
Tiba-tiba ponsel Rayhan pun berbunyi.
"Inara."
Rayhan lalu mengangkat panggilan teleponnya.
[Halo Inara.]
[MAS RAYHAN, kamu dimana? Ini sudah hampir pagi, kenapa kamu belum pulang mas!!!] teriak Inara di ujung sambungan telepon.
[Maaf Inara, aku lupa tidak memberitahumu karena sedikit sibuk. Tadi Amanda mengalami kecelakaan.]
[A.. Apa mas? Kecelakaan?]
[Ya, kecelakaan.]
[Lalu bagaimana kondisi Amanda sekarang?]
[Dia meninggal.]
[Innalilahi, aku turut berduka cita mas.]
[Iya Inara.]
[Lalu kapan kau pulang?]
[Sebentar lagi aku pulang, tapi aku hanya pulang sebentar setelah itu aku langsung pergi ke pemakaman Amanda.]
[Iya mas.] jawab Inara kemudian menutup teleponnya.
"Aku sebenarnya sedih saat mendengar Amanda meninggal dunia tapi ada bagusnya, karena jika dia meninggal pasti waktu Mas Rayhan tidak tersita untuknya." kata Inara sambil tersenyum kecut.
🏡🏡🏡
"Vallen, ponselmu berbunyi." kata Firman sambil melepas pelukannya pada Vallen.
"Biarkan saja."
"Bagaimana jika itu penting?"
"Biarkan saja, matahari juga belum keluar, yang berani menghubungiku di waktu gelap seperti ini hanya Kak David." kata Vallen sambil memejamkan matanya.
"Tapi Vallen..."
"Tidak ada tapi-tapian, peluk aku saja."
Firman pun tersenyum, namun saat akan kembali memeluk Vallen tiba-tiba ponselnya pun ikut berbunyi.
"Aku angkat ponselku dulu ya."
Vallen pun mengangguk sambil perlahan membuka matanya dan memperhatikan Firman yang sedang mengangkat ponselnya dengan raut wajah yang begitu serius, di saat itulah ponsel Vallen juga berbunyi kembali.
__ADS_1
"Baiklah aku juga akan mengangkat ponselku." kata Vallen kemudian mengambil ponselnya.
[Halo, iya Kak David.]
[Vallen, tadi malam Abimana bermaksud menghabisi Amanda.]
[Astaga!!!]
[Tapi untungnya Rayhan berhasil menyelamatkannya kemudian membawanya ke rumah sakit lalu aku juga sudah berhasil mengoperasinya, sekarang kita tinggal menunggu dia sadar.]
[Oh syukurlah.]
[Tapi aku minta tolong padamu dan Firman agar merahasiakan hal ini. Biarkan orang-orang tahu jika Amanda meninggal saat mengalami kecelakaan. Hari ini ada upacara pemakaman Amanda di rumahnya, tolong kau dan Firman bersikap biasa saja, rahasiakan ini dari semua orang terutama Abimana. Ini demi kebaikan Amanda. Untuk beberapa bulan ke depan, kita akan menyembunyikan Amanda hingga dia siap menghadapi Abimana untuk merebut perusahaannya kembali.]
[Iya Kak, aku mengerti.]
[Emh, ada satu lagi Vallen.]
[Apa Kak?]
[Kau dan Firman harus membantu Rayhan untuk mengubah Amanda.]
[Mengubah Amanda? Apa maksudmu Kak?]
[Nanti biar Rayhan yang menjelaskan saja, lebih baik pagi ini kalian hadir ke pemakaman Amanda setelah itu temui Rayhan di rumah sakit.]
[Iya Kak.]
[Iya.] Vallen kemudian menutup teleponnya lalu mendekat pada Firman.
"Firman, siapa yang meneleponmu?"
"Pak Yanuar, dia mengatakan jika Amanda meninggal saat kecelakaan tadi malam."
"Tidak Firman, Amanda belum meninggal. Rayhan berhasil menyelamatkannya dan Kak David pun sudah mengoperasi jantungnya. Dia masih hidup, Firman."
"Ba... Bagaimana mungkin?"
