Aku Belum Mati, Suamiku

Aku Belum Mati, Suamiku
Peninjauan Kembali


__ADS_3

TOK TOK TOK


"Masuk."


Seorang pembantu rumah tangga pun membuka pintu kamar Amanda.


"Ada apa bi?"


"Nyonya, di bawah ada tamu yang ingin bertemu dengan Tuan dan Nyonya."


"Tamu? Siapa bi? Apa bibi menanyakan namanya?"


"Ya, namanya Nyonya Inara."


"Inara," ucap Amanda sambil menatap Rayhan.


"Sebaiknya kita turun sekarang," kata Rayhan. Mereka berdua kemudian turun ke bawah dan melihat Inara sudah duduk di ruang tamu mereka. Amanda kemudian berjalan menghampiri Inara lalu memeluknya.


"Apa kabar, Inara?"


"Baik Amanda."


Inara kemudian tersenyum pada Rayhan yang berdiri di belakang Amanda.


"Silahkan duduk, Inara."


"Iya, terimakasih. Maaf jika aku sudah mengganggu waktu kalian."


"Oh tidak apa-apa, kami juga sedang tidak sibuk."


"Ada apa Inara? Apakah ada sesuatu yang ingin kau sampaikan?" tanya Rayhan sambil menatap Inara dengan tatapan penuh tanda tanya.


"Ya, sebelumnya maafkan aku. Maaf jika ini sedikit mengungkit masalah yang kalian hadapi, karena ini ada hubungannya dengan Abimana."


"Abimana?" kata Amanda dan Rayhan bersamaan.


"Ya, Abimana."


"Kau mengenal Abimana?"


Inara kemudian menganggukkan kepalanya.


"Kau tahu kan Mas, ayahku bekerja sebagai kepala di sebuah lembaga pemasyarakatan, dan Abimana ditahan di lembaga pemasyarakatan tempat ayahku bekerja. Sejak aku bercerai denganmu, aku aktif membina para narapidana yang ada di lapas tersebut, salah satunya adalah Abimana."


Inara kemudian terdiam beberapa saat.


"Lalu?" tanya Rayhan sambil mengerutkan keningnya.

__ADS_1


"Kami saling mengenal dan akhirnya memiliki hubungan yang cukup dekat."


"Inara tolong jangan katakan kau jatuh cinta padanya."


Inara pun tersenyum kecut. "Tapi sayangnya itulah yang terjadi."


"Jadi kau menyukai Abimana?" tanya Amanda.


"Ya, aku mencintai Abimana."


"ASTAGA!!" teriak Rayhan.


"Bagaimana bisa kau menyukai Abimana, Inara! Dimana akal sehatmu! Apa kau tidak bisa berfikir jernih, dia adalah seorang tahanan!"


"Mas, aku sudah pernah bertemu dengan Abimana saat dia belum menjadi seorang tahanan. Sebelumnya aku pernah bertemu dengannya, dia menolongku saat aku sedang dijambret."


"Oh, jadi saat itu pula kau mulai jatuh cinta padanya?"


Inara pun mengangguk. "Awalnya aku hanya ingin memendam perasaan ini tapi ternyata kami kembali bertemu dan membuat rasa cintaku kembali tumbuh padanya."


"Astaga, Inara! Kenapa ku biarkan rasa cintamu itu kembali tumbuh! Kau seharusnya bisa mengendalikan perasaanmu pada dirinya! Apa kau tidak sadar, dia seorang tahanan, Inara!"


"Ya, aku tahu itu. Aku sebenarnya sudah berusaha untuk mengendalikan perasaanku tapi aku tidak tahu kenapa perasaan itu terus tumbuh."


"Inara...."


"Rayhan, tolong jangan menghakimi Inara seperti itu. Terkadang cinta memang sangat sulit dikendalikan dan tidak bisa menggunakan logika dan akal sehat."


"Memperjuangkan cintamu?" tanya Amanda.


"Ya, memperjuangkan cintaku. Bukankah kalian tahu vonis hukuman yang diterima oleh Abimana?"


"Ya, tentu saja kami tahu karena saat itu kami mendampingi Abimana saat sidang."


"Amanda, Rayhan. Itulah maksud kedatanganku kesini. Aku ingin meminta ijin pada kalian untuk mengajukan peninjauan kembali pada kasus Abimana. Apakah aku boleh melakukan itu? Tolong aku, aku hanya ingin Abimana mendapat keringanan hukum, aku hanya ingin menjalani hidup dengannya."


"Inara, asalkan kau tahu. Kami sudah melakukan penawaran tersebut saat dia dijatuhi vonis oleh hakim. Kami menawarkan untuk banding, tapi Abimana tidak mau. Dia merasa jika hukuman mati itu pantas untuknya."


"Jadi kalian mengijinkanku untuk melakukan peninjauan kembali?"


"Ya, tentu saja karena kami yakin Abimana pun sudah bertaubat. Kami yakin sekarang Abimana pasti sedang berusaha memperbaiki dirinya, iya kan?"


