Aku Belum Mati, Suamiku

Aku Belum Mati, Suamiku
Talak


__ADS_3

Raut wajah Inara kini pun semakin pucat.


"Tidak, itu tidak mungkin Vallen. Kau jangan mengada-ada."


Vallen kemudian memegang perut Inara kembali. "Mengada-ada apa maksudmu? Lalu apa ini Inara? Kenapa perutmu terlihat sangat aneh."


"Vallen, lebih baik kau tutup mulutmu! Kau sengaja kan mengatakan semua ini di depan Mas Rayhan untuk menjelek-jelekkan diriku!" bentak Inara sambil menghempaskan tangan Vallen dari perutnya kemudian mencoba untuk bangun, tapi rasa sakit di perutnya membuatnya tubuhnya kembali terkulai di atas sofa.


"Apa maksudmu berkata seperti itu padaku, Inara? Apa untungnya aku menjelek-jelekkan dirimu di depan Rayhan? Kau sungguh sangat aneh, Inara!!"


"Lalu apa maksudmu mengatakan jika tidak ada janin di dalam perutku? Kau ingin membunuh karakterku kan!"


"CUKUP INARA!! LEBIH BAIK KAU TUTUP MULUTMU!" bentak Rayhan.


"Tapi Vallen mengatakan sesuatu hal yang buruk padaku, Mas."


"Memangnya apa yang dia katakan? Dia mengatakan sesuai ilmu yang dimilikinya!"


"Tapi dia sudah berbohong mas!"


"Mari kita buktikan siapa yang berbohong! Sekarang kau buka perutmu!"


Rayhan lalu mengalihkan pandangannya pada Vallen.


"Valen, sekarang cepat kau periksa kandungan Inara."


"Iya Ray."


"Tapi mas."


"Tapi apa? Bukankah kau yang mengatakan jika Vallen telah berbohong, sekarang kita buktikan siapa yang sebenarnya sudah berbohong!!"


"Tenang Rayhan, tenangkan dirimu."


"Aku sudah selalu mencoba tenang dan selalu sabar menghadapi Inara, Firman, tapi kau bisa lihat sendiri tingkahnya sangat kekanak-kanakan!"


"Vallen, cepat periksa perut Inara sekarang juga!"


"Baik Ray." Vallen pun kemudian mendekat kembali pada Inara.


'Oh tidak, oh tidak,' gumam Inara kembali sambil menelan ludahnya dengan kasar.


"Tidak Vallen, perutku sudah tidak sakit. Aku baik-baik saja."


"Tapi aku tetap harus memeriksa perutmu karena saat ini kau sedang hamil, Inara."


"Tidak Vallen, jangan."


"INARA!! LEBIH BAIK KAU DIAM DAN JANGAN TERLALU BANYAK BERALASAN! VALLEN CEPAT PERIKSA PERUT INARA!" Vallen pun mengangguk, dia kemudian membuka pakaian Inara lalu mulai memegang dan memeriksa keadaan perut Inara."


Inara yang kini tidak bisa berbuat apa-apa untuk menutupi kehamilan palsunya, hanya bisa pasrah sambil menatap Rayhan yang kini memandangnya dengan tatapan tajam disertai wajah yang tampak memerah menahan amarah yang begitu berkecamuk di hatinya.


"Oh tidak, apa ini Inara? Ini bukan perutmu," Vallen kemudian memeriksa sisi perut Inara.

__ADS_1


"Bukan perut?" ucap Rayhan, kemudian saling berpandangan dengan Firman.


"ASTAGA INARA!!! KAU MENGGUNAKAN PERUT PALSU! RAYHAN, INARA MENGGUNAKAN PERUT SILIKON!"


"Tidak Vallen, kau jangan mengada-ada. Kau jangan berbohong, Vallen!"


"Tidak, aku tidak berbohong!! Rayhan, lihat ini di samping perut ada lapisan yang terlihat seperti kulit yang menempel di atas perut Inara. Pantas saja saat aku memeriksa perutmu tadi terlihat seperti seonggok daging kenyal yang tidak berisi, ternyata kau menggunakan silikon."


"Jaga bicaramu, Vallen! Jangan coba-coba membodohi semua orang yang ada di sini dengan kebohonganmu!"


"Untuk apa aku berbohong? Aku bahkan tidak tertarik untuk mengusik kehidupanmu yang palsu itu!!"


"Lancang sekali kau berkata seperti itu, Vallen!! Lebih baik aku tidak usah mengurusiku dan kehidupan rumah tanggaku."


"Bukankah sudah kubilang jika aku tidak pernah tertarik untuk mengusik kehidupan rumah tanggamu, itu sama sekali tidak penting bagiku!"


"Kalau begitu kau tidak usah berbicara yang buruk tentang dirimu! Sebaiknya kau tidak usah menjelek-jelekkanku!"


"Ingat Inara aku hanya berbicara sesuai dengan ilmu yang kumiliki!"


"Tapi...."


"CUKUP INARA!!"


PLAK PLAK


Rayhan kemudian menampar Inara yang masih terbaring di atas ranjang.


"Sekarang kita pulang! Ayo kita pulang!"


"Firman, Vallen, terimakasih atas jamuan makan malamnya, maaf sudah membuat keributan di sini, sekali lagi maaf."


"Tidak apa-apa Rayhan, kendalikan emosimu karena Inara masih sakit."