"Ya itulah kenyataannya, tapi tolong rahasiakan hal ini. Jangan sampai ada yang mengetahuinya terutama Abimana, cukup kita yang tahu. Apa kau mengerti?"
"Ya, aku mengerti Vallen. Rayhan pasti sudah menyiapkan rencana untuk menghadapi Abimana, iya kan?"
Vallen kemudian menganggukkan kepalanya.
"Ya, Kak David juga meminta kita untuk mambantu Rayhan."
"Membantu apa?"
"Entahlah nanti setelah menghadiri pemakaman dia meminta kita untuk bertemu dengannya di rumah sakit, kita ikuti saja skenarionya saja."
"Ya."
__ADS_1
🏡🏡🏡🏡🏡
"Inara, aku akan ke pemakaman Amanda."'
"Tapi mas, kamu baru saja pulang."
"Tapi aku harus pergi ke sana, Inara."
"Kenapa kau selalu mengutamakan Amanda, Mas?"
"Inara mengertilah, Amanda adalah klienku."
"Tapi dia sudah meninggal, Mas."
"Karena itulah ini adalah salah satu penghormatan terakhirku padanya, aku harus menghadiri pemakaman tersebut. Inara, daripada kau mempermasalahkan hal seperti ini, bagaimana jika kau ikut saja bersamaku, menghadiri pemakaman itu."
"Tidak, di sana aku tidak mengenal siapapun."
"Baik, kalau begitu aku pergi sekarang."
"Tapi mas..." kata Inara sambil memegang tangan Rayhan.
"Tapi apa?"
"Tapi perutku sakit mas, jangan tinggalkan aku sendirian di rumah."
"Sakit? Kalau perutmu sakit, ayo kita pergi ke dokter kandungan."
"Tidak mas, aku tidak mau. Aku tidak ingin sedang pergi kemana-mana."
'Kenapa tingkah Inara semakin mencurigakan jika aku mengajaknya pergi ke dokter.' gumam Rayhan sambil menatap Inara yang kini terlihat salah tingkah.
"Inara, aku sebenarnya tidak pernah habis pikir denganmu, kau seringkali mengeluh jika perutmu sakit tapi kau tidak pernah mau jika kuajak ke dokter, bahkan kau selalu beralasan tidak jelas. Ada apa sebenarnya Inara? Apakah ada yang kau tutupi? Apa kau tidak pernah berfikir jika aku sangat mencemaskan kandunganmu, aku mencemaskan anak kita, Inara."
"Ti.. Tidak mas, tidak ada yang kututupi."
"Jika tidak ada yang kau tutupi kenapa kau tidak pernah mau pergi ke dokter bersamaku? Apa kau juga telah membohongiku? Apa sesuatu telah terjadi pada kandunganmu?"
"TIDAK MAS! TIDAK! KAU YANG TIDAK PERNAH MENGERTI AKU!"
"INARAAAA!! KAU BERANI MEMBENTAKKU PADAHAL AKU HANYA MENANYAKAN TENTANG KANDUNGANMU! TENTANG ANAKKU YANG ADA DI DALAM KANDUNGANMU! AKU BERHAK MENANYAKAN ITU KARENA AKU ADALAH AYAHNYA!!" bentak Rayhan. Inara pun kini terlihat menangis.
"Inara, tidak usah menangis dan bermain drama denganku, jika tidak ada yang kau tutupi, kita ke dokter kandungan sekarang juga!"
"Ke dokter kandungan? Maksudmu agar kau bisa bertemu dengan Vallen kan? Iya kan mas? Kau masih mencintai Vallen kan?"
"Vallen saat ini sedang mengandung anak Firman dan aku sudah tidak memiliki perasaan apapun padanya! Tidak usah mengalihkan pembicaraan karena ini sepenuhnya tentang dirimu dan diriku!"
"TIDAK USAH BANYAK ALASAN MAS! KAU MASIH MENCINTAI VALLEN KAN!!"
PLAKKKKK
__ADS_1
"JAGA KATA-KATAMU INARAAAA!!" teriak Rayhan lalu meninggalkan Inara yang kini memegang pipinya sambil menangis.