
"Bagaimana Inara, jus yang kuberikan padamu? Segar kan?"
"Iya Vallen, rasanya enak sekali."
"Kau harus sering datang ke rumahku, akan kubuatkan makanan yang bagus untuk kehamilanmu."
"Oh... Eem... Iya Vallen."
"Inara, bukankah kehamilanmu memasuki trimester ke tiga? Apa kau sudah melakukan USG? Bagaimana hasil USG nya? Apa jenis kelamin bayi kalian?" tanya Vallen sambil mengarahkan pandangan pada Inara dan Rayhan.
Rayhan hanya tersenyum sambil melirik pada Inara. "Kami belum memeriksakan kandungan Inara bersama-sama, Vallen."
"Rayhan!! Kau benar-benar laki-laki yang tidak bertanggungjawab, bisa-bisanya kau mengabaikan istrimu hingga sampai saat ini belum memeriksakan kandungannya."
"Kau selalu berfikiran buruk padaku, Vallen. Aku bukannya tidak mau tapi Inara yang selalu menolak jika kuajak kontrol kehamilan bersama."
"Benarkah?"
Rayhan lalu mengangguk.
"Memangnya kenapa, Inara? Kenapa kau tidak mau melakukan kontrol kandungan bersama dengan suamimu?"
"Ohhh...E.. Itu.."
"Vallen, kau sebaiknya tidak usah banyak bertanya, kita mulai saja makan malamnya sekarang. Mungkin Inara belum siap untuk mengetahui jenis kelamin bayi mereka."
"Oh iya kau benar Firman, hahahaha, maafkan aku, terkadang memang aku terlalu banyak bicara. Sebaiknya kita mulai makan sekarang." kata Vallen sambil tersenyum pada Rayhan dan Inara.
'Kau memang benar-benar bren*sek, Vallen. Meskipun aku tahu kau sudah tidak memiliki perasaan apapun pada Mas Rayhan tapi itu tidak mengurangi rasa benciku padamu! Kau selalu menyebalkan di mataku! Apalagi saat ini kau terlihat memojokkan aku!' gumam Inara sambil menatap Vallen yang sedang disuapi oleh Firman.
"Apakah kalian selalu seperti ini saat makan?" tanya Rayhan saat melihat Firman dan Vallen saat sedang makan malam.
"Hahahaha ya. Kami selalu makan dalam satu piring lalu Firman menyuapkan makanan padaku terlebih dulu."
"Kau selalu saja manja, Vallen."
'Selama tujuh tahun berpacaran, kau bahkan tidak pernah bersikap seperti itu Vallen,' gumam Rayhan dalam hati.
"Kau lebih baik diam saja, Ray. Aku tahu kau pasti tidak pernah menyuapi makan pada istrimu kan? Kau pasti tidak pernah bisa melakukan itu karena tanganmu sangat kaku," kata Vallen sambil terkekeh.
__ADS_1
"Kau benar-benar sembarangan, Vallen. Aku juga pernah menyuapi seorang wanita, bahkan aku menyuapinya belum lama ini," ucap Rayhan yang membuat semua mata tertuju padanya.
'Astaga, aku keceplosan,' gumam Rayhan sambil menelan ludahnya dengan kasar.
"Menyuapi wanita? Siapa yang kau maksud Ray?"
Inara pun kini menatapnya dengan tatapan tajam.
"Oh.. Em.. Itu mama. Maksudku mama, aku menyuapi mama makan saat sedang sakit. Beberapa hari yang lalu mama sakit, jadi aku datang ke rumahnya dan menyuapinya makan,"
'Bukan mama tapi Amanda. Ah kenapa tiba-tiba aku merindukannya,' gumam Rayhan sambil tersenyum kecut.
"Oh, kupikir kau punya wanita simpanan Ray, hahahaha."
"VALLEN!!!" ucap Firman sambil memelototkan matanya.
"Iya, iya maaf."
Rayhan kemudian melihat Inara yang kembali menikmati makan malamnya dengan raut wajah tenang meski terlihat sedikit kesal karena kata-kata Vallen.
'Aku benar-benar menyesal telah memenuhi undangan makan malam mereka, mulut Vallen memang tidak bisa direm. Rasanya ingin kucabik-cabik mulutnya, jika saja bukan dia yang membuat Mas Rayhan kembali padaku, aku sangat malas bersikap baik padanya. Apa maksudnya selalu mempertontonkan sikap manjanya pada suaminya di hadapanku? Apakah dia sedang mengejekku karena Mas Rayhan tidak pernah bersikap seperti itu padaku? Aku harus secepatnya pulang dari sini,' gumam Inara, dia kemudian melanjutkan makan malamnya sambil sesekali melirik pada Vallen yang bersikap sangat manja pada Firman. Inara pun kemudian bergegas menyelesaikan makan malamnya.
