
"Kau tertarik padaku?" tanya Abimana sambil mengerutkan keningnya.
"Ya, aku tertarik padamu karena kau orang yang baik."
"Bukankah sudah kukatakan jika aku adalah seorang pendosa?"
"Kau seorang pendosa di mata orang lain yang sudah kau sakiti tapi tidak di mataku. Di mataku kau adalah orang yang baik, itulah sebabnya aku mau menjadi temanmu. Lebih baik kau tidak usah banyak protes, sekarang cepat makan-makanan ini lalu kau minum obatnya. Apapun yang kau katakan, aku tetap akan menjadi temanmu sampai eksekusi kematianmu."
"Terimakasih."
"Ya sama-sama."
🍒🍒🍒
❣️ Dua minggu kemudian ❣️
Amanda bergegas mengambil ponselnya yang berbunyi.
"Dari siapa?" tanya Rayhan.
"Rumah sakit."
"Cepat kau angkat."
Amanda kemudian mengangguk lalu bergegas mengangkat panggilan itu. Rayhan pun mengamati Amanda yang kini menjawab telepon dengan begitu serius.
"Bagaimana?" tanya Rayhan saat Amanda selesai menjawab panggilan telepon itu.
"Kita sudah bisa menjemput Ghea sekarang."
"Bagus sekali, kita pergi ke rumah sakit sekarang?"
"Ya, jangan lupa kau sudah mempersiapkan semuanya kan?" tanya Amanda.
"Ya, semuanya sudah siap."
Mereka lalu bergegas pergi ke rumah sakit. Beberapa menit kemudian mereka pun sudah sampai di rumah sakit lalu pergi ke salah satu ruangan dokter yang menangani Ghea selama berada di rumah sakit jiwa tersebut.
__ADS_1
TOK TOK TOK
"Ya, silahkan masuk."
Amanda dan Rayhan lalu masuk ke dalam ruangan dokter tersebut.
"Permisi Dok, kami yang bertanggung jawab atas pasien yang bernama Ghea. Apakah dia sudah benar-benar sembuh?"
"Ya, dalam beberapa hari terakhir dia menunjukkan perkembangan yang cukup baik, hingga akhirnya kami melakukan tes terakhir pada kejiwaannya dan kami mengambil kesimpulan jika dia sudah tidak mengalami gangguan kejiwaan lagi."
"Syukurlah, jadi kami bisa membawanya pulang?"
"Oh tentu saja, silahkan. Ini surat keterangan dari saya," kata dokter tersebut sambil memberikan sebuah suara keterangan kesehatan Ghea.
"Terimakasih banyak dok, kami permisi."
"Ya."
Amanda dan Rayhan lalu keluar dari ruangan dokter tersebut sambil tersenyum.
"Sekarang Ghea sudah tidak bisa berpura-pura lagi, dan kita harus menjebloskan dia ke penjara sebelum dia membuat ulah lagi."
Mereka lalu berjalan ke kamar perawatan Ghea, sesampainya di kamar tersebut tampak Ghea sudah menunggu kedatangan mereka sambil duduk di atas tempat tidur dengan dandanan yang tampak begitu cantik.
"Lihat dia bahkan sudah bisa berdandan," bisik Amanda pada Rayhan.
"Ya, dasar manusia licik," jawab Rayhan.
"Kau sudah siap, Ghea?"
"Ya, tentu saja. Aku sudah siap Amanda, ayo kita pergi sekarang, aku sudah sangat muak dengan tempat ini."
"Ya, ayo kita pergi sekarang. Lalu bersenang-senanglah Ghea," ucap Amanda sambil melirik Rayhan yang sedang tersenyum kecut.
"Ya, ayo kita pergi sekarang," jawab Ghea kemudian berjalan keluar dari ruangannya.
Amanda dan Rayhan pun saling berpandangan sambil tersenyum menyeringai. Mereka kemudian berjalan di belakang Ghea.
__ADS_1
"Ayo cepat Amanda!" teriak Ghea saat sudah berada di samping mobil Rayhan. Amanda dan Rayhan lalu bergegas mempercepat langkah mereka.
"Kita mau pergi kemana?" tanya Amanda saat sudah berada di dalam mobil.
"Aku mau ke salon terlebih dulu, kau lihat sendiri kan bagaimana kulitku? Sangat kasar dan kusam. Tahukah kalian karena berpura-pura gila aku sampai jarang mandi agar penampilanku terlihat berantakan."
"Ya, dan sekarang kau harus mengganti waktumu yang telah hilang dengan bersenang-senang."
"Ya, tentu saja. Aku harus bersenang-senang," jawab Ghea sambil terkekeh.
Amanda kemudian mengambil sebuah minuman di dalam kantong plastik lalu memberikannya pada Ghea.
"Minumlah, kau pasti haus. Kau pasti sudah jarang minum minuman segar seperti ini saat berada di dalam rumah sakit kan?"
"Oh iya terimakasih," jawab Ghea kemudian mengambil minuman bubble drink yang diberikan oleh Amanda. Beberapa saat kemudian, Ghea pun mulai merebahkan kepalanya di atas jok mobil lalu beberapa saat kemudian dia pun tertidur. Melihat Ghea yang sudah tertidur, Amanda dan Rayhan pun tersenyum.
"Akhirnya kau masuk juga ke dalam jebakan kami, Ghea. Setelah kau bangun, kau akan mendapat kejutan dari kami, kejutan yang tidak kau bayangkan sebelumnya," ucap Amanda sambil tersenyum menyeringai.
Selang dua puluh menit kemudian, mereka pun sudah sampai di kantor polisi. Rayhan lalu keluar dari mobil kemudian memanggil beberapa orang polisi jaga yang ada di depan kantor polisi tersebut. Mereka lalu bergegas membawa tubuh Ghea masuk ke dalam kantor polisi lalu memasukkan dia ke dalam sebuah ruang tahanan yang ada di dalam kantor polisi tersebut. Seorang penyidik lalu mendekat ke arah Amanda dan Rayhan.
"Jadi dia istri dari Abimana?"
"Iya Pak, bagaimana dia bisa langsung di proses kan tanpa kami harus membuat laporan lagi?"
"Ya, kalian tidak harus membuat laporan lagi karena kasusnya sebenarnya sudah harus diproses bersama dengan Abimana, hanya saja masalah kesehatan saudari Ghea yang membuat proses ini terhambat. Apa kalian membawa surat keterangan dari dokter mengenai kesehatan saudari Ghea?"
"Ya tentu saja kami membawa surat keterangan mengenai kesehatan dari Ghea," jawab Amanda sambil memberikan sebuah surat pada polisi tersebut.
"Baik, terimakasih."
"Kami permisi pulang dulu Pak Polisi."
"Silahkan."
Amanda dan Rayhan kemudian keluar dari kantor polisi tersebut. Sementara Ghea yang sudah ada di dalam ruang tahanan, kini terlihat mulai sadarkan diri. Perlahan dia pun membuka matanya.
"Astaga, aku ketiduran. Semoga Amanda tetap mengajakku pergi ke salon," kata Ghea sambil membuka matanya. Namun betapa terkejutnya dirinya saat matanya sepenuhnya terbuka dan kini dia berada di sebuah ruangan sempit dengan dinding tembok yang dipenuhi oleh coretan. Dia kemudian duduk dan melihat di depannya ada sebuah jeruji besi.
__ADS_1
"TIDAKKKKKK!!" teriak Ghea saat menyadari dirinya telah berada di dalam sebuah ruang tahanan di dalam kantor polisi.