"Iya Firman, terimakasih banyak." Rayhan lalu menarik tangan Inara. Inara yang masih terbaring di atas sofa pun begitu terkejut, namun tidak bisa berbuat apa-apa dan hanya bisa mengikuti langkah Rayhan di belakangnya sambil menahan sakit di perutnya.


Firman dan Vallen menatap kepergian Rayhan dan Inara lalu saling berpandangan.


"Aku benar-benar tidak menyangka Inara mampu melakukan hal licik seperti itu, kupikir dia wanita yang polos."


"Ya, aku juga memiliki pemikiran yang sama denganmu. Kupikir dia wanita yang polos. Aku bahkan telah tertipu pada raut wajah memelasnya beberapa bulan yang lalu hingga menyuruh Rayhan untuk kembali padanya. Aku sungguh menyesal telah berbuat seperti itu, menyuruh Rayhan kembali pada wanita seperti Inara."


"Jadi kau melakukan semua ini untuk menebus kesalahanmu pada Rayhan karena menyuruhnya kembali pada Inara?"


"Ya, Rayhan berhak bahagia dengan menemukan cinta yang lain."


"Kau benar. Vallen, memangnya apa yang kau campurkan pada jus yang kau berikan padanya?"


Vallen pun tersenyum. "Obat perangsang kontraksi," jawab Vallen sambil terkekeh.


"ASTAGA VALLEN!!"


Sementara Inara yang berjalan sambil menahan sakit di perutnya sesekali melirik Rayhan yang kini tampak begitu marah. Inara kemudian memberanikan diri untuk berbicara pada Rayhan saat mereka berdiri di samping mobil mereka.

__ADS_1


"Mas tolong jangan percaya pada Vallen, mas!"


"Capat masuk ke dalam mobil!"


Inara pun masuk kedalam mobil dengan begitu lesu sambil memejamkan matanya. Rayhan kemudian duduk di sampingnya lalu membanting pintu mobil lalu mengemudikan mobil itu dengan kecepatan yang begitu tinggi.


"Mas pelan-pelan mas, aku takut," kata Inara sambil menelan ludahnya dengan kasar saat Rayhan mengendarai mobilnya dengan begitu kencang menembus jalanan ibukota yang begitu ramai.


"Mas, hati-hati."


"DIAM!!" bentak Rayhan disertai raut wajah yang begitu garang, matanya pun tampak memerah menahan amarah. Hingga beberapa saat kemudian, mereka pun sudah sampai di rumahnya.


"Ayo turun."


"Eh.. E.."


"AYO CEPAT TURUN!!"


"Iya mas."


Inara lalu turun dari mobil. Rayhan pun kemudian menarik tangannya dengan begitu kasar untuk memasukki rumah.


"Mas, tolong jangan marah padaku mas, semua yang dikatakan Vallen itu tidak benar, Vallen sudah berbohong mas."


"KAU PIKIR AKU BODOH, INARA!!"


"Memangnya selama ini aku tidak pernah curiga padamu? Kau selalu menolak saat kuajak pergi untuk memeriksakan kandunganmu bersamaku!"


"Mas, bukankah sudah kukatakan jika aku belum siap jika melihat hasil USG jenis kelamin anak kita yang tidak sesuai harapanku."


"Memeriksakan kandungan tidak harus mengetahui jenis kelamin bayi, Inara! Tapi juga untuk melihat kondisi kesehatan bayi! Tapi kau selalu menolak itu!"


"Tapi mas.. "


"Tapiii apa? Apa kau sudah lupa jika kau juga mengirimkan daftar belanjaanmu padaku? Dalam daftar belanjaan itu kau bahkan membeli dua bungkus pembalut kan? Lalu saat aku pulang ke rumah kau menolak untuk berhubungan badan denganku itu karena kau sedang mengalami menstruasi kan? Cuiiih pantas saja setiap bulan ada saat-saat tertentu kau terlihat seperti menghindar dariku, itu pasti karena kau tidak ingin aku curiga kau sedang mengalami menstruasi kan Inara!!"


"Tidak mas, itu tidak benar," kata Inara sambil terisak.


"Kalau itu tidak benar, cepat lepaskan pakainmu dan tunjukkan keadaan tubuhmu!! Cepat lepaskan pakaianmu, Inara!" bentak Rayhan sambil mencoba membuka pakaian Inara.


"Tidak mas, aku tidak mau, aku tidak bersalah mas," kata Inara sambil memegang pakaiannya. Tapi Rayhan semakin mendekatkan tubuhnya pada Inara kemudian membuka pakaian bagian atas lalu menarik perut silikon yang menempel di atas perut Inara. Rayhan pun tersenyum kecut.


"LIHAT INI!! LIHAT INI PERUT PALSUMU KAN! DASAR BAJI"GAN!! BRENG*EK KAU INARA!!


"Tidak mas, maafkan aku! Aku hanya tidak ingin berpisah denganmu, tolong mengertilah keadaanku."


"Kau benar-benar tidak memiliki harga diri Inara! Semua bukti sudah jelas tapi kau tidak mau mengakuinya! Kau tahu itulah alasannya aku tidak pernah bisa mencintaimu! Kau terlalu egois Inara!"


"Tidak mas, kau tidak pernah mencintaiku karena kau masih mencintai Vallen kan?"


"CUKUP INARA!! MULAI DETIK INI JUGA KUJATUHKAN TALAK PADAMU INARA!!"


NOTE:

__ADS_1


Wajib tinggalin jejak, komen yang rame ya 🥰😘😉


__ADS_2