kau memang pernah berbuat kesalahan yang begitu besar, dan sekarang saatnya kau memperbaiki dirimu, sebelum ajalmu tiba, kau harus memperbaiki dirimu, Abimana."
"Kenapa kau begitu baik padaku? Kau berbuat seperti ini karena belum tahu siapa diriku yang sebenarnya."
"Aku tahu, aku tahu dirimu tanpa kau jelaskan siapa dirimu padaku, aku bahkan sudah tertarik padamu saat kau menolongku dulu," ucap Inara yang membuat Abimana menatapnya dengan tatapan penuh tanda tanya.
__ADS_1