"Bagaimana Inara? Kau pasti bergegas menyelesaikan makan malammu karena begitu menikmati makanan yang kumasak."
"Ya, masakanmu sangat enak Vallen."
"Terimakasih banyak, aku tahu itu."
"Kau sudah selesai mas?" tanya Inara pada Rayhan.
"Ya, aku sudah selesai."
'Satu, dua, tiga,' gumam Vallen sambil menatap Inara yang kini mulai mengerutkan keningnya, raut wajahnya pun tampak begitu cemas, kini tangannya mulai memegang kemudian sedikit mere*as perutnya.
'Oh tidak, ada apa ini? Kenapa perutku sakit sekali.' gumam Inara sambil memegang perutnya, keringat dingin pun mulai keluar dari tubuhnya.
"Kau kenapa Inara? Kenapa kau memegang perutmu? Apa sesuatu telah terjadi padamu?"
"Oh tidak apa-apa, Vallen. Aku tidak apa-apa."
__ADS_1
"Benarkah? Tapi kini kau terlihat pucat. Sebaiknya kau istirahat dulu di atas sofa. Rayhan, tolong bantu Inara berjalan ke sofa."
"Iya, ayo Inara. Kita sebaiknya duduk di sofa terlebih dulu."
Mereka kemudian berjalan ke arah sofa, sedangkan Vallen bergegas masuk ke dalam kamarnya.
"Inara, sebaiknya kuperiksa saja perutmu, aku takut sesuatu telah terjadi padamu."
"Oh...O... TIDAK!! Aku baik-baik saja, Vallen. Aku tidak apa-apa, aku tidak mau merepotkanmu."
"Ini tidak merepotkan, Inara. Sebentar saja."
"Inara sebaiknya kau mengikuti kata-kata Vallen, aku tidak mau sesuatu terjadi pada anak kita."
"Iya benar Inara, kalian baru saja makan malam di tempat kami, lalu tiba-tiba kau sakit perut. Kami tidak mau sesuatu terjadi padamu, tentu kami harus bertanggung jawab karena kami lah yang menjamu kalian untuk makan malam disini."
"Tidak mas, tidak Firman, aku tidak apa-apa. Lebih baik kita pulang saja. Aku ingin pulang, mas. Ayo kita pulang sekarang."
"Tapi Inara, lihat keadaanmu. Kau sudah terlihat sangat pucat, kau tidak mungkin bisa pulang ke rumah dengan kondisi seperti ini, lalu kenapa kau terlihat sangat ketakutan? Aku hanya ingin memeriksa kandunganmu?"
"Aku tidak apa-apa Vallen, aku baik-baik saja. Aku hanya ingin secepatnya pulang ke rumah untuk beristirahat. Mas, ayo kita pulang sekarang," kata Inara sambil beranjak dari sofa. Namun saat mencoba berdiri, tubuh Inara pun ambruk.
"Inara, sebaiknya kau istirahat saja dan tidak usah banyak bergerak," ucap Rayhan sambil membantu Inara merebahkan tubuhnya kembali di atas sofa.
'Astaga, aku bahkan tidak sanggup berdiri. Seluruh tubuhku bergetar dan terasa begitu lemas. Lalu perutku, kenapa semakin lama perutku semakin sakit?' gumam Inara sambil meringis.
"Astaga Inara, sebaiknya kau beristirahat saja di sini. Aku harus bertanggung jawab karena kau baru saja makan malam di tempatku, mungkin aku melakukan kesalahan saat memasak makanan tadi hingga membuatmu seperti ini."
"Iya Vallen, cepat tolong Inara, dia sudah terlihat begitu kesakitan," kata Rayhan.
"Iya Rayhan," jawab Vallen sambil mendekat ke arah Inara.
'Oh tidak, aku sebenarnya benar-benar ingin melarikan diri dari sini tapi bagaimana caranya? Jangankan untuk lari, untuk duduk saja aku pun tak sanggup. Apakah ini akhir dari kebohonganku?' gumam Inara sambil menelan ludahnya dengan kasar apalagi saat ini Vallen mulai membuka pakaiannya lalu memegang dan meraba-raba perutnya sambil mengerutkan keningnya dan menatapnya dengan tatapan curiga.
"ASTAGA!! APA INI?? KENAPA TIDAK ADA JANIN DI DALAM PERUTMU INARA!!"
Note:
Jangan lupa tinggalin jejak, like, komen ato vote ya, kalau rame nanti sore aku lanjutin 🥰😘
__ADS_1
makasih yang udah mampir 💜