
Abimana berdiri di depan sebuah showroom mobil bekas sambil menghembuskan nafas panjangnya saat melihat mobil mewah berwarna biru kesayangannya harus ditukar dengan sebuah mobil MPV yang kini ada di sampingnya. Abimana kemudian menaiki mobil tersebut, namun saat akan mengendarai mobil tersebut, tiba-tiba ponselnya pun berbunyi.
"Reza," kata Abimana.
[Halo bos.]
[Ya, bagaimana Reza? Apa kau sudah tahu alamat dimana pengacara itu tinggal?]
[Ya, saya sudah tahu alamatnya, saya sudah mengirimkan alamat itu, bos bisa membuka pesan yang saya kirimkan. Ternyata dia satu apartemen dengan Firman, saya mendapatkan alamat itu dari salah karyawan kita, tadi saya menanyakannya pada salah satu karyawan yang pernah diminta mengantarkan berkas oleh Firman ke apartemen milik Rayhan, dan ternyata mereka tinggal di apartemen yang sama.]
'Mereka tinggal di apartemen yang sama? Pantas saja mereka begitu kompak untuk menghancurkanku, mereka memang benar-benar kurang ajar! Aku benar-benar harus berhati-hati pada mereka karena mereka bisa saja berkonspirasi di belakangku untuk menjegal langkahku menjadikan Sharen memperoleh hak waris atas kekayaan yang dimiliki oleh Amanda.' gumam Abimana sambil menahan emosi yang kini begitu berkecamuk di dadanya.
[Baik Reza, terimakasih banyak.] kata Rayhan lalu menutup panggilan telepon dari Reza. Dia kemudian tersenyum kecut lalu mulai mengendarai mobilnya. Beberapa saat kemudian, Abimana menghentikan mobilnya di sebuah basemen apartemen mewah yang ada di pusat ibukota.
"Jadi pengacara sialan itu tinggal di sini?" kata Abimana saat turun dari mobilnya. Dia kemudian berdiri lalu melirik sebuah mobil warna hitam di sampingnya.
"Gara-gara pengacara sialan itu, aku jadi menjual mobil mewahku dan menaiki mobil kaleng seperti ini, benar-benar memalukan." kata Abimana sambil menendang ban mobil itu. Dia kemudian berjalan masuk ke dalam apartemen itu menuju ke alamat yang dikirimkan oleh Reza.
🍒🍒🍒
"Aku sangat mencintaimu," kata Rayhan kemudian melepaskan pelukannya lalu mengecup kening Amanda yang membuat Amanda tersipu malu. Rayhan kemudian mendekatkan wajahnya pada Amanda, namun baru saja dia menempelkan bibirnya tiba-tiba suara bel pun terdengar.
TETTT TEETTTT
Amanda pun tersenyum kemudian menjauhkan wajahnya dari Rayhan.
"Lebih baik kau buka dulu pintunya, siapa tahu itu Firman atau Vallen."
"Ya," jawab Rayhan kemudian berjalan ke arah pintu.
CEKLEK
Namun saat pintu itu dibuka, betapa terkejutnya Rayhan karena saat membuka pintu apartemen itu, dia melihat sosok Abimana yang berdiri di depannya dan menatapnya dengan tatapan tajam.
"Ada apa ABIMANA? Bagaimana kau bisa tahu tempat tinggalku?" kata Rayhan sambil menekankan nama Abimana agar Amanda mendengar kata-katanya.
__ADS_1
'Semoga Amanda mendengar kode dariku.' gumam Rayhan. Amanda yang mendengar nama Abimana yang diteriakkan sedikit keras lalu bersembunyi di balik tembok di dekat ruang tamu.
"Aku ingin bicara denganmu."
"Baik silahkan masuk." Mereka lalu masuk dan duduk di sofa ruang tamu yang ada di apartemen tersebut.
"Aku bisa tahu alamatmu itu bukan urusanmu, lebih baik mulai sekarang kau harus bisa berfikir jika aku bisa saja menghabisimu kapanpun kumau karena menemukan apartemenmu saja itu sangat mudah bagiku, apalagi menghabisimu."
"Menghabisiku? Lebih baik kau urungkan niatmu karena jika kau lakukan itu, hak waris Amanda tidak akan pernah jatuh ke tangan anakmu."
"Kau memang benar-benar bre*gsek pengacara bodoh! Apa belum cukup kau mencekal langkahku? Apa belum cukup kau dan Firman memonopoli kebijakan perusahaan agar aku tidak bisa ikut campur di dalamnya? Lalu tunggakan kartu kreditku kalian limpahkan padaku, sekarang kau tinggal mengancam hak Sharen? Kalian memang benar-benar BREN*SEK!"
