Aku Belum Mati, Suamiku

Aku Belum Mati, Suamiku
Pembalasanku


__ADS_3

"Rayhan, sepertinya ponselmu berbunyi."


"Biarkan saja."


"Tapi Ray, siapa tahu penting."


"Biarkan saja," ucap Rayhan sambil terus memeluk Amanda.


"Baiklah, kau tenangkan dirimu saja."


Rayhan kemudian mulai melepaskan pelukannya pada Amanda. Dia lalu mengambil ponselnya dan melihat sebuah nama di layar ponselnya.


'Inara,' gumam Rayhan, dia kemudian memblokir kontak Inara dan mematikan ponselnya lalu mengalihkan pandangannya pada Amanda.


"Maafkan aku, maaf jika aku sudah begitu lancang padamu."


"Tidak apa-apa, saat ini kau sedang terpuruk. Aku akan selalu ada untukmu, seperti kau yang selalu setia dan selalu ada untukku."


"Terimakasih."


"Jadi kau sudah bercerai?" Rayhan kemudian mengangguk.


"Kau sedih karena kau bercerai dengan istrimu?"


"Tidak, bahkan aku begitu bahagia bisa lepas darinya."


"Tapi kenapa kau menangis?"


Rayhan kemudian menundukkan kepalanya, segurat kesedihan kembali tergambar jelas di wajahnya.


"Maafkan aku jika membuatmu sedih."


"Tidak apa-apa Amanda, kau tidak pernah membuatku merasa bersedih. Aku hanya sedang meratapi semua kejadian buruk yang telah kulalui."


"Kejadian buruk? Kejadian buruk apa Rayhan? Bukankah hidupmu baik-baik saja?"


"Itu hanya tampak luarnya saja Amanda."


"Apa maksudmu? Apa kau benar-benar sedang merasa terpuruk?"


"Bisa dibilang seperti itu."


"Jika kau mau kau bisa menceritakan semua keluh kesahmu padaku, bukankah tadi aku sudah mengatakan padamu jika aku akan menjadi pendengar yang baik untukmu. Tapi jika kau tidak mau menceritakannya padaku juga tidak apa-apa karena itu adalah hakmu, privasimu."


"Amanda, mungkin kita adalah orang-orang yang kurang beruntung dalam percintaan. Jika suamimu tidak pernah mencintai dirimu, begitupula aku yang tidak pernah bisa mencintai istriku karena sifat egoisnya, dia bahkan berani berbohong padaku, kebohongan yang begitu besar, Amanda."


"Kebohongan yang begitu besar?" tanya Amanda sambil mengerutkan keningnya.


"Ya, selama berbulan-bulan dia membohongiku dengan berpura-pura hamil. Dia mengelabuhiku dengan menggunakan perut palsu."


"Astaga, kenapa itu bisa terjadi? Aku benar-benar tidak habis pikir bagaimana mungkin istrimu melakukan semua itu padamu, tapi aku yakin dia melakukan semua itu pasti karena dia sangat mencintaimu, dia ingin selalu ada di sampingmu, Ray."


"Itu bukan cinta, tapi obsesi, obsesi untuk bisa memiliki."

__ADS_1


"Ya, kau benar. Jadi kau menceraikan istrimu karena hal itu?"


"Ya, sejak awal, pernikahan kami memang penuh dengan kepalsuan."


"Tapi kenapa kau harus bersedih, Rayhan? Sekarang kau sudah bebas dan bisa kembali pada masa lalumu yang pernah kau ceritakan padaku."


Rayhan kemudian tersenyum. "Itu tidak mungkin terjadi, Amanda."


"Memangnya kenapa?"


"Karena dia sudah menjadi milik laki-laki lain, dan dia sangat mencintai laki-laki itu, jauh lebih mencintainya dibandingkan dengan rasa cintanya padaku dulu," ucap Rayhan sambil menghembuskan nafas panjangnya.


Amanda kemudian menggengam tangan Rayhan. "Kita memang memiliki kisah cinta yang hampir sama, Ray. Dan sepertinya kita memang kurang beruntung dalam percintaan," kata Amanda sambil tersenyum. Melihat senyum di bibir Amanda, Rayhan pun ikut tersenyum.


'Putri tidurku, entah kenapa setiap melihat wajahmu hatiku terasa begitu damai," gumam Rayhan sambil menatap senyum yang masih tersungging di bibir Amanda.


"Rayhan, bolehkah aku minta tolong padamu?"


"Ya, katakan saja."


"Tolong urus perceraianku dengan Abimana, jadi saat aku kembali, kami sudah tidak memiliki hubungan apapun. Kau bisa melakukan itu kan? Kau bisa mengurus perceraianku secara verstek kan?"


"Ya, tentu saja. Aku sudah mengajukan proses perceraian kalian perceraian kalian sebelum kau memintanya padaku, karena akan sangat berbahaya bagimu jika kau masih menjadi istri dari Abimana."


"Terimakasih banyak. Sekarang bolehkah aku meminta bantuanmu lagi?


"Ya, tentu saja. Katakan saja apa yang kau minta."


"Ya, memangnya kenapa?"


