Aku Belum Mati, Suamiku

Aku Belum Mati, Suamiku
Wanita Bodoh


__ADS_3

Seorang wanita paruh baya lalu mendekat ke arah mereka.


"TIDAK! KAU TIDAK BOLEH MELAKUKAN ITU! ABIMANA TIDAK BOLEH MENDAPATKAN KERINGANAN HUKUM!"


"Tapi tante, Abimana sudah bertaubat. Dia sudah melakukan taubat nasuha. Kita sebagai sesama umat manusia tidak berhak menghakimi orang yang sudah bertaubat karena Tuhan saja Maha Pengampun, tidak ada yang berhak atas manusia kecuali Tuhan karena semua manusia pasti pernah melakukan kesalahan, setiap manusia pasti pernah berbuat dosa. Baik itu dosa kecil ataupun dosa besar."


"Tapi dosa yang dilakukan oleh Abimana sudah terlalu besar, percuma saja pertaubatan yang dilakukan oleh Abimana, dia tidak akan pernah diampuni oleh Tuhan!"


"Darimana tante tahu taubat yang dilakukan oleh Abimana tidak diampuni oleh Tuhan? Tidak ada yang tahu rahasia Tuhan, tante. Tidak ada yang lebih berhak pada diri seseorang kecuali Tuhan. Apakah tante pernah mendengar kisah seorang pembunuh seratus orang yang diampuni oleh Tuhan lalu masuk ke dalam surga setelah melakukan pertaubatan? Bukankah dalam Al Qur'an Surat Az Zumar ayat 53 sudah diterangkan jika sesungguhnya rahmat Allah itu luas, sebesar dan sebanyak apa pun dosa itu, dia tetap ada harapan dari Allah. Orang yang tenggelam dalam dosa-dosa harus merubah jalan hidupnya, dia harus meninggalkan orang-orang sesat yang bergaul dengannya, dan juga harus meninggalkan semua kemaksiatan yang ada pada dirinya selama ini, dan Abimana sudah melakukan itu semua."


"Bahkan aku pun tidak yakin taubat Abimana akan diterima."


"Tante, surat An Nisa ayat 17 menyebutkan "Sesungguhnya taubat di sisi Allah hanyalah taubat bagi orang-orang yang mengerjakan kejahatan lantaran kejahilan, yang kemudian mereka bertaubat dengan segera, maka mereka itulah yang diterima Allah taubatnya, dan Allah Maha mengetahui lagi Maha bijaksana. Kita sebagai sesama manusia tidak berhak menghakimi orang lain apalagi pada manusia yang sudah bertaubat." Karena bisa jadi bukan dia tapi kita yang sesungguhnya telah melakukan dosa karena terus menerus berpikiran buruk pada orang yang melakukan pertaubatan."


"Kau pintar sekali berbicara untuk menutupi kejahatan Abimana padahal kejahatan Abimana sudah begitu besar."


"Saya tidak menutupi kejahatan Abimana tante, saya hanya mengatakan apa yang saya tahu dalam agama saya. Sekarang saya tanya pada tante bagaimana menurut tante jika seorang manusia yang melakukan dosa kecil tapi tidak pernah bertaubat? Sedangkan ada manusia yang melakukan kejahatan tapi sudah bertaubat?"


Vera pun terdiam. "Bukankah tetap akan lebih baik manusia yang sudah melakukan pertaubatan? Itupun yang terjadi pada kita, tanpa kita sadari kita bisa saja melakukan dosa kecil jika terus berprasangka buruk pada Abimana. Prasangka buruk yang tidak pernah ada habisnya itu adalah sebuah dosa, lalu bagaimana jika kita tidak pernah bertaubat pada prasangka kita ataupun hanya sekedar mengucapkan kata istighfar, bukankah kita termasuk golongan manusia yang tidak pernah bertaubat atas kesalahan kita?"


