Aku Belum Mati, Suamiku

Aku Belum Mati, Suamiku
Sweet Memories


__ADS_3

"Amanda, kita tinggal satu lantai dengan Firman dan Vallen, ini untuk menghindari agar kau tidak terlalu lama keluar dari apartemen jika membutuhkan bantuan mereka," kata Rayhan saat mereka berjalan keluar dari lift. Amanda pun menganggukkan kepalanya.


CEKLEK


Rayhan membuka pintu apartemennya. "Ayo masuk, Amanda."


"Iya."


Mereka kemudian masuk ke dalam apartemen tersebut. Rayhan lalu membawa barang-barang Amanda ke sebuah kamar yang ada di pojok apartemen tersebut.


"Aku sudah menaruh barang-barangmu di kamar, beristirahatlah."


"Aku belum mengantuk, aku mau lihat pemandangan malam dulu. Aku sudah lama tidak menikmati pemandangan malam."


"Ya, silahkan."


Amanda lalu berjalan ke arah balkon apartemen, hingga beberapa saat kemudian, Rayhan pun kemudian mendekat padanya. Namun saat berdiri di samping Amanda, Rayhan begitu terkejut melihat Amanda yang sedang terisak.


"Kau kenapa, Amanda? Kenapa kau menangis?"


"Aku tidak apa-apa."


"Apa kau butuh tempat untuk bersandar?"


"Tempat bersandar?" tanya Amanda sambil mengerutkan keningnya.


"Bukankah kita teman? Jika kau butuh teman untuk berbicara katakan saja keluh kesahmu, aku akan menjadi pendengar yang baik untukmu, jika kau membutuhkan tempat untuk bersandar, kau bisa meme..."


Belum sempat Rayhan menyelesaikan kata-katanya, tiba-tiba Amanda sudah memeluknya lalu menangis di atas dadanya dengan begitu terisak. Rayhan pun balas memeluknya.


'Putri tidurku, jangan pernah menangis lagi, aku pun ikut terluka jika kau menangis.' gumam Rayhan sambil mencoba membelai rambut Amanda, namun dia mengurungkan niatnya.


"Itu kata-kataku, mengapa kau menirukan kata-kataku?" ucap Amanda beberapa saat kemudian di sela isak tangisnya.


"Bukankah aku temanmu? Aku berhak menirukan kata-kata temanku," jawab Rayhan yang membuat Amanda tersenyum.

__ADS_1


"Kenapa kau menangis? Kupikir kau sedang baik-baik saja. Apa kau menangis karena takut tinggal satu apartemen denganku?"


Amanda lalu melepaskan pelukannya pada Rayhan.


"Aku hanya sedang memikirkan putraku, aku sangat merindukannya bahkan aku belum pernah melihat wajahnya sejak aku melahirkannya. Dan kini saat aku sudah sembuh dan keluar dari rumah sakit, aku juga belum bisa bertemu dengan dirinya."


"Aku tahu, rasanya pasti sangat sakit tapi kau harus bersabar, Amanda. Suatu saat kau pasti akan bertemu dengan putramu, untuk saat ini kau harus berjuang terlebih dulu agar bisa menjalani kehidupan yang bahagia bersama dengannya dan dengan mamamu. Maaf untuk saat ini aku belum bisa mempertemukanmu dengan putramu, selain mengingat faktor keselamatan bagi kalian berdua, aku juga tidak ingin konsentrasimu pecah dan tercurah hanya pada putramu, tapi aku janji jika dalam beberapa bulan kedepan kau sudah memiliki kemajuan, aku akan segera mempertemukanmu dengan putramu. Kau mengerti kan, Amanda?"


"Iya Rayhan, aku mengerti, aku tahu itu. Aku juga tidak ingin kesibukanku yang akan kujalani beberapa bulan terakhir akan menggangu putraku jika aku memaksakan untuk tinggal bersamanya."


"Bagus jika kau menyadarinya, aku hanya ingin yang terbaik untuk kalian berdua."


"Iya Ray, aku tahu itu untuk kebaikan kami berdua, semua kejadian yang kualami benar-benar diluar dugaanku, kupikir Abimana sangat menyayangiku, sejak kecil kami tinggal bersama, dia bagaikan pelindung bagiku, dia tidak pernah membiarkan aku menangis, dia tidak pernah membiarkan aku terluka, aku benar-benar tidak menyangka, ternyata semua itu hanyalah topeng."


"Karena itulah dulu kau sangat mencintainya?"


