
Inara kemudian menjatuhkan tubuhnya ke atas lantai. "Aku harus bagaimana? Kenapa kebohongan yang kulakukan kini menjadi bumerang bagiku? Kupikir setelah aku kembali bersama Mas Rayhan, aku bisa hamil untuk menutupi semua kebohonganku, tapi ternyata semuanya berjalan tidak sesuai dengan rencana. Sekarang aku harus bagaimana? Bagaimana jika Mas Rayhan semakin curiga dengan kebohonganku?"
Inara kemudian memejamkan matanya.
"Aku punya ide, mungkin aku harus melakukan itu sekarang." kata Inara sambil tersenyum menyeringai.
🏡🏡🏡
Abimana tersenyum di sela isak tangis pura-puranya saat melihat Rayhan yang kini berjalan masuk ke rumah duka.
'Pengacara bodoh itu pasti kini bertekuk lutut padaku, sekarang dia tidak akan bisa meminta tes DNA pada Sharen karena jenazah Amanda pun hangus terbakar dan menyisakan sebongkah daging saja, sedangkan yang orang tahu Sharen adalah putri kandung kami berdua. Hahahaha.' gumam Abimana sambil tersenyum menyeringai.
Sedangkan Rayhan yang kini berdiri di depan peti jenazah sesekali melirik pada Abimana yang sedang menatapnya sambil tersenyum. 'Abimana, kau boleh merasa menang sekarang tapi tunggu beberapa bulan lagi. Kau akan merasakan pembalasan yang sebenarnya, kupikir kau pintar tapi ternyata kau benar-benar bodoh, kau percaya saja pada batang pohon yang kuletakkan di dalam mobil dan benar-benar menyangka jika itu adalah bagian tubuh Amanda.' gumam Rayhan sambil memperlihatkan raut wajah sedihnya.
Rayhan kemudian mendekat ke arah Vera.
"Selamat pagi tante."
"Selamat pagi, Rayhan."
"Saya turut berduka cita."
"Iya Rayhan, saya ucapkan terimakasih sudah menyempatkan waktumu untuk mendatangi pemakaman Amanda."
"Iya Tante, tentu saja karena Amanda adalah klien saya."
"Iya Rayhan, terimakasih sudah menjadi pengacara yang baik bagi Amanda satu bulan terakhir ini."
"Iya tante, tapi maaf saya tidak bisa berlama-lama disini, ada beberapa pekerjaan yang harus saya kerjakan."
"Iya Rayhan."
"Saya permisi."
"Iya hati-hati di jalan."
Rayhan kemudian mengangguk sambil tersenyum lalu melangkahkan kakinya keluar dari rumah duka. Saat masih berjalan di halaman rumah itu, tiba-tiba sebuah suara mengagetkannya.
"TUNGGU SEBENTAR!"
__ADS_1
Rayhan pun membalikkan badannya.
Tampak Abimana kini berdiri di belakangnya sambil tersenyum.
"Tunggu sebentar pengacara bodoh."
"Ada apa Abimana?"
"Ada apa kau bilang? Apa kau buta sampai bertanya seperti itu padaku?"
"Apa maksudmu? Aku benar-benar tidak mengerti."
"Memangnya kau datang ke sini untuk apa?"
"Untuk menghadiri pemakaman Amanda, memangnya kenapa?"
"Artinya Amanda sudah meninggal kan?"
"Ya, dia memang sudah meninggal meskipun dalam keadaan tidak wajar."
"Apa maksudmu tidak wajar? Apakah kau tidak melihat luka di sekujur tubuhku? Kami mengalami kecelakaan yang begitu parah!!"
"Warisan Amanda pada Sharen putriku. Jenazah Amanda hangus terbakar dan tidak memungkinkan untuk melakukan tes DNA, bukankah itu artinya kau tidak perlu meminta hasil tes DNA padaku sebagai syarat membalik nama perusahaan Amanda pada Sharen."
Rayhan pun kemudian tersenyum.
"Kenapa kau malah tersenyum?"
"Abimana, tidak bisakah kau mengendalikan dirimu untuk tidak membicarakan warisan terlebih dulu, ini masih dalam suasana duka cita, Abimana. Tidak pantas kau mengungkit warisan di saat seperti ini."
"Dasar BEDEBAH kau, Rayhan! Sebaiknya kau tidak usah mengaturku! Aku hanya menuntut hak yang seharusnya menjadi milik putriku yang selalu kalian jegal!"
"Kau tenang saja, Abimana. Aku pasti akan segera mengurusnya."
"Benarkah?"
"Ya, tentu saja. Aku akan mengurus balik nama perusahaan milik Amanda menjadi nama anaknya."
"Kau tidak berbohong padaku kan? Kau akan segera mengurusnya secepatnya?"
__ADS_1
"Ya, tentu saja. Aku berjanji padamu, aku pasti akan membalik nama perusahaan itu menjadi milik anak dari Amanda, tapi beri aku waktu."
"Waktu?"
"Ya, saat ini anak Amanda masih sangat kecil. Tidak semudah itu mengurus pergantian kepemilikan perusahaan dalam tempo waktu yang cepat."
"Berapa lama?"
"Beri aku waktu selama enam bulan."
"Enam bulan?"
"Ya."
"Baiklah kau akan kuberi waktu selama enam bulan."
"Terimakasih Abimana, aku permisi pulang, ada urusan yang harus kukerjakan."
"Baik, tapi tolong tepati janjimu kalau tidak maka kau akan kuhabisi!"
"Kau tenang saja Abimana, aku pasti akan menepati janjiku."
"Bagus, semoga kita benar-benar bisa bekerjasama dengan baik."
Rayhan lalu tersenyum kemudian membalikkan tubuhnya meninggalkan Abimana.
"Akhirnya kau bertekuk lutut juga padaku, pengacara bodoh. Hahahahahahahaha."
Sementara Rayhan yang sedang berjalan menuju mobilnya kini berpapasan dengan Firman dan Vallen.
"Kutunggu kalian di rumah sakit." bisik Rayhan saat berpapasan.
Firman dan Vallen pun hanya menganggukkan kepalanya sambil terus berjalan.
NOTE :
Khusus yang belum pernah baca Salah Kamar, author ceritakan sedikit ya di sini tentang hubungan Rayhan dan Inara. Sebenarnya Rayhan sudah pernah menalak Inara, bahkan memutuskan komunikasi dengan Inara dan keluarganya karena sudah tidak mau berhubungan dengan Inara dan berniat pergi ke London selamanya, salah satunya untuk menghindari Inara, tapi Inara mendatangi Vallen dan meminta tolong pada Vallen agar Rayhan mengurungkan niatnya untuk menceraikan Inara karena Inara sedang hamil, yang ternyata hamil palsu. Jadi Rayhan menerima Inara kembali atas permintaan Vallen, dan pertimbangan berbakti pada orang tuanya. Perut palsu yang saya maksud itu bentuknya silikon bukan bantal jadi memang seperti perut asli. Kenapa Rayhan belum curiga? Karena waktu Rayhan kan selalu tersita untuk mengurus Amanda sampai Inara cemburu, suatu saat juga kebohongan Inara terungkap, tunggu alurnya saja, kalau diungkap sekarang kurang seru karena apa? Konflik batin antara Rayhan dan Amanda juga belum tercipta, belum ada chemistry yang dalam diantara keduanya kalau kata aku nanti kurang hot 🔥🤭, seorang penulis pasti punya keputusan pemilihan alur yang tepat untuk memecahkan sebuah masalah, jadi ikuti saja alurnya.
Maaf kalau curhatnya kepanjangan 🤭🙏
__ADS_1