Aku Belum Mati, Suamiku

Aku Belum Mati, Suamiku
Kejutan


__ADS_3

"Heiiii kenapa kau memukulku, Rayhan? DASAR BRE*GSEK!!" umpat Abimana kemudian berjalan mendekat pada Rayhan dan bersiap untuk menghajarnya.


"Sebelum kau semakin membuat keributan di sini lebih baik kau pulang saja, Abimana! Atau aku akan membatalkan balik nama perusahaan milik Amanda menjadi milik anakmu sekarang juga!"


"KAU BENAR-BENAR BRE*GSEK!!"


"Silahkan berkata sesukamu karena aku masih memiliki kuasa untuk melakukan apapun, aku masih memiliki waktu selama dua bulan, apapun bisa terjadi selama dua bulan termasuk membatalkan balik nama perusahaan tersebut, ataupun meminta tes DNA pada Sharen dan istri barumu, apa kau mengerti? Jika kau mengerti, CEPAT PERGI DARI SINI!!"


"DASAR KURANG AJAR, BEDEBAH KAU RAYHAN!!" bentak Abimana kemudian keluar dari apartemen Rayhan. Rayhan kemudian berjalan mengikuti langkah Abimana lalu mengunci pintu rapat-rapat pintu apartemen itu. Saat dia baru saja membalikkan tubuhnya, tiba-tiba Amanda sudah menghambur ke pelukannya.


"Rayyy..." teriak Amanda sambil memeluk Rayhan dengan begitu kencang.


"Amanda, kau kenapa?" tanya Rayhan melihat Amanda yang kini mulai menangis dalam pelukannya.


"Rayhan, aku mencintaimu, jangan pernah tinggalkan aku,"


Rayhan lalu tersenyum. "Iya tentu saja, kenapa tiba-tiba kau berubah seperti ini? Apa karena kau baru bertemu dengan Abimana?"


Amanda lalu menggelengkan kepalanya.


"Bukan, sebenarnya kemarin aku juga sempat bertemu dengan Abimana saat berbelanja dengan Vallen."


"Lalu, apa Abimana melihatmu?"


"Ya, aku bahkan sempat mengobrol dengannya."


"Mengobrol?" tanya Rayhan sambil mengerutkan keningnya.


"Ya, saat melihat Abimana, Vallen berinisiatif untuk mengerjainya."


"Jadi kau dan Vallen mengerjai Abimana?"


"Ya, aku mencoba mengalihkan perhatian Abimana lalu Vallen memberikan obat pemacu kontraksi di minuman milik Abimana," kata Amanda sambil terkekeh.


"Hahahaha, kalian berdua memang benar-benar nakal"


"Bukankah orang seperti Abimana memang pantas diberikan pelajaran?"


"Ya, dia pantas mendapatkan semua itu, semua yang kita lakukan baru pemanasan saja karena pembalasan yang sebenarnya akan kita lakukan dua bulan lagi, kau masih harus mempersiapkan dirimu," kata Rayhan kemudian melepaskan pelukannya pada Amanda.


"Kau sudah tidak marah padaku lagi kan?"


Amanda lalu menggelengkan kepalanya.


"Terimakasih,"


Amanda kemudian tersenyum sambil menatap Rayhan dengan begitu dalam, lalu dia mendekatkan wajahnya pada wajah Rayhan.


CUP


Sebuah kecupan pun menempel di bibir Rayhan.


"Tanggung sekali,"


"Tanggung?"


"Ya, karena harusnya seperti ini," ucap Rayhan kemudian mencium bibir Amanda dengan begitu bergairah.

__ADS_1


"Aku mencintaimu." kata Rayhan di sela ciuman mereka.


"Aku juga,"


❣️ Dua bulan kemudian ❣️


"Rayhan, kita mau kemana?" tanya Amanda saat dalam perjalanan.


"Nanti kau juga tahu," jawab Rayhan sambil tersenyum.


"Kau benar-benar membuatku penasaran." gerutu Amanda, namun Rayhan tetap tidak menjawab, hanya sebuah senyuman yang menghiasi bibirnya. Beberapa saat kemudian, mereka pun sudah sampai di sebuah rumah mewah.


"Ini rumah siapa Ray?"


"Nanti kau juga tahu. Ayo kita turun."


Mereka kemudian turun dari mobil lalu memencet bel di rumah tersebut. Tak berselang lama, seorang asisten rumah tangga pun membukakan pintu rumah itu.


"Permisi, saya mau bertemu dengan Leo dan Calista."


"Oh ya, silahkan. Mereka sudah menunggu di dalam, silahkan masuk," Rayhan dan Amanda lalu berjalan masuk mengikuti asisten rumah tangga tersebut.


"Ray, siapa itu Leo dan Calista?"


"Teman Kak David."


"Lalu ada urusan apa kita dengan mereka?"


"Nanti kau juga tahu jawabannya, sayang." kata Rayhan sambil tersenyum.


"Itu Leo dan Calista, mereka teman Kak David, tanpa kau tahu, mereka juga telah menolongmu, Amanda."


"Menolongku?"


"Ya."


"Tapi aku tidak mengenal mereka bahkan aku baru pertama kali berjumpa dengan mereka,"


Rayhan hanya tersenyum karena saat ini mereka sudah berdiri di depan Leo dan Calista.


"Kak Leo dan Kak Calista, perkenalkan saya Rayhan, dan ini Amanda."