"Ya, dulu aku sangat mencintainya karena itulah aku tidak pernah curiga padanya, kupikir semua yang dia lakukan adalah untuk kebaikanku. Tidak sedikitpun terlintas dalam pikiranku jika dokter yang selalu kukunjungi setiap bulan sudah berkonspirasi dengan Abimana untuk membunuhku secara perlahan, aku juga tidak pernah curiga meskipun setiap hari kondisiku semakin memburuk."


"Tuhan sangat menyayangimu, Amanda. Dia menyelamatkanmu dan mempertemukanmu dengan orang-orang yang tepat. Kau harus bersyukur masih diberikan kesempatan dan keselamatan untuk menjalani hidup ini."


"Amanda, setiap orang mengalami proses dalam hidup, begitu pula dirimu, dari semua hal yang kau alami, kau juga harus berproses dari wanita lemah menjadi wanita yang tangguh. Kau mengerti kan? Dan kami semua akan membantumu."


"Ya, aku tahu itu, aku akan berusaha semaksimal mungkin untuk merubah diriku."


"Ya, kita mulai besok. Belajarlah dengan baik pada Firman, lalu tiga bulan kemudian setelah kau dinyatakan sembuh seratus persen oleh Kak David, kau boleh keluar rumah bersama Vallen."


"Bersama Vallen? Untuk apa Ray?"


Rayhan lalu memegang bahu Amanda. "Rubahlah penampilanmu Amanda, maaf bukannya aku terlalu mengaturmu tapi aku hanya ingin kau terlihat berbeda dari sebelumnya."


"Maksudmu agar aku terlihat cantik dan menarik seperti Dokter Vallen?"


"Bisa dibilang seperti itu, kau harus terlihat berbeda Amanda. Kau harus menampilkan sosok yang bertolak belakang dengan Amanda yang dulu, apa kau mengerti?"


"Ya, aku mengerti. Cantik seperti Dokter Vallen, bukan begitu Ray? Vallen adalah wanita yang sangat cantik."

__ADS_1


Mendengar perkataan Amanda, Rayhan pun terlihat gugup.


"Benar kan yang kukatakan? Terlihat cantik seperti Dokter Vallen?"


"Oh.. E.. Ya."


"Kenapa saat aku mengatakan jika Dokter Vallen sangat cantik tiba-tiba kau merasa sangat gugup, Ray?"


"Oh tidak apa-apa. Semua wanita cantik, Amanda. Bukan hanya Vallen, tapi kau juga sangat cantik. Lebih baik sekarang kau tidur, beristirahatlah."


"Baik," jawab Amanda lalu mulai berjalan ke kamarnya.


"Amanda," panggil Rayhan saat Amanda baru berjalan beberapa langkah. Amanda lalu membalikkan tubuhnya kembali.


"Di dalam kamarmu, di laci nakas ada beberapa buku-buku dan kertas yang sudah kupersiapkan untuk besok, kau bisa menggunakan buku-buku itu."


"Baik."


"Tapi tolong kau jangan membuka laci bagian bawah karena isinya adalah barang-barangku dulu yang belum sempat kubuang, mungkin akan kubuang besok."


"Iya Rayhan, aku ke kamar dulu."


"Ya."


Amanda lalu berjalan meninggalkan Rayhan yang masih berdiri di atas balkon apartemen. Dia kemudian masuk ke kamarnya lalu merebahkan tubuhnya di atas ranjang dan mencoba memejamkan matanya. Namun hingga hampir satu jam lamanya, matanya tak kunjung terpejam.


"Kenapa aku tidak bisa tidur?" gerutu Amanda kemudian duduk di atas ranjang, hingga akhirnya matanya tertuju pada pada nakas di samping ranjangnya. Perlahan, Amanda pun membuka laci bagian bawah.


"Buku-buku ini tebal sekali, ini pasti buku Rayhan saat kuliah di London dulu," kata Amanda lalu mengambil sebuah buku tebal yang ada di dalam laci tersebut, kemudian mulai melihat-lihat isinya. Hingga akhirnya dia sampai di bagian akhir buku tersebut lalu melihat sebuah foto.


"Astaga, bukankah ini Rayhan dan Dokter Vallen?" kata Amanda saat melihat foto tersebut. Tampak Rayhan dan Vallen sedang menaiki London Eye's dan tersenyum begitu bahagia, lalu Amanda membalik foto tersebut dan melihat sebuah tulisan.


"Sweet Memories with my soul."


'Astaga,' gumam Amanda, entah kenapa tiba-tiba hatinya terasa begitu sakit, dadanya pun begitu sesak hingga tanpa dia sadari air mata mulai menetes membasahi wajahnya.

__ADS_1


__ADS_2