Vera pun hanya terdiam, perlahan Amanda pun mendekat pada Vera. "Mama, benar apa yang dikatakan oleh Inara, kita tidak berhak menghakimi orang yang sudah bertaubat apalagi merasa diri kita lebih suci dari seorang pendosa. Setiap manusia pernah melakukan kesalahan, hanya kesalahan yang dilakukan oleh setiap manusia itu berbeda-beda. Jika kita melakukan peninjauan kembali, bukan berarti Abimana bisa bebas tapi setidaknya Abimana masih diberikan kesempatan untuk hidup dan memperbaiki kesalahan yang telah diperbuat olehnya."

__ADS_1


Rayhan pun ikut mendekat pada Vera. "Apa mama tahu, hukuman yang paling berat di dunia bukanlah hukuman negara tapi sangsi sosial. Saat Abimana hidup di dunia, sangsi sosial yang akan diterima olehnya pasti akan terasa berat, itulah pelajaran terbaik bagi Abimana."


Vera pun terdiam kemudian menghembuskan nafas panjangnya sambil memejamkan matanya. "Baik, lakukanlah apa yang kau inginkan Inara, tapi bagaimanapun juga sampai saat ini tante belum bisa memaafkan Abimana."


"Tidak apa-apa tante, itu hanyalah masalah waktu. Kami tetap akan menunggu sampai pintu dari tante terbuka."


"Jadi kau mencintai putraku?"


Mendengar perkataan Vera, Inara pun terdiam dan tampak sedikit salah tingkah.


"Kau mencintai putraku?"


"Apa kau siap dengan resiko yang akan kau tanggung? Bagaimana jika putraku menghabiskan sisa umurnya di dalam penjara?"


Inara pun tersenyum. "Aku akan tetap mendampinginya."


"Kau sungguh wanita yang sangat naif."


"Dan bodoh? Itu yang akan tante katakan?"


"Sangat bodoh karena telah jatuh cinta pada laki-laki seperti Abimana."

__ADS_1


"Iya tante, saya memang sangat naif dan bodoh, inilah alasannya saya melakukan semua ini. Karena kebodohan saya, saya mau menjalani hidup saya dengan mendampingi Abimana, tapi hanya itu yang bisa saya lakukan. Saya memang wanita yang kurang beruntung dalam percintaan dan Abimana adalah laki-laki terakhir yang saya cintai, karena itulah saya berusaha memperjuangkan cinta yang saya miliki untuknya. Hidup mendampinginya saja sudah membuat saya sangat bahagia," jawab Inara sambil tersenyum kecut.


"Sayangnya Abimana terlambat bertemu denganmu, jika saja kalian bertemu lebih cepat mungkin dia tidak akan pernah bertemu dengan wanita seperti Ghea yang sudah merusak hidupnya."


"Pasti Tuhan memiliki alasan baru mempertemukan kami saat ini. Jika kami bertemu lebih cepat, bisa saja Abimana tidak pernah tertarik dengan saya karena saya bukanlah tipe wanita yang disukai Abimana saat itu."


Inara pun kini terlihat salah tingkah, apalagi Vera mulai menatap Inara. "Terimakasih banyak karena sudah mencintai putraku, hanya wanita hebat dan luar biasa yang mampu mencintai seorang laki-laki yang sedang berada dalam titik terendah dalam hidupnya, bahkan kau mau menerima dengan lapang dada kondisi Abimana saat ini."


Inara pun mengangguk. "Aku titip putraku padamu, tolong kau tuntun dan bimbing dia, semoga dia bisa memperbaiki kesalahannya dan menjadi pribadi yang lebih baik lagi."


"Apakah tante sudah mulai memaafkannya?"


"Belum, sampai aku mati aku tidak akan memaafkan Abimana," ucap Vera sambil berjalan meninggalkan mereka. Inara kemudian memandang Amanda.


"Tidak apa-apa, nanti biar aku saja yang berbicara dengan mama."


"Terimakasih Amanda, aku pamit dulu. Aku akan memberitahukan hal ini terlebih dulu pada Abimana."


"Iya, hati-hati di jalan Inara," ucap Amanda dan Rayhan bersamaan.


"Wanita bodoh," gerutu Rayhan saat Inara sudah keluar dari rumah mereka.

__ADS_1


__ADS_2