"Oh iya Rayhan dan Amanda, senang bisa bertemu dengan kalian, kami sudah menunggumu."


"Senang bisa bertemu denganmu, Amanda. Akhirnya kita bisa bertemu, apa sekarang kau sudah sembuh?" tanya wanita itu ramah.


"Iya Kak, saya sudah sembuh."


Tiba-tiba mata Amanda tertuju pada seorang bayi laki-laki yang sedang ada di dalam gendongan Calista. Bayi tersebut pun menatap Amanda dengan tatapan begitu dalam.


'Bayi ini, kenapa tiba-tiba hatiku bergetar saat aku melihatnya, aku bahkan tidak bisa mengendalikan perasaanku saat melihatnya.' gumam Amanda sambil menatap bayi itu.


"Kak Calista, bayi anda lucu sekali," kata Amanda sambil menatap bayi yang ada di dalam gendongan Calista.


Mendengar perkataan Amanda, Calista pun tersenyum.


"Iya, bayi ini memang sangat lucu tapi sayangnya dia bukanlah putraku,"

__ADS_1


"Bukan putra anda?" tanya Amanda sambil mengerutkan keningnya.


"Ya, dia bukan putraku, tapi putramu Amanda," kata Calista sambil tersenyum. Mendengar perkataan Calista, perasaan Amanda pun begitu campur aduk, dia kemudian menatap Calista yang kini sedang mengangguk sambil tersenyum.


"Dia putramu, Kenzo." kata Calista sambil memberikan bayi itu pada Amanda. Tubuh Amanda kini pun terasa bergetar menahan perasaan yang begitu berkecamuk di dalam dadanya, dia kemudian memeluk Kenzo yang kini ada di dalam gendongannya sambil menangis dan menciumnya berkali-kali.


"Putraku, akhirnya mama bisa bertemu denganmu, Nak. Mama sangat merindukanmu," kata Amanda sambil memeluk Kenzo kian kencang, air mata pun kian deras membasahi wajahnya. Rayhan lalu mendekap tubuh Amanda.


"Rayhan, terimaksih, terimakasih karena kau telah mempertemukanku dengan putraku."


"Ya, aku kan sudah berjanji akan mempertemukan kalian saat waktunya sudah tiba, dan sekarang waktunya sudah tepat kau harus bertemu dengan putramu sebelum kau balas dendam pada Abimana."


"Iya Ray, terimakasih banyak."


"Ya."


Amanda lalu memandang pada Leo dan Calista yang ada di depannya sambil menatapnya dengan tersenyum.


"Terimakasih banyak Kak Leo dan Kak Calista, kalian baik sekali mau merawat anak yang bukan darah daging kalian, lalu bagaimana aku bisa membalas semua kebaikan kalian?"


"Kau tenang saja, Amanda itu tidak perlu kau pikirkan. Kami senang bisa membantumu, aku benar-benar tidak habis pikir ada laki-laki seperti mantan suamimu itu yang tega membuang anak kandungnya sendiri, benar-benar laki-laki biadab! Saat David memberitahukan tentang keadaanmu padaku, tentunya aku dengan senang hati menolongmu karena aku sangat membenci perbuatan hina seperti yang dilakukan oleh mantan suamimu itu, rasanya aku benar-benar ingin menghajar habis-habisan laki-laki seperti dirinya."


"Ya, dia memang benar-benar biadab dan tidak memiliki perasaan, kami pun akan membalas perbuatan Abimana secepatnya, dan kupikir waktunya sekarang sudah tepat, karena itulah aku mempertemukan Amanda dengan putranya sebelum kami melakukan balas dendam beberapa hari lagi."


"Ya, kau juga tidak usah sungkan jika memerlukan bantuanku, Rayhan."


"Iya Kak Leo, terimakasih banyak."


"Ya."


"Sekali lagi terimakasih banyak karena kalian telah merawat putraku dengan sangat baik dan penuh kasih sayang, kebaikan kalian benar-benar tidak ternilai bagiku."


"Sudahlah Amanda tidak usah dipikirkan, yang terpenting sekarang kau rawat putramu dengan baik, lalu lakukan apa yang menjadi rencanamu pada laki-laki baji*gan itu, semoga rencana kalian berhasil."


"Iya Kak."


Setelah satu jam lamanya di rumah Leo, Amanda dan Rayhan lalu pulang dengan membawa Kenzo yang sekarang ada di dalam gendongan Amanda.


"Apa kau bahagia sayang?"


"Tentu saja, aku sangat bahagia," jawab Amanda sambil menciumi Kenzo.


Rayhan lalu tersenyum.


"Hai, kita mau kemana Ray? Ini bukan jalan pulang ke apartemen."


"Masih ada satu kejutan lagi untukmu." kata Rayhan. Amanda pun hanya bisa mengerutkan keningnya. Hingga akhirnya mereka pun sampai di sebuah rumah makan dengan konsep taman.


"Ayo turun."


Amanda lalu mengikuti Rayhan turun dari mobil, kemudian mereka berjalan ke arah taman yang ada di rumah makan tersebut, tiba-tiba mata Amanda tertuju pada sebuah tulisan dengan menggunakan rangkaian bunga.


"Will you marry me, Amanda?"


NOTE:


Cerita suka² othor, yang ga suka SKIP! yang masih mau baca jangan lupa tinggalin jejak, komen yang rame ya. Love you dear 🥰❤️

__ADS_1


__ADS_2