"Bolehkah aku berjalan-jalan keluar sebentar? Aku bosan di kamar terus menerus, ini sudah malam, pasti rumah sakit ini tidak seramai seperti saat siang hari."


"Baik, tapi kau juga harus memakai masker."


"Ya, terimakasih."


Rayhan kemudian membantu Amanda turun dari atas ranjangnya lalu duduk di atas kursi roda yang ada di samping ranjang itu. Mereka lalu keluar dari ruang perawatan tersebut kemudian mulai menyusuri lorong rumah sakit. Namun, tiba-tiba netra Rayhan tertuju pada seorang laki-laki yang sedang berjalan keluar dari salah satu ruang perawatan yang tidak jauh dari tempatnya berdiri. Bergegas Rayhan pun mendorong kursi roda Amanda menuju ke belakang tembok di dekat toilet untuk bersembunyi.


"Ada apa Ray?"


"Abimana, Amanda. Ada Abimana di sini."


"Abimana? Kenapa dia malam-malam ada di rumah sakit ini? Memangnya siapa yang sakit?" kata Amanda sambil mengerutkan keningnya.


"Lebih baik kita tanyakan pada perawat jaga yang ada di depan ruangan tersebut."


"Iya, Rayhan."


Rayhan kemudian mendorong kursi roda Amanda menuju ke sebuah ruang perawat jaga yang tidak jauh dari kamar tempat Abimana keluar beberapa saat yang lalu.


"Permisi suster."


"Ya, ada yang bisa saya bantu?"

__ADS_1


"Maaf suster, saya mau bertanya siapa yang di rawat di kamar perawatan itu?" tanya Rayhan sambil menunjuk sebuah kamar.


"Oh, yang dirawat di kamar perawatan itu Nyonya Vera."


'Mama?' gumam Amanda.


"Dia sakit apa, sus?" tanya Amanda.


"Ada pembengkakan pada pembuluh darah di kepalanya, dia sudah tiga hari ada di rumah sakit ini," jawab perawat tersebut.


"Bolehkah kami mengunjungi Nyonya Vera?" tanya Rayhan pada perawat tersebut.


"Tentu saja?"


Amanda lalu mengerutkan keningnya sambil menatap Rayhan.


"Apa ini tidak berbahaya? Bagaimana jika Abimana kembali ke kamar perawatan mama?"


"Sebentar saja, kita akan melihatnya dari balik pintu. Aku tahu kau pasti sangat merindukannya."


"Ya, terimakasih."


Rayhan kemudian mendorong kursi roda Amanda menuju ke depan kamar perawatan Vera. Amanda lalu mengintip Vera di balik pintu, tampak tubuh Vera yang kini terlihat sedikit kurus, wajahnya pun terlihat pucat, dengan dua buah selang menempel di tubuhnya.


"Mama," panggil Amanda sambil meneteskan air matanya, hatinya begitu teriris melihat wanita yang sudah membesarkannya kini terbaring tidak berdaya.


'Putraku, papa, lalu sekarang mama,' gumam Amanda.


"Rayhan, aku yakin pasti sesuatu telah terjadi antara mama dan Abimana."


"Ya, kupikir juga begitu. Saat acara pemakamanmu, Tante Vera tampak sehat dan baik-baik saja."


"Mama, maafkan Amanda ma. Amanda tidak bisa menjaga mama dengan baik." isak Amanda, hatinya kini terasa begitu sakit mengingat semua kejadian yang telah dialaminya.


"Amanda, lebih baik kita kembali ke kamar. Berbahaya jika kita berlama-lama disini."


Amanda kemudian menganggukkan kepalanya. Rayhan lalu mendorong kursi roda Amanda ke kamarnya kembali.


'Kau benar-benar biadab Abimana, penghianatan, percobaan pembunuhan, membuang anakmu sendiri lalu mengganti dengan anak hasil hubungan gelapmu, melakukan kecurangan pada perusahaan, dan yang paling kejam adalah membuat kedua orang tuamu menderita. Kau memang benar-benar iblis, ini tidak bisa dibiarkan terus menerus aku harus benar-benar berbuat sesuatu, aku harus bangkit, aku harus bangkit.' gumam Amanda selama dalam perjalanan menuju ke kamarnya.


Saat sudah sampai di dalam kamar, Amanda lalu mengalihkan pandangannya pada Rayhan kemudian menatapnya dengan tatapan tajam.


"Rayhan, kau harus benar-benar menolongku, aku ingin cepat sembuh Ray, aku ingin segera membalas dendam pada Abimana, tolong bantu aku, bantu aku untuk bangkit, bantu aku untuk membalas semua perbuatan Abimana padaku. Kau mau membantuku kan Ray?"


"Tentu saja, bukankah aku sudah berjanji padamu, jika ini adalah awal permainan kita dalam menghadapi Abimana."


"Terimakasih."


Amanda lalu memejamkan matanya sambil menghembuskan nafas panjangnya. 'Tunggu pembalasanku, Abimana.'


Note:


Jangan lupa tinggalkan jejak 🥰😘❤️

__ADS_1


__ADS_2