"Ya, Abimana kini sudah berubah. Dia sudah bertaubat dan menyadari semua kesalahannya, dia juga sudah melakukan taubat nasuha."


"Oh syukurlah," jawab Amanda sambil tersenyum.


"Karena itulah, aku rasa Abimana berhak mendapatkan keringanan hukum. Meskipun keringanan itu hanya berupa penjara seumur hidup baginya."

__ADS_1


"Lalu jika Abimana dipenjara seumur hidup kau akan terus menunggunya sampai dia bebas?" tanya Rayhan dengan begitu ketus. Inara pun mengangguk.


"Lihat Amanda, dia begitu bodoh! Kami memang mengijinkan dirimu untuk melakukan peninjauan kembali tapi bukan berarti kami akan membiarkanmu menunggu Abimana sepanjang hidupmu, Inara!"


"Mas, aku sudah dewasa. Aku berhak menentukan jalan hidupku."


"Kau berhak menentukan jalan hidupmu tapi tidak untuk menjadi orang bodoh, Inara!"


"Rayhan, biarkan saja. Kau tidak boleh berbicara seperti itu pada Inara."


"Aku hanya sedang menyadarkan dia dari cinta buta yang dia rasakan, Amanda. Kau tahu kan dia cantik dan kaya, sungguh sangat lucu jika sepanjang hidupnya dia habiskan untuk menunggu Abimana."


Amanda kemungkinan menatap Rayhan sambil menggelengkan kepalanya, dia sudah merasa begitu iba pada Inara yang kini mulai meneteskan air matanya. Amanda pun kemudian menggengam tangan Inara.


"Inara, maafkan Rayhan. Dia sedang sedikit emosi karena terlalu menghawatirkan dirimu."


"Tidak apa-apa, Amanda. Memang kenyataannya seperti itu. Aku adalah manusia yang sangat bodoh, aku tidak bisa berfikir dengan jernih saat jatuh cinta pada seseorang."


"Tidak apa-apa Inara, kami mengijinkan kau melakukan peninjauan kembali jika kau ingin melakukan itu pada kasus Abimana. Kami sebenarnya sangat senang dan berterima kasih padamu, kau mau melakukan itu semua untuk Abimana."


"Benarkah?"


"Ya, kami sangat berterimakasih padamu. Kau melakukan apa yang kami inginkan tanpa kami minta padamu, silahkan jika kau ingin melakukan peninjauan kembali. Kami akan mendukungmu."


"Jadi sudah tidak ada dendam lagi di hati kalian?"


Amanda pun menggelengkan kepalanya. "Untuk apa memelihara dendam? Saat itu kami memang sangat marah dan membenci Abimana, tapi saat seorang umat manusia sudah melakukan pertaubatan pada Tuhan, kami tidak berhak menghakiminya kembali. Setiap manusia pasti pernah berbuat kesalahan, dan hanya orang-orang berjiwa besar yang mau menyadari semua kesalahan yang pernah dia lakukan."


"Terimakasih Amanda, terimakasih Rayhan, aku tidak tahu harus mengatakan apa pada kalian, sekali lagi terimakasih banyak."


"Iya Inara."


"Besok aku akan memulai proses untuk melakukan peninjauan kembali pada kasus Abimana."


"Ya."


"TIDAK!! KAU TIDAK BOLEH MELAKUKAN ITU! HUKUMAN VONIS MATI SUDAH SANGAT PANTAS DITERIMA OLEH ABIMANA!" teriak sebuah suara dari seorang wanita paruh baya yang mendekat ke arah mereka.


NOTE:


Az Zumar : 53


۞ قُلْ يٰعِبَادِيَ الَّذِيْنَ اَسْرَفُوْا عَلٰٓى اَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوْا مِنْ رَّحْمَةِ اللّٰهِ ۗاِنَّ اللّٰهَ يَغْفِرُ الذُّنُوْبَ جَمِيْعًا ۗاِنَّهٗ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ


Katakanlah, “Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri! Janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sungguh, Dialah Yang Maha Pengampun, Maha Penyayang.


QS An Nisa : 17

__ADS_1


إِنَّمَا التَّوْبَةُ عَلَى اللَّهِ لِلَّذِينَ يَعْمَلُونَ السُّوءَ بِجَهَالَةٍ ثُمَّ يَتُوبُونَ مِنْ قَرِيبٍ فَأُولَٰئِكَ يَتُوبُ اللَّهُ عَلَيْهِمْ ۗ وَكَانَ اللَّهُ عَلِيمًا حَكِيمًا


“Sesungguhnya taubat di sisi Allah hanyalah taubat bagi orang-orang yang mengerjakan kejahatan lantaran kejahilan, yang kemudian mereka bertaubat dengan segera, maka mereka itulah yang diterima Allah taubatnya, dan Allah Mahamengetahui lagi Maha bijaksana.”


__ADS_2