"Abimana, bukankah kartu kredit itu milikmu dan yang kau beli dengan menggunakan kartu kredit itu adalah barang-barang pribadimu? Kenapa kau harus melimpahkan pembayaran kredit itu menjadi tanggungan perusahaan? Asal kau tahu, segala hal yang tidak ada kaitannya dengan pengeluaran perusahaan itu bukanlah tanggung jawab perusahaan! Apa kau mengerti Abimana!"
"Jadi kau sudah berani membentakku pengacara bodoh!"
"Tentu saja, kau pikir aku takut padamu? Aku tidak pernah takut padamu!"
"Kau pikir kau siapa sudah berani membentakku seperti itu? Apa kau pikir kau bisa berbuat semaumu karena kau mendapat kuasa dari almarhum papa untuk ikut mengurus perusahaan itu, lalu kau menjadi begitu besar kepala padaku?"
"Ya, menjadi tanggung jawabmu tapi hanya tinggal waktu beberapa bulan saja, kau harus ingat setelah itu perusahaan itu menjadi milik Sharen putriku. Jadi jangan terlalu besar kepala padaku karena bagaimanapun juga dalam beberapa bulan lagi akulah pemilik sah dari perusahaan tersebut, hahahaha."
'Jangan bermimpi, Abimana.' gumam Rayhan sambil tersenyum kecut.
"Abimana, apa kau tahu, aku bisa saja membatalkan hak waris Sharen kapanpun kumau."
"Apa maksudmu? Jangan coba bermain-main lagi, kau harus membalik nama perusahaan itu atas nama putriku, jika tidak aku bisa menghabisimu kapanpun kumau."
"Abimana, aku tahu kau sudah menikah lagi dengan wanita yang menjadi selingkuhanmu itu kan? Bagaimana jika sekarang aku meminta tes DNA pada Sharen dan istrimu?" kata Rayhan sambil tersenyum kecut.
"BRE*GSEK KAU RAYHAN! APA MAKSUDMU BERKATA SEPERTI ITU PADAKU!"
"Kenapa kau marah, Abimana?"
"Karena kau sudah memancing emosiku!"
__ADS_1
"Jika kau tidak mau terpancing olehku, lebih baik kau tidak usah banyak protes dan meminta hal yang tidak-tidak padaku, termasuk jangan pernah coba-coba untuk mengancamku karena nasibmu ada di tanganku Abimana. Ingat, aku bisa saja membatalkan balik nama perusahaan itu kapanpun kumau!"
"DASAR BREN*SEK!!" teriak Abimana sambil memukul meja yang membuat Amanda sedikit terkejut hingga mengeluarkan sebuah suara. Rayhan pun sedikit panik, apalagi saat ini Abimana tampak mengamati sekeliling apartemen tersebut.
"Sebaiknya kau ke kamar saja dan pakai maskermu karena kau sedang sakit," kata Rayhan sambil mendongakkan wajahnya pada Amanda yang masih berdiri di balik tembok. Amanda lalu mengangguk, kemudian menutup wajahnya dengan masker lalu berjalan masuk ke kamarnya.
Melihat Amanda yang berjalan di di dekatnya, Abimana pun tersenyum menyeringai sambil menatap Amanda dari ujung rambut sampai ujung kaki.
'Dibalik masker itu, aku yakin dia pasti sangat cantik, tubuhnya saja begitu mulus dan terawat.'
"Siapa dia?"
"Dia istriku."
"Seleramu sangat bagus Rayhan, aku bahkan tidak menyangka kau memiliki istri secantik itu, biarpun dia mengenakan masker, aku tahu pasti dia sangatlah cantik, tubuhnya pun begitu indah."
"Jaga bicaramu, Abimana!"
"Memangnya kenapa? Aku hanya sedang memuji istrimu."
"Tapi tidak seperti itu caranya menatap dan berkata pada istri orang lain!"
"Kenapa kau marah padaku, Rayhan."
"Bukankah sudah kukatakan tidak sepantasnya kau memandang istri orang lain dengan tatapan seperti itu!"
"Memangnya kenapa? Aku memang sangat terpikat pada istrimu."
"JAGA BICARAMU, ABIMANA!!" teriak Rayhan kemudian berdiri lalu secepat kilat melayangkan bogem mentahnya pada Abimana.
BUGH BUGH
NOTE:
Wajib tinggalin jejak ya, komen yang rame, love you dear 🥰😘❤️
__ADS_1