Aku Belum Mati, Suamiku

Aku Belum Mati, Suamiku
Skenario


__ADS_3

Rayhan kemudian menyadari jika Amanda melepaskan genggaman tangannya. Dia kemudian membalikkan tubuhnya lalu menatap Amanda dan menyadari jika ada air mata yang membasahi wajahnya.


"Astaga kau bisa menangis, Amanda?"


Rayhan kemudian mengusap kasar wajahnya.


"Amanda, apa kau merasa sedih?" tanya Rayhan. Namun Amanda hanya diam, dia kemudian menggenggam tangan Amanda kembali tapi tidak ada respon dari tangan Amanda.


Rayhan kemudian melihat arlojinya. 'Astaga, sebentar lagi aku harus menghadiri rapat di perusahaan milik Amanda, aku harus pergi secepatnya sebelum terlambat.' gumam Rayhan. Dia kemudian memandang Amanda.


"Amanda, maafkan aku. Sepertinya hari ini aku tidak bisa terlalu lama menemanimu, ada urusan yang harus kukerjakan di kantor, tapi kau tenang saja, nanti sore sebelum pulang ke rumah aku akan datang ke sini lagi." kata Rayhan kemudian melepaskan genggamannya dari tangan Amanda. Dengan sedikit tergesa-gesa Rayhan kemudian keluar dari ruang perawatan Amanda.


🏡🏡🏡🏡🏡


Setelah keluar dari kamar perawatan Amanda, Vallen bergegas melangkahkan kakinya ke toilet yang ada di dekat ruangan kerjanya. Vallen kemudian mencuci mukanya lalu menatap wajahnya yang ada di cermin.


"Kenapa aku harus bertemu dengan Rayhan lagi? Ah itu sebenarnya tidak terlalu penting, aku sudah tidak memiliki perasaan apapun padanya, hanya saja ini pasti sedikit membuatku merasa tidak nyaman karena kami pasti akan sering bertemu. Huftttt."


Vallen kemudian menghembuskan nafas panjangnya. Dia lalu tampak berfikir. "Bukankah tadi Rayhan mengatakan jika di kantor banyak karyawan wanita yang menyukai Firman? Kenapa dia tidak pernah menceritakan padaku tentang hal ini? Ini tidak bisa dibiarkan, aku harus segera bertindak, akan kutunjukkan pada semua karyawan wanita yang ada di kantor Firman jika dia sudah memiliki istri yang sangat cantik." kata Vallen saat menatap wajahnya di cermin dengan senyum nakalnya sambil merapikan riasan di wajahnya. Setelah merapikan penampilannya kembali, Vallen lalu keluar dari toilet, di saat itulah Dokter Anwar berjalan di depannya.


"Ada Dokter Anwar." kata Vallen sambil tersenyum menyeringai. Dia kemudian berjalan mendekat ke arah Dokter Anwar.


"Selamat pagi, Dokter Anwar, jadi anda sudah selesai cuti?"


"Selamat pagi Dokter Vallen. Ya, saya sudah selesai cuti dan hari ini hari pertama saya bekerja setelah saya mengambil cuti."


"Sepertinya anda begitu bersemangat dan terlihat begitu cantik hari ini."


"Oh tentu saja, semua orang selalu mengatakan aku sangat cantik."


Dokter Anwar pun tersenyum mendengar perkataan Vallen. "Anda sangat berbeda dengan kakak anda."

__ADS_1


"Tentu saja, dia laki-laki yang serius dan membosankan, tidak seperti diriku yang sangat menyenangkan."


Anwar pun mengangguk sambil tersenyum.


"Jadi anda pun menyadarinya? Kakakku memang sangat membosankan, apa anda tahu Dokter Anwar, meskipun sudah memiliki jabatan sebagai direktur di rumah sakit ini, dia masih saja mau menangani pasien padahal itu bukan tugasnya lagi kan? Apa anda tahu dokter jika kakakku juga memberikan tanggung jawab padaku untuk menjaga pasien tersebut."


"Bukankah anda dokter spesialis kandungan? Kenapa anda juga ikut bertanggung jawab pada pasien dokter David?"


"Oh itu karena pasien kakakku saat itu juga sedang hamil jadi aku ikut bertanggung jawab, tapi saat ini dia sudah melahirkan dan dalam penanganan intensif."


"Jadi pasien itu menderita penyakit jantung dan sedang hamil?" tanya Dokter Anwar.


"Ya."


"E.. E.. Do.. Dokter Vallen, jika aku boleh tahu siapa nama pasien tersebut?"


"Nama pasien tersebut adalah AMANDA." jawab Vallen sambil tersenyum menyeringai disertai penekanan pada nama Amanda. Mendengar perkataan Vallen, Anwar pun kini tampak begitu gugup.


"Ya, bukankah anda mengenalnya? Dia adalah pasien anda kan?"


Keringat dingin pun mulai keluar dari tubuh Anwar. Vallen yang melihatnya pun hanya bisa tersenyum.


"Kenapa anda terlihat gugup Dokter Anwar?"


"Oh tidak apa-apa, saya harus pergi ke ruangan saya karena saya sudah memiliki janji dengan salah satu pasien saya." jawab Anwar kemudian mulai berjalan meninggalkan Vallen. Namun di saat itu juga tiba-tiba Vallen kembali memanggil Anwar.


"Dokter Anwar, bagaimana dengan ini." kata Vallen sambil memperlihatkan sebuah kertas yang berisi hasil tes laboratorium.


"Aa.. Aa..Apa itu Dokter Vallen?"


"Tidak usah berpura-pura Dokter Anwar." jawab Vallen sambil mendekat padanya dan tersenyum menyeringai.

__ADS_1


"Do.. Dokter Vallen, tolong maafkan saya. Maafkan saya dokter Vallen."


"Maaf?"


"Anda salah alamat jika anda meminta maaf padaku."


"Aa..Apa Dokter David tahu semua ini?"


"Kenapa? Anda takut jika kakakku mengetahuinya?"


"Dokter Vallen, tolong katakan pada kakak anda, tolong jangan pecat saya dari rumah sakit ini."


"Anda lebih takut dipecat dari rumah sakit ini daripada membahayakan nyawa pasien anda? Anda benar-benar tidak punya hati Dokter Anwar. Apa anda tidak sadar jika karena perbuatan anda telah membahayakan nyawa seorang pasien? Dimana hati nurani anda dokter?"


"Maaf, saya khilaf."


"Enak sekali anda berkata seperti itu setelah semua kejahatan yang telah anda lakukan selama bertahun-tahun."


"Lalu saya harus bagaimana? Saya tidak ingin dipenjara, saya juga membutuhkan pekerjaan ini dokter."


"Jika anda ingin selamat, temui pengacara Amanda nanti sore, dan jangan pernah katakan apapun pada Abimana."


"Ba.. Baik Dokter Vallen."


🏡🏡🏡🏡🏡


Abimana berjalan ke ruang rapat, namun betapa terkejutnya dirinya saat melihat Rayhan yang sudah ada di kantornya.


"Rayhan?" kata Abimana saat melihat Rayhan yang berjalan dengan begitu tergesa-gesa masuk ke dalam ruang rapat.


'Brengsek!!! Ada apa lagi ini! Skenario apalagi yang akan mereka lakukan padaku! Mereka semua benar-benar brengsek!!!' umpat Abimana di dalam hati.

__ADS_1


__ADS_2