Aku Belum Mati, Suamiku

Aku Belum Mati, Suamiku
Penawaran


__ADS_3

Abimana kemudian mengerutkan keningnya.


"Hai Inara, ini bukan tempat umum. Kau tidak bisa sembarang keluar masuk ke tempat ini, bukankah sudah kukatakan jika aku tidak ingin berteman dengan siapapun."


"Bukankah sudah kukatakan jika aku memiliki kuasa yang membuat semua sipir menuruti permintaanku."


"Memangnya siapa dirimu?"


"Tanpa kujelaskan siapa diriku, suatu saat kau juga pasti tahu siapa diriku sebenarnya, karena semua orang yang ada di sini mengenal siapa diriku."


"Sombong sekali," gerutu Abimana sambil tersenyum kecut.


"Tidak sepantasnya kau bersikap seperti itu padaku, Abi. Apa kau sudah lupa jika akulah yang menyelamatkanmu tadi."


"Baik, terimakasih."


"Sayangnya tidak cukup dengan ucapan terimakasih."


"Lalu apa maumu?"


"Bertemanlah denganku, jangan berfikiran buruk padaku karena aku hanya ingin menemanimu menjelang hari-hari terakhirmu, tidak hanya denganmu tapi juga dengan tahanan yang lain. Itulah tugasku di sini, aku mendampingi para tahanan agar mereka diberi kekuatan iman dan membantu mereka keluar dari masa lalu mereka agar mereka tidak mengulangi kesalahan mereka saat keluar dari lembaga pemasyarakatan ini."


"Jadi kau seorang psikolog?"


"Bisa dibilang seperti itu, aku adalah lulusan psikologi. Dulu aku hanyalah seorang ibu rumah tangga biasa, setelah aku bercerai dengan suamiku, aku ingin memiliki kegiatan yang bisa berguna bagi orang lain, jadi aku melakukan pendampingan disini. Termasuk dengan dirimu, biarkan aku menjadi temanmu. Bagaimana, kau mau kan menjadi temanku?"


"Tapi aku tidak membutuhkan seorang teman, aku sedang ingin sendiri."


"Kata-katamu seperti orang yang sedang patah hati."


"Memang itulah kenyataannya."


"Jadi kau sedang patah hati? Apa itu dengan istrimu?"


"Bukan urusanmu, bisakah kau tinggalkan aku sendiri?"


"Tentu saja, mungkin kau butuh istirahat. Lagipula ini juga sudah malam, aku pulang dulu. Sampai bertemu besok, Abimana," kata Inara kemudian meninggalkan kamar perawatan Abimana di dalam klinik lapas. Abimana pun hanya tersenyum melihat kepergian Inara.

__ADS_1


"Aku tidak membutuhkan seorang teman, aku tidak mau memiliki kenangan apapun sebelum kematianku, itu pasti akan menyakitkan," kata Abimana sambil menutup matanya. Abimana pun membuka matanya kembali saat mendengar sebuah suara yang ada di sampingnya.


"Bagaimana keadaan anda?" sapa seorang perawat yang sedang mengganti infusnya.


"Baik, sudah jauh lebih baik."


"Bagus, semoga luka di tubuh anda cepat sembuh."


"Suster, apakah anda tahu wanita yang menungguku tadi?"


"Oh ya, apa maksud anda Nyonya Inara?"


"Iya Inara, siapa dia sebenarnya?"


"Dia pendamping psikolog beberapa tahanan di sini, dia orang yang berhati mulia karena dia melakukan itu dengan sukarela tanpa dibayar."


Abimana pun begitu terkejut mendengar penjelasan perawat di sampingnya.


"Selain itu ayahnya juga kepala lembaga pemasyarakatan di sini, jadi semua orang menghormatinya."


"Jadi ayah Inara kepala lembaga pemasyarakatan?"


"Oh, pantas saja," kata Abimana.


🍒🍒🍒


Saat dalam perjalanan menuju ke rumah sakit tempat Ghea dirawat, suara ponsel Amanda pun berbunyi. Dia kemudian mengambil ponselnya di dalam tasnya.


"Ada pesan dari Firman, Ray."


"Ada apa Amanda? Apakah ada hubungan dengan masalah kantor?"


"Bukan, ASTAGA!! VALLEN SUDAH MELAHIRKAN! SYUKURLAH DIA DAN BAYINYA SEHAT."


"Syukurlah, anak mereka laki-laki atau perempuan?"


"Perempuan, namanya Cleo. Cleopatra Firlen Agatha, nama yang bagus sekali, aku yakin jika sudah besar pasti dia tumbuh menjadi wanita yang sangat cantik seperti Vallen. Rayhan bagaimana jika kita jodohkan dia dengan Kenzo?"

__ADS_1


"Amanda, apa kau sudah lupa yang terjadi padaku dan Inara? Sebenarnya aku pun sangat menginginkan hal itu tapi aku tidak mau memaksakan kehendak kita berdua pada Kenzo, lebih baik biarkan mereka memilih jodohnya masing-masing."


"Baiklah," gerutu Amanda.


"Tapi aku berharap mereka akan berjodoh," kata Amanda lagi sambil terkekeh. Rayhan pun tersenyum.


"Semoga saja. Kita sudah sampai, sekarang ayo kita turun."


"Iya," jawab Amanda. Kemudian mereka turun dari mobil lalu berjalan masuk ke dalam rumah sakit, ke kamar perawatan Ghea.


"Kau tunggu di sini saja, Ray."


"Iya Amanda."


Amanda kemudian membuka pintu kamar perawatan itu.


CEKLEK


Ghea yang sedang duduk di atas ranjang pun sedikit terkejut dengan kedatangan Amanda, dia kemudian duduk di samping ranjang Ghea.


"Halo Ghea, apa kabar?"


Ghea pun menatap Amanda dengan tatapan tajam.


"Kau tidak usah selalu berpura-pura seperti itu lagi, apa kau tidak lelah?" tanya Amanda sambil tersenyum kecut. Ghea pun semakin menatap Amanda dengan tatapan sinis, dadanya pun terlihat naik turun menahan amarah di dalam hatinya.


"Ghea, aku memberikan sebuah penawaran kesepakatan padamu, lebih baik kau berhentilah berpura-pura mulai dari sekarang."


Ghea kemudian menatap Amanda dengan tatapan penuh tanda tanya.


"Ghea, apa kau tidak lelah hidup di rumah sakit ini dan terus menerus berpura-pura berteriak seperti orang gila? Bukankah itu melelahkan? Apa kau tidak rindu berbelanja ke mall ataupun merawat tubuhmu di salon? Kau sudah lama tidak melakukan itu kan? Pikirkan baik-baik, Ghea."


Ghea pun hanya terdiam, tatapannya kosong menatap ke arah depan.


"Oh baiklah, sepertinya kau memang tidak tertarik pada kesepakatan yang ingin kutawarkan padamu, baiklah aku pulang dulu. Selamat menikmati hari-harimu di dalam rumah sakit ini, Ghea."


Amanda kemudian bangun dari tempat duduknya lalu berjalan ke arah pintu, di saat itu juga Ghea pun membuka suaranya.

__ADS_1


"Tunggu dulu, Amanda. Kesepakatan apa sebenarnya yang ingin kau tawarkan?"


'Benar kan dugaanku, kau hanya berpura-pura saja, Ghea,' gumam Amanda kemudian membalikkan badannya kembali ke arah Ghea.


__ADS_2